Luka yang Melebar
Kenapa aku seantusias itu aku ketika bertemu dengan mu ?
Kenapa mataku amat berbinar hanya karena menemanimu sarapan ?
kenapa aku rela telat kuliah perdanaku dan bertahan mendengarkan cerita tak penting itu hanya agar tetap berlama-lama denganmu ?
kenapa aku rela menghabiskan malam-malam dengan panggilanmu yang tiba-tiba datang tanpa rencana ?
kenapa ? kenapa ?
jawabannya hanya 1
sejak pertemuan pertama, sejak aku memastikan sesuatu padamu
karena hanya dengan menatap bola mata kecil dibalik kacamata kotak coklat itu
aku yakin hidupku bisa normal lagi, aku yakin aku bisa sembuh, aku yakin aku bisa bangkit, aku yakin aku memiliki harapan baik.
Maka tak ku terapkan teori untuk tidak berharap pada manusia seperti yang biasa kulakukan pada semua orang didunia ini sejak pertama denganmu.
Aku langsung menjatuhkan harap, aku langsung ber angan banyak, aku langsung menumpahkan segalanya hanya dengan berbicara ber jam-jam itu denganmu.
kau orang pertama yang membuat aku percaya bahwa aku bisa bangun sekali lagi,
kau orang pertama yang membuat aku percaya hanya karena menatap mata yang tidak indah itu, tatapan biasa saja itu, bahwa aku bisa sembuh
kau banyak mendapat pengecualianku sejak awal,
kau banyak mendapat toleransiku
tapi, mengapa itu tak membuatmu bertahan? bersabar ? mengenaliku sekali lagi, memberikan waktu untuk kita lebih lama sedikit lagi.
kau malah memilih usai padahal kita belum sempat mulai.
Aku kira tidak akan sesak rasanya, tapi ternyata tidak.
Kepergianmu tetap menyakitkan, pamitmu itu tetap menyesakkan.
Kau sekali lagi membuatku malam ku terjaga hanya karena menangisi kepergianmu yang mengapa-nya aku tak pernah tahu.



















