Jadi inget waktu dulu ngajar di kampung suka ngajarin ke anak-anak, kalau belajar saya suka ngasih contoh hal-hal sederhana tapi terkait dengan kehidupan nyata, dan ngga jarang juga mereka menuntut minta soal yang ada di buku pelajaran. But, i think life is more than is in the book. Dan itu yang terpenting menurut saya. Jadi, pernah suatu ketika saya tanya "Kota mana yang ingin kalian kunjungi di masa depan?" Anak laki² pada umumnya menjawab ingin ke Jakarta, Bandung, Yogyakarta untuk bertemu pemain bola idola mereka atau sekedar melihat gedung² pencakar langit khas perkotaan Namun, jawaban yang paling bikin saya speechless adalah jawaban seorang anak perempuan yang bernama Santi. Ketika saya tanya "Santi mau ke mana?" Ia menjawab, "Saya mau ke kalimantan bertemu Ayah dan Ibu, Pak." Santi adalah anak perempuan pertama di keluarganya. Ia memiliki dua adik. Kabarnya adik bungsunya mengidap kelainan jantung, Santi dan adik²nya dirawat neneknya. Ayah dan Ibunya entah kemana pergi merantau ke Kalimantan dan belakangan saya dengar justru sudah di Malaysia menjadi TKI. Namun, yang ia pahami bahwa Ayah Ibunya sedang merantau mencarikan mereka nafkah untuk membiayai si bungsu yang sedang sakit. Tapi saya teramat yakin, Santi beserta adik²nya adalah anak² kuat. Mereka tumbuh dengan tempaan hidup yang luar biasa. Mereka juga tidak kenal kata menyerah. Paling tidak mereka tidak menyerah menunggu kedatangan Ayah dan Ibu mereka di pintu rumah. Walaupun kedatangan itu adalah ketidakpastian. Ketidakpastian yang nyata. Itulah kehidupan, yang saya yakini sekolah kehidupan di sediakan Tuhan di mana pun. Bukan hanya sekolah yang jika kita ingin belajar harus memakai seragam. Di sini, di rumah ini, di hati ini, semoga bisa menjadi ruang untuk sekolah kehidupan bagi Santi, adik²nya dan teman²nya. #daily_rio #moddygrams #streetphotography #streetmania #picturepower (di Stadion Widya Manggala Krida)