Seni dan Psikologi
Mereka mengubah marah menjadi sebuah cerpen. Mengubah rasa sedih menjadi kartun. Mengubah perasaan patah hati menjadi puisi. Mengubah rasa cinta menjadi lukisan taman bunga mawar yang indah.
Berpuluh-puluh tahun yang lalu, Sigmund Freud, mengeluarkan teori tentang Mekanisme Pertahanan Diri. Mekanisme pertahanan diri ini, menurut Freud, merupakan salah satu cara agar kita tak perlu menghadapi ledakan-ledakan emosi secara langsung dan juga sebagai cara untuk mempertahankan diri sendiri dari kecemasan yang mengikuti dorongan-dorangan tersebut.
Mekanisme pertahanan diri yang dikemukakan oleh Freud diidentifikasi menjadi 7: represi, proyeksi, pembentukan reaksi, pengalihan, fiksasi, regresi, proyeksi, introyeksi dan sublimasi.
Sekarang, aku akan membahas mengenai sublimasi.
Sublimasi (Feist & Feist, 2010) adalah represi dari keinginan-keinginan id dengan cara menggantinya ke hal-hal yang bisa diterima oleh orang lain secara kultural ataupun sosial. Hasil dari sublimasi ini mempunyai nilai sosial dan nilai etestika yang tinggi (Sarwono, 2010). Mereka yang melakukan sublimasi biasanya adalah mereka yang berada dalam dunia seni. Para pelukis, sastrawan, kartunis dan lain sebagainnya.
Banyak karya seni yang merupakan proses sublimasi. Pernah dengar asal muasal pembuatan kartun Rugrats? Jika teman-teman pernah menonton kartun The Rugrats pasti tahu karakter perempuan bernama Angelica. Sebenarnya kartun ini merupakan khayalan dari Angleica yang sudah mengidap penyakit mental semenjak umur 3 tahun.
Pernah juga saya bertanya kepada teman yang sering membuat cerpen bagaimana cara memulai membuat cerpen. Teman saya memberikan tips ala dia jika dia sedang merasa marah, maka ia tuangkan marahnya tersebut menjadi sebuah cerpen.
Dari dua contoh diatas terlihat proses sublimasi. Mereka mengubah apa yang mereka rasakan, mengubah dorongan id mereka menjadi sesuatu yang artistik, menjadi sesuatu yang bisa diterima oleh orang lain.
Saya pun melihat itu di tumblr. Penulis-penulis di tumblr, mengubah rasa sedih menjadi sebuah puisi, mengungkapkan rasa cinta menjadi cerita. Mereka mengubahnya menjadi sesuatu yang baik dan dapat diterima oleh orang lain. Sehingga dorongan dari dalam diri menjadi tersalurkan meskipun tidak secara langsung.
Jadi, siapa saja disini yang melakukan sublimasi? Mari bersublimasi dengan cara yang baik. Mana tahu sublimasimu bisa menjadi ladang kebaikan dan kesenangan yang tidak hanya untuk diri namun juga orang lain. :)
















