Sedikit Tentang Suku Bugis dan Ust. Anis Matta
Indonesia merupakan negara yang kaya akan kebudayaan dan tradisi daerah. Terang saja, tak kurang dari 1128 suku mewarnai kehidupan berbudaya di Indonesia, bahkan diperkirakan masih banyak suku-suku yang belum ditemukan. Setiap suku memiliki kebudayaan yang khas. Salah satunya adalah suku Bugis-Makassar yang dominan di daerah Sulawesi Selatan.
Saya tertarik untuk membahas sedikit tradisi suku Bugis-Makassar ini setelah membaca profil Anis Matta, Lc., seorang tokoh pergerakan Islam di Indonesia yang kini tengah menjabat sebagai Wakil Ketua MPR RI (periode 2009-2014). Karakter, ide, dan ceramah Anis Matta yang selalu tampak "Wow" bagi saya boleh jadi banyak sekali dipengaruhi oleh latar belakang sosial budayanya. Karena itulah saya penasaran, bagaimana seorang Anis Matta dibesarkan di sebuah lingkungan berlatar belakang Bugis-Makassar.
Bagi sebagian orang, suku ini terkenal dengan tradisi siri' dan pinisi-nya. Ada juga yang mengatakan bahwa tradisi kehidupan orang Bugis-Makassar berputar-putar pada tiga hal yang terikat satu sama lain dan membentuk karakter serta kehormatan suku ini secara menonjol. Tiga hal tersebut ialah siri', pesse/pace, dan Syara (syari'at Islam).
Siri' adalah harga diri, martabat orang Bugis sebagai seorang manusia. Makna siri' sangat penting bagi kehidupan mereka. Demi siri' mereka berani berkorban. Mempertahankan hidup demi siri' adalah prinsip hidup mereka. Oleh karena itu, bagi mereka pantang sekali mengalami mate siri' (kehilangan harga diri). Bila pun harus terjadi, maka satu-satunya jalan yang akan membebaskan mereka dari aib hanyalah kematian. Bagi mereka, mati karena siri' adalah mati terhormat.
Konsep ini terus menerus diwariskan dari generasi ke generasi melalui berbagai cara, terutama melalui proses pendidikan di keluarga.
Siri' juga sekaligus mencerminkan eksistensi setiap kelompok kekerabatan, yakni bagaimana sebuah kelompok bisa ikut merasakan suasana batin sekaligus turut membantu menanggulangi masalah siri' yang menimpa kerabat mereka. Suasana batin ini disebut pesse, yaitu perasaan perih dalam hati karena timbulnya keadaan yang menyebabkan martabat atau harga diri kaum kerabat ternoda. (Anis Matta; ix) Pesse juga berarti sikap senasib-sepenanggungan terhadap sesama manusia.
Jika siri' menjadi prinsip hidup yang lebih bersifat personal, pesse menjadi prinsip lain yang membangun solidaritas kelompok. Kekerabatan yang diikat oleh pesse sangat kuat, bahkan bisa sampai melampaui ikatan terhadap kerajaan. Tidak heran jika pada zaman penjajahan dulu, pesse menjadi kekuatan yang paling menakutkan bangsa asing.
Selain siri' dan pesse yang menjadi dua kekuatan penjaga martabat diri sendiri dan kelompok yang paling ampuh suku Bugis, ada kekuatan ketiga yang jika kita membaca sejarahnya, telah cukup lama mengatmosfir di Sulawesi Selatan. Kekuatan tersebut adalah Islam.
Masyarakat Bugis telah sejak lama bersungguh-sungguh berpegang teguh pada ajaran Islam. Ketika pemerintahan model kerajaan masih berlangsung di daerah ini, Islam bahkan diterima secara resmi sebagai agama kerajaan. Pola islamisasi ini berbeda dengan yang terjadi di kerajaan lain, misalnya di pulau Jawa yang dimulai dengan 'desakan' dari rakyatnya baru kemudian raja-raja dengan 'terdesak' menerima Islam.
Selain tiga kekuatan di atas, masih ada satu kekuatan lagi yang paling membekas di hati saya. Kekuatan atau tradisi ini mungkin lebih dikenal daripada tiga tradisi di atas. Ialah pinisi.
Seperti kita ketahui, pinisi adalah perahu khas Sulawesi Selatan. Meskipun sederhana dan biasanya terbuat dari kayu, pinisi sering digunakan bangsa Bugis untuk mengarungi samudera sehingga mereka pun dikenal sebagai bangsa yang piawai dalam berlayar. Dalam konteks ini, hal yang menarik untuk diketahui adalah filosofi yang terdapat di balik tradisi pinisi ini, yakni perlunya keberanian dan ketegaran dalam menghadapi berbagai tantangan. Di samping itu, pinisi juga mencerminkan bahwa di balik kesederhanaan ada kekuatan besar yang tersimpan.
Itulah sebagian kecil tentang tradisi suku Bugis-Makassar. Dengan latar belakang sosial seperti itulah seorang Anis Matta dibesarkan. Tak heran, ya, jika beliau menjadi seperti sekarang. :applause
Terinspirasi dari sebuah pengantar dalam buku H.M. Anis Matta berjudul "Dari Gerakan ke Negara"
Gambar : www.balleride.com