suntik dulu yaaa.. josssss maknyesss!
siang itu, matahari tertawa riang beriringan bersama sang angin melambai-lambai pada sebuah pohon besar di sekolahku, terasa sejuk merasuk jiwa tapi rupanya keceriaan itu tak kurasakan pada hari itu, dengan bibir pucat, mata sayup dan badan luyu, aku siswa kelas 1 SD ini mengalami ketakutannku akan suatu hal yang dianggap tabu, sesuatu hal yang dianggap ngeri, saat deretan teman-temanku mulai satu persatu memasuki ruang uks, aku hanya terdiam bisu menikmati sepoyan angin disiang ini menikmati setiap peredaran darah yang tak kunjung sampai ke kepala hingga daerah kepala kekurangan oksigen berefek pucat pada sekujur muka anak kecil ini.
****
"haniii..... bagian hani ke uks?" ucap guruku, dengan kepucatan ini aku mulai tersadar lamban laun nama itu akan disebut lamban laun cuman dalam menghitung menit nama itu akan disebut ya nama "yuni dara pramita" akan disebut, tak biasanya si gadis kecil ceria hari itu murung sejadi-jadinya seperti anak kucing yang susah buang hajat semurung itu terlihat jelas di muka gadis kecil ini.
"yuni.. yuni ada ? giliran yuni" aku mulai ketakutan ya itu namaku disebut hanya ada satu nama yuni dikelas ini, dengan lemah lunglai dan tak bersinergis aku berjalan dituntun seorang guru bernma "bu euis" perawakan berisi ya lumayan gendut tapi sangat baik, saat angin masih membawaku kedalam lamunan siang itu, aku bertanya pada temanku "he oge nyeri ?" ucap mulut mungilku "henteu da siga digegel sireum ieu mah" ucap temanku "endah teu bohong kan" ringkikan suarku "henteu" , bu euis mulai berbicara cerewet kepadaku "teu nanaon chu, siga dicocol sireum da ieu mah, jangan tegang ih mukanyna udah pucat".
perlahan aku melihat pintu itu seperti neraka dengan api berkobar-kobar siap melalap tubuh mungilku, mulai mendadahiku dan seolah-olah berkata "sini cepat nak, sini cepat" .. tuk tuk tuk suara sepatuku berlahan memasuki pintu itu, sudah ada 2orang berseragam putih dan bermasker memegangi sebuah jarum suntik yang disentil sentil suntikannya..
DAN
saraf-saraf tak sadar mulai bekerja secara sinergis menyampaikan nya ke otak hingga akhirnya aku berteriak sejadi-jadinya diruangan itu "aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaah embung disuntik embuuung disuntik" , ya aku mulai berteriak saat aku melihat si mungil jarum suntik di depanku, suasana mulai panik bapak ibu guru mulai gelisah, ruangan itu yang asalanya tampak sepi kini mulai dikerumbuni siswa dan orangtua murid, seiring suasana mulai panik seiring itupun aku mulai berontak, satu guru mulai memegangi tanganku "tenang chu tenang teu nyeri da" ucap bu euis, aku berontak hingga akhirnya ibu euis kewalahan menghadapi tubuh kurusku, sekarang alhasil tubuh kecil ini dipegangi dua orang guru berawak berisi dan denagn mata melotot memegang erat kedua tanganku, "aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaah embung disuntik embuung disuntik ibu guru geloo embuuung disuntik" suarku terdengar nyaring dan cempereng mengisi ruang ini yang tampak mulai riuh dilihat banyak orang,
"auuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu" suara kesakitan terdengar dari seorang guruku yang memegangiku, bukan berarti sang dokter salah suntik ke guruku melainkan gini ceritanya : saking takutnya aku disuntik ketika teriakanku tidak berdampak apa-apa aku mulai berpikir cerdas nakal bagaimana caranya biar semua ini tidak terjadi, maka ide jahat pun muncul begitu saja hahah akhirnya aku pun menggigit lengan ibu guru olahraga yang memegangi lengaku hingga berdarah cuy bayangkan gigitan itu gigitan seorang anak kecil berperawakan kurus dengan gigi susu yang tajam dapat mengggit sampai hampir berdarah.
****
akhir cerita kedua guruku menyembunyikan kepalaku kebelakang tangan bu euis, aku disuntik di daerah telunjuk tangan , saat saat terakhir suasana neraka itu guru olahraga yang tadi kugigit berkata "tuh kan yun gapapa gasakit kan ? hehe" suar senyum itu membuatku sebal dan dalam hati aku berkata "teu nyeri kumaha bu, tempo tah tanagn mungil aku berdarah" aku bergumam dalam hati sambil meng-emut tanganku yang tadi disuntik
****
rupanya cerita itu seperti angin berhembus cepat seperti ceritaku disekolah sudah mulai terdengar dan sampai ke telinga mamahku, ya ibu-ibu yang anak nya satu sekolah denganku bercerita kepada mamahku "bu yono, tadi mah nya si uchuu saking mebung disuntik ngagegel ibu guruna, hahaha eh ai tos disuntik jari na di-emut we terus aya aya wae kalukana hahaha" ibuku hanya tersenyum malu mendengar cerita-cerita sambil mungkin dia bergumam dalam hati "anduiiing anak saha eta meni bangor-bangor teuing"
****
kulihat sawah dari atas sini, hijau membentang, kulihat langit biru sangat luas, kulihat satu cerita ini menjadi memori epik masa kecil yang tak mudah terlupakan bagiku, bagi orang tuaku, dan bagi guruku, kadang kita menakuti sesuatu yang yang belum kita rasakan, dan usia dewasa ini aku ingin menjadi dokter menjadi posisi yang dulu menyuntikku.














