Nad, sudah lama sebenarnya aku ingin menulis tentang kamu. Banyak kejadian yang mungkin membuat aku ingin menulis tentang pertemanan kita.
Ini tulisanku tentang kamu beberapa bulan yang lalu :
Beberapa hari yang lalu, tepat pada hari Jumat tanggal 24 Maret 2017, sepulang kegiatan di kampus, saya akhirnya mengumpulkan niat saya untuk berbicara kepada Nada. Sebenarnya niat berbicara ini sudah lama ada, dan saya juga makin terpacu sejak saya berbicara dengan Yulan. Yulan membuat saya kagum. Berbicara jujur, di depan banyak orang itu tidak mudah, apalagi mengenai hal yang bagimu terlalu personal. Dan dia bisa melakukan itu, dia adalah salah satu sahabat saya yang berani untuk mencoba, dan itu kualitas yang baik untuk seorang manusia.
Kembali berbicara tentang Nada.
Nada adalah salah satu teman baik saya, bahkan saya bisa berkata bahwa dia adalah sahabat saya. Dia sudah menemani saya sejak kami semester 1, kami dikenalkan oleh Saul (planetnyasimars.blogspot.com) dan sejak saat itu berteman. Tapi kami baru dekat sekali sejak semester 3, dan itu merupakan sebuah perubahan mengingat saya, Abel, dan Saul selalu bertiga meskipun ada teman lainnya. Terlepas dari kami berteman baik, saya selalu merasa jauh dengan Nada, dan inilah yang menjadi topik pembicaraan kami Jumat malam itu.
Kami berada di kamar, duduk bertiga, sementara di luar teman-teman kami yang lain sedang asyik bercengkrama dan berkumpul. Ini merupakan sebuah momen kebetulan, dan di hari itu juga saya akhirnya merasa jenuh saya sudah penuh.
Saya berkata jujur pada Nada :
“Nad, saya kadang merasa kalau kamu hanya mau berteman sama Saul dan Abel.”
Dia terdiam lalu menjawab :
“Kalau aku, malah merasa kalau Rara itu perlakuannya beda kalau ke Abel sama Saul. Jadi aku juga gitu ke Rara.”
Saya pun merenungkan jawabannya, mungkin itu betul terjadi. Tapi bukan hanya saya yang begitu, sejak dulu Abel pun begitu karena mungkin kami selalu bertiga dan sulit untuk menerima orang lain tetapi Abel bisa dengan mudah tidak menunjukannya sementara saya tidak. Nah itulah yang menjadi permasalahannya, padahal saya merasa bahwa saya sudah banyak berusaha untuk menjadi teman baik Nada. Untuk menjalin hubungan yang baik dengan teman-teman saya, tapi sikap saya yang seakan tidak peduli itulah yang menjadikan mereka kebingungan dengan saya. Padahal saya bukannya tidak peduli, tapi saya tidak bisa menunjukan kepedulian saya seperti orang-orang lain. Kalau saya lebih berani marah kepada orang, artinya saya lebih menyayangi mereka, karena saya pikir mereka sudah mengerti bagaimana saya. Rupanya saya salah, dan saya harus bicara langsung supaya mereka mengerti.
Saya dan Nada sudah berjanji untuk mencoba memahami satu sama lain, dan ini mungkin merupakan awal yang baru bagi kami.
Semoga tidak ada lagi kesenjangan di antara kami sebagai sahabat. Saya tidak mau toh ditinggalkan sendirian, saya manusia dan manusia adalah makhluk sosial.
Saya rasa, saya meminta maaf pada siapapun itu yang tersinggung dengan kata-kata saya, karena saya tidak bermaksud untuk menyakiti hati kalian. Saya orangnya ceplas-ceplos, bahkan kadang tidak dipikir kalau ngomong, jadi maafkan saya.
*Tulisan di atas terakhir disunting pada 19/05/2017 21:49.
Sudah cukup lama sejak pembicaraan kami di bulan Mei itu, sekitar 4 bulan telah berlalu. Dan sekarang saya kembali merasakan hal yang sama, padahal saya pikir sudah tidak ada kesenjangan di antara kami. Saya sudah berusaha untuk semakin membuka diri saya pada dia, dan saya pikir nada juga demikian. Tapi beberapa kejadian, terutama pagi ini membuat saya berpikir kembali : saya sudah berusaha tapi toh pada akhirnya saya tidak bisa menjadi seorang yang dianggap bisa ia percaya untuk bercerita dan lain hal. Saya tidak memaksanya untuk bercerita pada saya, kalau memang toh Nada lebih nyaman untuk bercerita pada Abel dan Saul atau bahkan Helmi, ya sudah berarti saya belum cukup untuk dia. Hanya saja, hal tersebut menyakiti saya hehe. Tapi tidak apa, saya akan baik saja seiring berjalannya waktu.
Lalu untuk hubunganmu dengan Helmi, Nad.
Sebagai seorang teman, terserah kamu mau mendengarkannya atau tidak, aku hanya ingin mengatakan bahwa :
Kurasa Helmi adalah seseorang yang bisa menjaga kamu, seorang yang menyayangi kamu dengan hatinya. Aku tahu betul sayangnya dia pada kamu itu seperti apa. Aku cukup tenang karena mengetahui kalau kamu berada dalam hubungan dengan orang yang aku kenal dengan baik, yang bisa kupercayakan untuk tidak membawa kamu kepada hal-hal yang buruk. Nad, jaga perasaanmu untuknya karena mungkin kalian akan tumbuh bersama menjadi sepasang orang yang saling menjaga dalam suka maupun duka. Lalu Nad, dalam sebuah hubungan itu ada dua orang, keduanya bertanggung jawab untuk mempertahankan hubungan tersebut. Untuk mempertahankannya, cobalah untuk membuka matamu dan memandang suatu permasalahan itu dari perspektif yang lain, singkatnya : berhentilah menjadi egois dan memonopoli hubunganmu. Nad, itu semua aku katakan bukan untuk menjatuhkan kamu atau membuat kamu merasa tidak enak, tapi mungkin nasihatku ini bisa membantu kamu nantinya dalam hubunganmu. Karena kalian berdua itu temanku, teman yang sama-sama kusayangi, tolonglah untuk saling menjaga.
Lalu untuk pertemanan kita :
Jangan sungkan padaku, aku temanmu.
Yah, semoga aku bisa menjadi teman yang baik ke depannya.