seen from China
seen from China
seen from United States
seen from T1

seen from Malaysia
seen from United States

seen from Poland
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United Kingdom

seen from United States
seen from United States
seen from Malaysia
seen from United States
seen from Singapore
seen from Ukraine
seen from Singapore
seen from China
seen from United States
#53TahunSupersemir
Download versi BW: https://drive.google.com/open?id=1XTnC5u2zPi3MTFhvzbfqLHCcwLAoXpHa
View On WordPress
#53TahunSupersemir
Download versi BW: https://drive.google.com/open?id=1XTnC5u2zPi3MTFhvzbfqLHCcwLAoXpHa
View On WordPress
Double 💕 Wedding #jakarta #doublewedding #muslimweddingdress #weddingdress #akadnikah #akid #weddinghijab #supersemar #11Maret2018
Becoming blue Ice Princess in one for the grayish prince. 😜😜😜 #myweddingdress #weddingdress #11Maret2018 #supersemar #wedding #weddinggown #bluemint (at Angkasa Pura Airports)
"Kalau ada yang mengatakan Bung Karno dibunuh pelan-pelan, ya yang mengurungnya itu yang melakukannya." ~ Mahar Mardjono #supersemar #sejarah #ordebaru #bungkarno #soekarno #soeharto #korupsi #melawanlupa #orba #politik #indonesia #nkri #sukarno #propaganda https://t.co/NxTGFYj3VD
"Smoking Gun" #Supersemar #PosterNobodycorp
Jangan Lupakan Sejarah! Simak Fakta Penting Supersemar 11 Maret
MALANGTODAY.NET – Pada tanggal 11 Maret, setiap tahunnya selalu diingat sebagai hari keluarnya Supersemar atau Surat Perintah 11 Maret. Hingga Presiden Soeharto meninggal dunia, kebenaran dari surat perintah tersebut belum terungkap. Masih ingat dong sama istilah Supersemar? Yap! Supersemar atau Surat Perintah 11 Maret adalah surat perintah yang berisi instruksi untuk Presiden Soeharto, selaku Panglima Komando Operasi Keamanan dan Ketertiban (Pangkopkamtib) pada saat itu, untuk mengambil segala tindakan yang bisa meredakan situasi keamanan yang buruk pada waktu itu. Hingga kini, kebenaran dan keberadaan Surat Perintah 11 Maret ini masih menjadi misteri. Walaupun begitu, kita sebagai warga negara Indonesia, tidak boleh melupakkan peristiwa tersebut. Biar kamu ingat-ingat lagi, yuk simak fakta penting dari Supersemar alias Surat Perintah 11 Maret! Baca Juga: Jadi Puteri Indonesia 2018, Ini 5 Fakta Tentang Sonia Fergina Citra! 1. Tiga versi Sangat mengejutkan sekali ketika kita mengetahui bahwa Supersemar yang beredar di buku-buku sejarah adalah palsu. Ya, nggak ada yang tau mana surat yang asli sampai sekarang. Menurut sejarawan Indonesia, ada tiga versi dari surat ini, yaitu versi Sekretariat Negara (ada dua lembar, berkop Burung Garuda, diketik dan bertandatangan Presiden Sukarno), versi Pusat Penerangan TNI Angkatan Darat (AD) (berkop Burung Garuda, ketikannya tidak rapi dan atas nama Presiden Soekarno), versi misterius (tidak berkop dan hanya berupa salinan, serta tanda tangan Presiden Soekarno tampak berbeda dari versi pertama dan kedua). [caption id="attachment_196406" align="aligncenter" width="1068"] Supersemar arsip Pusat Sejarah dan Tradisi TNI (Istimewa)[/caption] [caption id="attachment_196403" align="aligncenter" width="1068"] Supersemar versi TNI AD dan versi lainnya, lihat perbedaannya! (Istimewa)[/caption] [caption id="attachment_196409" align="aligncenter" width="1068"] Supersemar versi Presiden RI (Istimewa)[/caption] Terus mana yang benar? Arsip Nasional Republik Indoesia pun masih belum bisa memecahkan misteri ini. 2. Asal-usul tanda tangan Soekarno Nggak ada yang tahu pasti apakah Soekarno menandatangani Supersemar atau tidak. Sejarah hanya mencatat bahwa Soekarno dilarikan ke Bogor setelah sidang kabinet 11 Maret 1966 di Jakarta. Ia dilarikan ke Bogor karena setelah sidang kabinet selesai, Jakarta dikepung oleh pasukan liar yang diduga adalah Pasukan Kostrad dibawah pimpinan Mayor Jendral Kemal Idris. Ketika berada di Istana Bogor, berbagai spekulasi pun muncul. Mulai dari Soekarno didatangi oleh tiga Jenderal dan ditodong untuk menandatangani Supersemar, hingga kesaksian pengawal kepresidenan Letnan Satu Sukardjo Wilardjito yang mengatakan bahwa ada empat Jenderal yang datang, bukan tiga. [caption id="attachment_196412" align="aligncenter" width="1068"] Istana Bogor (Istimewa)[/caption] Namun yang publik ketahui pasti, tiga Jenderal yang diketahui menyambangi Presiden Soekarno ke Istana Negara, yaitu Brigadir Jenderal M. Jusuf, Brigadir Jenderal Amirmachmud dan Brigadir Jenderal Basuki Rahmat, sudah mengantongi Supersemar ketika kembali ke Jakarta. Baca Juga: Rombongan Lamborghini Kecelakaan, Salah Satunya Punya Hotman Paris! 3. Kesaksian Sukardjo vs Brigadir Jenderal M. Jusuf Peristiwa apa yang terjadi saat Brigadir Jenderal M. Jusuf, Brigadir Jenderal Amirmachmud dan Brigadir Jenderal Basuki Rahmat masih abu-abu. Namun, Sukardjo mengaku bahwa Soekarno ditodong pistol dan dipaska menandatangani Supersemar. Dan ada empat Jenderal yang datang, Jendral keempat yang dimaksud adalah Brigadir Jenderal M. Panggabean. [caption id="attachment_196418" align="aligncenter" width="1068"] Letnan Satu Sukardjo Wilardjito menuangkan kesaksiannya melalui buku Mereka Menodong Bung Karno (Istimewa)[/caption] Langsung saja, pengakuan ini dibantah oleh Brigadir Jenderal M. Jusuf. Selain membantah melakukan penodongan, M. Jusuf juga mengatakan bahwa hanya ada tiga utusan yang mendatangi Presiden pertama Republik Indonesia itu. Sukardjo juga mengatakan bahwa setelah menandatangani Supersemar, Soekarno mengatakan bahwa dirinya harus keluar dari istana dan Sukardjo harus berhati-hati. 4. Bukan surat pemindahan kekuasaan [caption id="attachment_196421" align="aligncenter" width="1068"] Bung Karno (Istimewa)[/caption] Menurut catatan yang beredar, Surat Perintah 11 Maret merupakan surat pemindahan kekuasaan dari Presiden Soekarno ke Presiden Soeharto. Tapi, Bung Karno sendiri menegaskan dalam pidatonya di tanggal 17 Agustus 1966, bahwa surat itu hanya surat perintah. Bukan surat pemindahan kekuasaan Republik Indonesia. Bung Karno juga menerbitkan surat perintah 13 Maret untuk menganulir Supersemar yang diduga menjadi sumber pemberantasan PKI pada saat itu. Baca Juga: Ohalah, Ternyata Ini Alasan Chika Jessica Hengkang dari Hitam Putih 5. Pengetik Supersemar Berdasarkan catatan sejarah, banyak orang yang mengaku mengetik Supersemar, salah satunya adalah Letkol (Purn.) Ali Ebram yang merupakan seorang perwira Cakrabirawa. Dirinya mengaku melakukan pengetikan Supersemar didampingi langsung oleh Presiden Soekarno. Tapi, sejarahwan Irlandia, Benedict Anderson mencatat bahwa kesaksian perwira lain yang mengatakan kalau Supersemar ditulis diatas kertas berkop Markas Besar Angkatan Darat. Jadi artinya, proses pengetikan tidak didampingi oleh Bung Karno. 6. Supersemar di TAP MPRS Setelah kekuasaan Bung Karno diambil alih, bapak pembangunan itu pun diasingkan dari dunia politik. Ia dilarang membaca koran dan mendengarkan radio. Kunjungan keluarga dan layanan kesehatan pun dibatasi. Sementara itu Soeharto membangun masa kekuasaannya dengan menetapkan Supersemar dalam TAP MPRS No. IX/MPRS/1966. [caption id="attachment_196427" align="aligncenter" width="1068"] Ilustrasi MPRS (Istimewa)[/caption] Baca Juga: Setelah Tiba-tiba Menghilang, Bos Matahari Mall Meninggal Dunia 7. Bungkamnya sejumlah saksi Hingga memasuki era 2000-an, ada dua saksi yang masih bungkam, yaitu Jenderal (Purn.) M. Jusuf dan Presiden Soeharto. [caption id="attachment_196430" align="aligncenter" width="1068"] Jenderal (Purn.) M. Jusuf dan Presiden Soeharto @ MalangTODAY.net[/caption] Berbagai upaya sudah dilakukan oleh Arsip Nasional Republik Indonesia untuk meminta keterangan M. Jusuf, tentang apa yang terjadi di Istana Bogor. Bahkan, pihak lembaga tersebut sudah meminta bantuan dari berbagai pihak, mulai dari Menteri Sekretaris Negara Muladi, Wakil Presiden Jusuf Kalla dan M. Saelan. Namun, panggilan lembaga ini tidak digubris oleh M. Jusuf hingga akhir hayatnya pada 8 September 2004. Begitu pula dengan Presiden Soeharto yang benar-benar bungkam dengan peristiwa tersebut. Tak satupun pejabar Orde Baru atau keluarga Soeharto membeberkan tentang misteri secarik kertas tersebut.
Source : https://malangtoday.net/rubrik/story/fakta-penting-supersemar-11-maret/