Surat untuk Kartini
Surat untuk perempuan yang telah berjuang dengan penuh ruam,
Menelisik setiap aksara yang sudah aku taburkan kepada dunia, mungkin sudah saatnya aku meninggalkan sosok yang sudah berpura-pura kuat terhadap aksara yang selama ini mengantarkan aku kepada pribadi yang berbeda. Bingkaian palsu yang terkonstruksi secara natural, mengantarkan aku kepada sosok yang tidak pernah aku kenal sebelumnya.
Detik demi detik sudah terlewati, genggaman yang sudah berpegang pada janji pun sudah secukupnya menjadi hambatan bagi diri sendiri. Semua komitmen yang sudah terhiasi oleh semua rasa yang bersinar — pada akhirnya berganti menjadi sesuatu yang patah dan tidak pernah tumbuh menjadi rasa yang bersemayam semestinya.
Melewati masa kelam dengan berdiri di atas kaki sendiri pun sudah menjadi aktivitas rutin bagi diriku sendiri. Mungkin, sudah waktunya aku melangkah dan menaklukan dunia dengan genggaman tanganku sendiri. Tapi, pada akhirnya aku memikirkan sesuatu yang menjanggal dalam diri aku sendiri. Apakah pada akhirnya, kesendirian tersebut akan menjadikan aku pribadi yang egois? Ataukah hal tersebut malah menjadikan aku sosok perempuan yang akan lebih mengeksplorasi keadaan sekitar tanpa diintervensi oleh orang lain?.
Rasa yang telah lama pudar pun rasanya sudah kadaluarsa dan sudah mati digenggaman tangan seseorang — yang entah disimpan dimana dan pastinya aku tidak bisa menemukannya. Pada akhirnya, diriku sendiri yang akan menjadi jawaban atas kehilangan “jiwa dan raga” yang sudah lama tak kasat mata tersebut.
Sebentar lagi aku akan menginjak umur 20 tahun, tetapi sampai sekarang aku belum menemukan jawaban yang tepat bagi diriku sendiri. Khususnya, untuk ketenangan di dalam diri aku sendiri. Yang mengakibatkan aku menjadi perempuan lemah dan tak berdaya dalam menghadapi rayuan seorang laki-laki — padahal, ia hanya sekadar singgah dan tak berniat untuk menetap selamanya.
Sudah semestinya, aku menjadi pribadi yang lebih kuat dari sebelumnya. Menjadi perempuan yang tidak akan pernah takut dengan kicauan dunia yang berlalu-lalang untuk sekejap saja. Walaupun itu sekadar harapan belaka, aku akan tetap mencari ia yang menjadi obat penyembuh bagi segala penyakit yang sudah tertanam lama di dalam diriku.
“Aku berjanji kepada sosok tersebut, aku akan mencintainya seperti angin yang bertapa pada ketenangan. Aku akan mengasihinya layaknya hujan yang turun di musim kemarau. Dan, aku akan mencintainya untuk segala tarikan satu nafas di setiap sepertiga malam.”
Tertanda,
Niskala.











