Intuisi, intuisiku fana. Dia rela menjabat tangan dengan kabut yang akan pergi jauh oleh hembusan angin tak kasat mata. Intuisiku fana, tak kau tahukah itu?
Saat itu hujan rintik-rintik, langitnya meredup. Kita masih saja setia menjalin asa di atasnya, tapi tak tahu untuk apa. Saat itu, candamu terbias jingga, entah, entah tujuannya apa. Intuisiku fana, kau harus tahu itu.
Tak kau tahukah perbincangan soal masa depanmu itu melelahkan asaku? Karena, karena aku tahu, bukanlah aku yang menjadi bagiannya di sana. Jadi, untuk apa, Tuan? Untuk apa sekarang kita menjalin asa bernaung di antara rintik yang putus asa di senja yang bisu ini? Aku pun tidak tahu, Tuan.
“Aku mencintaimu,” utusmu kala itu. Kala itu rintik-rintik, tapi kau memutuskan sesuatu yang sempurna, tidak merintik, tidak berjeda, lurus saja.
Aku diam saja, kala itu rintik-rintik, tapi sunyiku sempurna, tidak merintik, tidak berjeda, lurus saja. Sunyi saja, kau pun merasakan itu, tapi kau tidak meramaikan sunyi ini.
“Aku mencintaimu,” utusmu kala itu. Kala itu hujan deras, tapi kau memutuskan sesuatu yang menimba keraguan di benakku. Tidak kedengaran yakin seperti hujan deras yang menghantam permukaan dengan sejuta keyakinan serta ketiba-tibaan.
Aku juga diam saja, kala itu hujan deras, tapi sunyiku, Tuan, bisa terdengar lebih keras. Dan kau tidak merasa terganggu karena kenyaringan sunyiku ini. Sunyiku menggumpal di ubun-ubun kepalaku, kau tidak mau tahu.
“Sudahlah, Tatiana. Bertukar kata cinta terus takkan membawa kita ke mana mana,” utusmu kala itu. Kala itu awannya sunyi, matahari tenggelam dalam kelabu sendunya. Kau pun tahu awan sudah sesak menyendu. Matahari juga sudsh putus asa atas sendunya. Tapi kau tak mau tahu.
Aku tidak diam kali ini, aku mendongak dan mengangkat bahuku setinggi yang kukira. “Apa jaminannya jika kita memang mencintai satu sama lain dan kau takkan meninggalkanku atau pun mencampakkanku begitu saja setelah apa yang kita lakukan bersama-sama selama lima tahun ini?” tangisku sudah di pangkal tenggorokan.
Kau menunduk. Ekspresi wajahmu bukan bersedih, melainkan merasa bersalah. Kau merasa bersalah? Soal apa? Soal diriku? Atau soal dirimu yang jelas-jelas sudah tak mencintaiku lagi?
Begitu naif diriku mengira kalau kami akan abadi. Begitu naif diriku. Aku pernah menjadi manusia yang jahat dengan hati remuk. Tidak membantu, hatiku tidak bisa menyatu kembali walau retak. Lebih baik seperti ini, aku tahu hatiku remuk, tapi dengan dirinya, kepingan hatiku bersatu lagi. Memang tidak akan sempurna. Tapi dengan memikirkan bahwa dirinya elok saja, aku sudah merasa sempurna.
Tapi, apakah dia berpikir hal yang sama terhadapku?
Sudahlah, Tatiana. Tidak baik berpikir buruk soal orang lain, kan? Kau mendongak lalu tersenyum. “Tatiana, aku mencintaimu,” utusmu lagi. Setiap hari kau mengatakannya, Sayang. Tapi aku tak merasakannya. Benar-benar kandaskah rasa cinta yang kau bilang tadi?
Namaku Tatiana, aku mencintai seseorang yang bernama Aksara. Aku tidak tahu apa yang selama ini kami lakukan, apa yang selama lima tahun ini kami pertahankan. Tapi aku mencintainya. Dan sialnya, aku menjadi orang yang sangat setia.
Intuisiku fana. Aku tidak tahu, mana yang nyata. Intuisiku rela memeluk kabut yang bisa saja dihembuskan angin kapan pun. Intuisiku fana, tak apa jika kau tak mau tahu, Tuan. Tak apa jika hanya aku yang memendam rasa ini begitu dalam. Aksara, tapi kau tetap yang terindah untukku.
“Aku tak bisa bersama denganmu lagi,” utusmu kala itu. Kala itu hujannya marah, memekakan telinga sekali, petir bersahutan. Kita juga bersahutan, tapi dalam lara.
Aku tidak diam. Aku berbisik pelan, “intuisiku fana.”
“Kata-kata cintaku bukanlah intuisimu, Tatiana,” katamu.
“Intuisimu adalah selalu tentang rasa cintamu kepadaku, dan kau menuntut balasan. Intuisimu adalah itu semua. Bukan kata-kata cintaku,” katamu lagi. Tidak berani menatap mataku. Tidak berani berhadapan denganku lagi.
Kau pergi, tidak ada kata perpisahan. Tidak juga tatapan terakhir kali yang dulu bisa membuatku tenggelam karena matamu samuderaku. Kau pergi, meninggalkanku di halte biru dengan berjuta rasa ketiba-tibaan. Aku diam dengan hampa, mendengar alunan hujan, petirnya mengamuk lagi, tapi kali ini besar sekali. Dan aku masih mengutarakan, “intuisiku fana.”
Masih mengutarakan, “intuisiku fana.” Sebelum hujan reda, aku tahu aku sudah harus bangkit dari halte ini. “Intuisiku fana,” ucapku sekali lagi menatap rintik hujan terakhir yang jatuh. Hujannya mengembik lara, mengeluh jatuh, mengeluh terpecah bulirnya. Jika aku adalah rintik hujan terakhir itu, aku pastikan aku baik-baik saja.
“Aku baik-baik saja,” aku mengulangi. “Intuisiku fana,” aku mengulanginya sampai napasku tenggelam dalam malam.[]
Intuisi adalah cerita pendek yang ditulis di tahun 2017. masa-masa produktif saya menulis. maaf karena jarang update post baru, saya juga tidak aktif ketika lebaran, kalau saya bilang sekarang mungkin sudah basi. tapi Minal Aidzin Wal Faidzin, maaf lahir batin untuk kalian semua.
Terima kasih atas 4,7k followers saat ini. Sangat berharga, dan saya sangat sangat berterima kasih kepada kawan-kawan disini, yang sering juga reblog dan menandai saya di kirimannya. Terima kasih!
queen oktaviani — bogor, 2019.