Kebahagian itu sederhana
Satu tahun yang lalu saat acara heart to heart setelah perpisahan kursus di BEC Pare yang pada saat itu kita berkesempatan untuk bisa bercerita langsung kepada mr calend yang sudah di anggap bapak oleh murid-murid BEC, ada seorang teman yang bercerita hingga menangis tersedu-sedu karena impian besarnya untuk melanjutkan studi ke luar tidak di perbolehkan oleh orang tuanya dan jawaban singkat dari mr calend saat itu membuat saya tertegun dan masih selalu saya ingat sampai sekarang, beliau berkata “apakah titik kesuksesan itu harus menjadi seperti itu?”, kadang saya berfikir bahagia itu adalah sukses, dulu saya berfikir syarat sukses itu menjadi A, mencapai B atau memperoleh C dan seiring berjalannya waktu standart-standart itu pun berubah, menjadi A, mencapai B atau memperoleh C belum tentu itu adalah sukses dan kebahagian sebenarnya untuk kita. kita tidak pernah tahu ke arah mana hidup kita di belokan tetapi kita bisa memilih kebahagian seperti apa menurut versi kita. Dan saat ini bagi saya, sukses dan bahagia itu adalah memiliki perasaan yang mudah merasa bersyukur dan menjadi sederhana yang memiliki kualitas, menjadi sederhana bukan berarti tidak memiliki mimpi yang tinggi hanya saja tercapainya mimpi bukanlah satu-satunya syarat untuk menjadi bahagia. Karena bahagia itu sebenarnya mudah.
Bukankah bisa makan saja sudah cukup membuat bahagia? Kenapa kita mempersulitnya dengan membuat syarat “Harus makanan mewah, harus steak, harus di café ngehits” ?
Bukankah punya mobil juga sudah cukup membuat kita bahagia? Kenapa kita mempersulitnya dengan membuat syarat “Harus mobil mahal, mobil bermerek, mobil kecepatan tinggi” ?
Bukankah bisa kuliah juga sudah cukup membuat kita bahagia? Kenapa kita mempersulitnya dengan membuat syarat “Harus kuliah di kampus ternama, harus kuliah di luar negeri, harus yang kalangannya gaul” ?
Bukankah bisa punya handphone juga sudah cukup membuat kita bahagia? Kenapa kita mempersulitnya dengan membuat syarat “Harus hi-tech, kamera high spec, harus kekinian, harus merek tertentu” ?
Bukankah punya pekerjaan juga sudah cukup membuat kita bahagia? Kenapa kita mempersulitnya dengan membuat syarat “Harus gaji minimal sekian juta, harus di perusahaan itu, kerjaannya harus keren”?
Bukankah punya pasangan baik juga sudah cukup membuat kita bahagia? Kenapa kita mempersulitnya dengan membuat syarat “Harus keturunan anu, harus pekerjaannya itu, harus kayak artis korea” ?
Bukankah ada orang-orang tak bermobil tapi tetap bahagia? Bukankah ada orang-orang yang gajinya cukup tapi tetap bahagia? Bukankah ada orang-orang yang makan seadanya tapi tetap bahagia? Bukankah ada orang-orang yang sederhana hidupnya tapi tetap bahagia?
bahagia itu bukan tentang apa yang kita miliki atau yang kita dapat, tapi bagaimana kita mudah untuk mensyukuri segalanya serta mempermudah syaratnya.
Ya Allah, mudahkanlah kebahagianku terletak pada hal-hal yang sederhana, mudahkanlah hatiku mencintai hal-hal yang sederhana. Jadikanlah kesederhanaan sebagai salah satu alasanku bila nanti jatuh cinta _kurniawan gunadi_
Nganjuk, 27 Maret 2017
@susiannurcahya










