tim terjebak hujan . . #YATScolony #cafecoklat #swaragamafm #yogyakarta #jogjakarta
seen from United States
seen from United States

seen from Malaysia
seen from China

seen from Russia
seen from United States

seen from Russia
seen from South Korea
seen from Brazil

seen from China
seen from Türkiye
seen from South Korea

seen from Italy
seen from South Korea
seen from United Arab Emirates
seen from Türkiye
seen from China
seen from Slovakia
seen from China
seen from South Korea
tim terjebak hujan . . #YATScolony #cafecoklat #swaragamafm #yogyakarta #jogjakarta
Hati Emas
Guruku. Dahulu aku selalu dimarahinya. Aku anak bandel, katanya. Lalu esoknya, aku dimarahi lagi. Aku membuat kawanku menangis, aku lupa alasannya. Orangtuanya datang ke sekolah. Aku dimarahi pula olehnya. Betapa aku anak kecil yang begitu bandel. Aku hanya menunduk waktu itu. Aku takut guruku mendoakanku yang tidak tidak karena aku anak bandel. Namun, tak dinyana, ia malah bergumam, “jangan bandel lagi, ya! Calon menteri harus patuh peraturan!”
Guruku. Aku sudah lama sekali tak menjumpainya. Berpuluh puluh tahun kurasa. Kini aku sedang menuju rumahnya. Aku memendam kenangan lama itu. Tentang guruku yang sabar dalam mendidikku. Meskipun aku bandel setengah mati. Namun ia malah mendoakanku sedemikian hebatnya. Hanya orang berhati emas, yang dapat melakukannya. Tiba-tiba, seseorang di depanku berkata, “Pak Menteri, kita sudah sampai...”. Aku bergegas turun dari mobil. Kudapati seorang pria sepuh yang sedang menyiram tanaman di depan rumah sederhana itu. Kudatangi ia, lalu ia terbengong bengong tak percaya. “Anak bandel!” katanya sambil menangis haru mendekapku, “aku sampai bosan melihatmu di televisi! Kau sungguh hebat, anakku... “. Ah, guruku... Terimakasih atas segala jasa dan doa.
CAPTURE
Capture everything. Is it alright to capture you -whom I admire. A lot. You sit on the chair in this park. There's so much people here. I just don't notice to them. At all. I realize that it is you who caught my sight. You are remarkable. Capture you. Oh what a shame feeling. Though I notice you, but I hope you don't do the same. Ah. I'm hurting now. Seeing someone for realizing that I can't get near to him. Capture you again. You wear the white shirt. You like the casual style. I know you. A lot. Actually. May I capture you again. Or, may I get near to you? So that I don't need to capture you in my camera again. Cuz I will capture you on my mind.
Abadi
MASAKU KECIL. Teh di pagi hari. Makanan sehat yang terhidang di meja. Seragam sekolah merah-putih yang bersih dan licin setelah diseterika. Lalu ibu sibuk mengancingkan baju kami. Ayah sudah berangkat ke kantornya. Kakakku ribut mencari sepatunya. Ibuku sabar meladeni rengekannya. Aku juga minta diperhatikan. Aku ingin disuapi sarapan oleh ibu. Ibu masih sabar juga meladeni permintaanku. Oh ya omong omong, shalat subuhku, waktu itu, masih dibangunkan olehnya.
MASAKU KINI. Teh di pagi hari. Makanan sehat yang terhidang di meja. Ibu duduk dengan tenang sembari ngobrol santai dengan ayah. Ayah masih harus berangkat ke kantornya. Benar adanya, ia tak pernah jemu bekerja. Kakak sulungku tak lagi ribut mencari sepatunya. Hanya aku yang masih membikin sibuk ibu, dengan rengekanku. Aku masih menjadi anak kecil untuknya. Namun di suatu waktu, aku yang selalu memijit kaki ibu di sebelum tidurnya. Di suatu waktu, aku yang memasak sayur bayam kesukaannya, tatkala ibu sakit. Di suatu waktu, aku yang harus menyediakan telingaku setiap saat, untuk mendengarnya bercerita. Di satu sisi, aku tetaplah anak kecil untuk ibu. Aku minta "diurus" untuk hal-hal yang aku tak mau itu lekang. Di sisi lain, aku adalah anak "besar" yang kini harus lebih sering mengurus ibu. Namun kenangan masa kecilku, tak pernah kurobah. Karena aku ingin menjaganya tetap ada, demi cinta yang tak pernah usai, yang diberikannya. Abadi. Dan, oh ya, shalat subuhku pun masih dibangunkan olehnya.
Kutapaki
Kutapaki jalan ini. Meski tak kutahui kemana muara dari semua ini. Yang kuyakini hanya satu : Tuhan akan menuntunku. Dan aku dapat merengkuh makna belajar yang terkandung di dalamnya. Aku tak terlalu mengharap orang lain dapat menolongku secara tulus. Yang kuharap, mereka tak usah ikut campur di kehidupanku yang sudah terlalu melelahkan ini. Jika pun mereka mau menolongku, kuharap itu bukan karena sejimpit pun ada kepentingan mereka di dalamnya.
Aku masih menapaki jalan ini. Tak terlalu kupusingkan perihal mereka yang selalu ingin membuangku. Demi Tuhan jika kalian ingin membuangku, maka lakukanlah. Aku tak peduli. Karena aku pun sungguh mati tak pernah membiarkan hatiku terluka secara terus menerus. Yang kutahu tetap : aku hanya menapaki jalanku. Tuhan yang akan menuntunku. Kalian tak berhak mengatur segala lakuku. Perjalanan ini, ingin kutapaki dengan ikhlas tanpa campur tangan kepentingan kalian. Entah itu bertujuan baik atau buruk. Aku akan menjadi orang pertama yang berterima kasih, jika kalian mengurus kehidupan kalian sendiri. Tak usah coba mengatur segalaku. Tabique!
Mata yang Gelap dan Kanak Kanak
"Harry, kau benar-benar mirip ayahmu. Kau bahkan mewarisi keseluruhan wajahnya. Kecuali matamu... Tentu saja. Kau memiliki mata ibumu." Harry sampai hafal kalimat itu. Ia memang memiliki mata ibunya yang menawan. Semua orang tahu keistimewaan mata tersebut. Apalagi, mata memang indera yang paling menentukan garis wajah seseorang. Mata adalah jendela hati, konon. Mata jugalah yang mempertemukan kita suatu hari ; aku dan kamu. "Apakah kau menggunakan lensa kontak?" tanyamu. Aku terkaget kaget. Memang ada apa dengan mataku? Adakah warnanya berubah? Aku bahkan tak peduli. Yang kutahu, aku punya mata berwarna hitam, juga putih. Aku tak memakai aksesori apapun untuk menunjang penampilan mataku. Karena itu, cukup wajar ketika aku bertanya, "mengapa kau katakan demikian?" | "Kau memiliki mata yang gelap dan kanak kanak..."
Kamar Elsa
“Elsa? Tolonglah keluar dari kamar. Apakah kau tak akan bermain denganku? Apakah kau hanya akan di kamar saja seharian?” Anna sedih bukan kepalang. Kakaknya, Elsa, yang semula adalah pribadi yang asyik menyenangkan tiba-tiba mengurung diri di kamar. Adakah yang salah dengannya? Mengapa tiba-tiba Elsa berubah menjadi orang yang membosankan? Ia tak habis fikir.
Di dalam kamar Elsa merutuki nasibnya. “Pergilah, Anna,” usirnya. Ia memandangi jemarinya yang mengerikan. Ia bisa membunuh orang dengan sedikit kibasan pada tangannya. Sekaligus, ia bisa menciptakan gumpalan es salju yang menakjubkan. Sihir memang seperti pisau adanya. Tapi, Elsa masih sekecil itu untuk memiliki kekuatan yang begitu besar. Ia butuh waktu untuk mengendalikan semuanya. “Pergilah, Anna. Aku tak ingin menyakitimu...” Begitu ucapnya pada Anna tiap Anna mengetuk pintu kamarnya, bertahun-tahun. Kelak kamar itu yang akan menjadi temannya, untuk bertahun-tahun pula. Ia terpenjara oleh kekuatannya. Ia membenci dirinya.
Mengalihkan Duniaku
Aku meluluh melihat senyummu. Entah senyum bahagia, senyum sedih, senyum gusar, senyum lapar, senyum manja... Aku suka senyummu yang bersahaja. Tak tampak kepentingan didalamnya.
Sekali lagi, aku meluluh melihat senyummu. Senyum yang tak kutemu pada siapapun. Senyum yang buatku merasa istimewa. Senyummu, Anakku, mengalihkan duniaku.