Ngomongin Cinta 2 (Aga Serius..)
Seorang teman penulis blog (kurniawan gunadi) pernah memberikan statement bahwa setiap orang akan melewati peristiwa krusial pada masa peralihan beranjak dewasa, yang mana ada suatu moment saat hidup harus berlanjut dengan cara menentukan pilihan. Lalu pilihan apa saja yang dinilai krusial tersebut ? ini dia :
1. Menentukan perguruan tinggi mana yang akan diambil setelah lulus SMA.
2. Menentukan mau jadi apa selepas kuliah nanti.
3. Menentukan akan hidup dengan siapa nanti.
Setuju atau tidak, tiga point tersebut adalah sebuah proses dalam membangun kepribadian seseorang. Mengapa ? Karena saya yakin, akan terdapat perbedaan sudut pandang yang kita gunakan pada saat bertemu satu persatu fase tersebut. Bagi yang sudah merasakan bisa throwback kembali, bagi yang belum ? nanti juga akan merasakannya. Karena disini saya tidak akan banyak membahas hal tersebut. Hehe.
Rasanya memang kurang adil kalau membagi proses dewasa berdasarkan tiga tahapan tersebut. Karena saya pribadi banyak mengalami proses yang berbeda untuk dituntut bisa berfikir dan bersikap dewasa. Diantaranya saat dimana saya harus menerima perceraian antara ayah dan ibu saya, Saya harus memilih akan hidup bersama ayah atau ibu saya, Saya harus menerima orang asing yang menjadi orangtua saya. Saya harus.. lah kok jadi curhat ya ? Balik lagi deh kepembahasan awal sesuai judul biar ga terlalu OOT (out of topic) yaitu ngomongin “Cinta”. Hehe.
Ngomongin Cinta memang sangat multitafsir , karena banyak sekali pembahasan yang ga akan ada habisnya bila dibicarakan. Mungkin ini penyebabnya Cinta terbagi pada beberapa jenis yang banyak sekali orang bilang bahwa cinta itu terbagi menjadi Cinta hakiki, Cinta sejati, Cinta Mati, Cinta sehidup dan semati, Cinta sendiri, Cinta tak terbalas, Cinta karena materi, atau apalah. Lalu apa sebenarnya peran cinta dalam menentukan proses pendewasaan ? Jadi, biarkan disini saya pribadi menuangkan konspirasi antara pemikiran dan pengalaman yang pernah saya lewati.
Seperti yang pernah saya tulis pada postingan sebelumnya, bahwa jatuh cinta diperlukan jiwa yang besar buat merasakannya, karena dibalik sisi manisnya cinta, terdapat sisi gelap yang harus kita terima saat jatuh cinta ( khususnya jatuh cinta kepada lawan jenis) . Maka dari itu saya berfikir bahwa terdapat tahapan – tahapan yang harus dilalui saat memutuskan untuk jatuh cinta terhadap lawan jenis. Diantaranya terdapat 3 fase agar cinta yang kita miliki kepada lawan jenis Insya Allah dapat diridhai oleh Allah.
Mencintai Tuhan memang sudah keharusan, dan saya sendiri pernah mengalami fase dimana saya begitu apatis terhadap Tuhan. Namun seiring perjalanan waktu, saya beruntung karena akhirnya sadar bahwa mencintai tuhan itu betapa indahnya , betapa damainya, betapa mudahnya, serta betapa terasa manfaatnya. Percaya atau tidak, rasa memiliki cinta kepada tuhan hanya dapat dirasakan bila kita sendiri yang menjalani semua perintah Tuhan yang telah diberikan baik lewat Al-quran maupun As-sunah.
Saya sendiri tidak akan banyak bercerita apa saja manfaatnya. Namun, jika dianalogikan, apabila terdapat dua orang anak, yang mana anak pertama selalu menuruti nasehat maupun perintah orangtuanya, sedangkan berbanding terbalik dengan anak kedua yang jarang mendengarkan nasehat maupun perintah orangtuanya, tentu kita sendiri sudah bisa menilai berapa persentasi cinta yang orangtua berikan kepada dua orang anak tersebut.
Maka dari itu belajarlah dari sekarang bagaimana cara mencintai tuhan yang caranya sudah bisa didapatkan lewat Al-Quran maupun As- Sunah. Karena sebesar apapun cinta yang kita miliki, pada akhirnya hanya kepada Tuhan, cinta kita harus dikembalikan. Dan semoga kita adalah golongan orang – orang yang dibalas cintanya oleh Tuhan pada kehidupan sekarang maupun kehidupan kelak.
Oiya pada bagian ini saya tidak membahas bagaimana tata cara mencintai tuhan, karena perlu kesadaran dari setiap pribadi seseorang untuk mau belajar mencintai tuhan. Jadilah pengagum rahasia tuhan yang tidak ingin terlihat oleh banyak orang bahwa kita sangat mencintai Tuhan. Karena sesungguhnya Tuhan maha mengatahui kualitas Ibadah umatnya.
*Singkat kata, tidak melulu orang yang mencintai tuhan harus memakai baju koko, kopeah, ataupun sarung tiap hari. Kecuali kewajiban menutup aurat, yaaa itu sih udah Jelas DIPERINTAHKAN / DIWAJIBKAN. Jadi berpakainlah sesuai yang agama perintahkan yaitu tutup aurat dan cerminkan bahwa pakaian yang kita pakai adalah cerminan orang – orang yang beriman. Yang bagaimana ? Yaelah masih nanya. Yang rapih,sopan,bersih, dan menutup aurat. Percuma rapih sama sopan kalo ga menutup aurat.Hehe.
Lebih baik menutup hati kita dulu dari perbuatan tidak baik , dari pada menutup aurat tapi kelakukan masih negatif. HEH MENUTUP AURAT PERINTAH ALLAH!. Semuanya bakalan Allah siapkan bagi orang-orang yang menaati perintahnya , gausah takut *Kok jadi sewot ya..
Mengapa kita harus mencintai tuhan terlebih dahulu sebelum mencintai orangtua ?
Pada dasarnya seseorang yang mencintai tuhan sudah pasti akan mencintai orangtuanya. Tetapi apabila seseorang yang hanya mencintai orangtuanya tanpa mencintai Tuhan, maka akan ada cara mencintai yang keliru.
Banyak sekali seorang anak yang merasa telah memberikan cintanya dengan hanya bermodalkan menanggung biaya hidup orangtua dari hasil kerja keras yang dia lakukan, lalu mereka dapat berbuat sesukanya dan lebih parahnya lagi seorang anak sudah bersikap seperti majikan bagi orangtuanya yang tidak berdaya. Dan sungguh Tuhan akan memberikan balasan apa yang sudah seorang anak itu lakukan.
Maka dari itu Cintailah orang tua sesuai dengan ketentuan / perintah yang Tuhan berikan, karena manfaat mencintai orangtua sesuai perintahNya akan mendapatkan balasan cinta dari orang tua, baik itu dari kasih sayangnya, doanya, serta ridhonya.
Dan sesungguhnya ridho Orangtua adalah ridho yang Allah miliki dalam menjalani kehidupan yang begitu kompleks permasalahannya.
Pada bagian ini saya akan berbicara pengalaman yang telah saya lalui. Secara tidak sadar berbekal kasih sayang serta cinta yang telah diberikan oleh Tuhan dan Orangtua, saya merasakan banyak sekali kemudahan untuk membangun pribadi yang Insya Allah lebih baik dari waktu ke waktu. Terdapat semacam tuntunan/bimbingan yang Tuhan dan Orangtua berikan kepada saya untuk mengambil langkah yang akan ditempuh.
Secara garis besar saya dapat lebih mencintai diri saya sendiri untuk berfikir dua kali melakukan hal yang tidak bermanfaat, berfikir dua kali untuk bergaul dengan lingkungan seperti apa, Berfikir dua kali bagaimana cara bergaul dengan lingkungan sekitar, dan berfikir dua kali untuk bisa memanfaatkan nikmat hidup dan waktu yang Tuhan berikan. Percaya atau tidak, saya merasakan segala sesuatunya selalu dimudahkan, baik itu dari pendidikan yang sedang saya tempuh, karir pekerjaan saya yang Alhamdulillah selalu meningkat, serta hubungan kehidupan sosial saya dengan sahabat, dan rekan kerja saya yang terhindar dari perselisihan, dan satu yang paling penting, adalah ada rasa keinginan untuk memantaskan diri agar dicintai oleh Tuhan, orangtua, serta Jodoh yang akan ditemui kelak. Maka cintai diri sendiri agar kelak menjadi orang yang layak dicintai oleh semua orang.
Dan sesungguhnya lelaki yang baik akan dipertemukan dengan wanita yang baik pula. Begitupun sebaliknya.
Singkat kata, apabila kita bisa menempatkan cinta kita sebaik mungkin dari ketiga aspek diatas, Insya Allah bukan perkara yang sulit dalam menjalani proses pendewasaan yang sempat saya bahas diawal sesi, yaitu akan menjadi seperti apa hidup kita setelah lulus dari perguruan tinggi, akan mendapat rezeki seperti apa yang akan kita didapat nanti dan akan mendapat jodoh seperti apa yang kita temui nanti. Jadi, Cintai Tuhanmu, Orang tuamu, dan Hidupmu, maka Insya Allah akan banyak nikmat yang dirasakan sepanjang hidupmu.
Dan kesimpulan bagi para muda – mudi yang sedang Jatuh cinta kepada lawan jenis, bahwa jatuh cinta bukan perkara bagaimana kita bisa mengejar cinta sampai keujung dunia. Tapi, perbaiki , pantaskan, kemudian tawarkan pribadi kita kepada Tuhan, Orangtua, dan lingkungan sekitar agar menjadi seseorang yang siap dan pantas untuk dipertemukan dengan orang yang bersedia menjalin Cinta yang diridhai dalam ikatan yang disebut pernikahan.
Lalu bagi yang belum siap menikah, ada kutipan yang menurut saya menarik namun sedikit sensitif, silakan dicermati :
Jatuh cinta menuntut pribadi seseorang untuk bisa berpenampilan rapi, memakai wewangian, memperhatikan pergaulan yang baik, bertutur kata yang manis, memunculkan keberanian, namun jatuh cinta merupakan ujian bagi orang-orang yang shaleh dan cobaan bagi ahli Ibadah.
Maaf akhir-akhir ini saya sedang merasakan nuansa merah muda jadi membicarakan cinta mulu. Hehe
Bandung, 30 Juli 2015 – Adri Ahmad