Minggu malam. Bandung 08.30 PM.
Bara : Kamu pernah patah hati ?
Dinda : Aku kira, siapa pun yang punya hati, cepat atau lambat pasti akan mengalaminya
Bara : Bagaimana cara kamu menanganinya ?
Dinda : Maksudmu, patah hati ?
Dinda : Aku akan menciptakan jarak yang amat jauh dengan orang yang membuat hatiku patah. Aku akan pergi sejauh mungkin darinya.
Dinda : Kamu jangan kaget ya. Aku pernah pergi keluar kota, pindah tempat tinggal, hanya karena patah hati.
Dinda : Sudah aku bilang jangan kaget. Aku bisa sangat impulsif sekaligus ekspresif saat patah hati. Aku akan menunjukan kepatahhatianku lewat tulisan - tulisan yang panjang di mana pun aku bisa. Orang orang akan dengan mudah mengetahui bahwa aku sedang patah hati.
Bara : Dibanding kamu, aku lebih kalem saat patah hati.
Dinda : Oh ya. lalu apa reaksi paling ekspresif yang pernah kamu keluarkan saat patah hati ?
Bara : Hanya diam. Saat patah hati, aku akan jadi sangat melankolis. Mungkin sesekali mengambil waktu untuk berpergian mengitari seisi kota tanpa arah. Tidak bertemu siapapun, tidak bicara dengan siapapun, tidak mengeluarkan suara apapun dari bibirku. Diam dan melebur dengan suasana.
Bara : Siapa yang tidak ? Tentu saja aku bersedih. Dan, saat patah hati, aku meresapi kesedihanku dengan cara seperti itu.
Dinda : Ah, aku juga melakukannya, meresapi kesedihanku. Menurut kamu, kenapa orang - orang patah hati malah meresapi kesedihannya ? Bukan membuangnya jauh - jauh ?
Bara : Membuang jauh - jauh ? Semacam menutup luka begitu saja ? Menurutku luka itu harus dibiarkan terbuka, jangan ditutupi, jangan disangkal. Kalu mau menangis, menangis saja. Kalau mau pergi keluar kota, pergi saja. Bagiku bersedih selama berhari - hari itu caraku mengakui bahwa aku sedang patah hati.
Dinda : Bahkan patah hati pun butuh pengakuan, ya.
Bara : Banyak orang jatuh cinta, mencintai, tetapi tidak mau mengakui saat mereka dibikin patah hati. Mereka merasa gengsi dan tidak layak dibikin patah hati. Padahal, tidak mengakui sakitnya patah hati tidak lantas membuat rasanya menghilang. Ketika aku meresapi kesedihanku, aku akan mampu untuk mengikhlaskan.
Dinda : Oke oke. Sejauh percakapan ini aku sudah mengetahui hal yang perlu dilakukan saat patah hati. Pertama, mengakui lukanya. Kedua, meresapi rasa sakitnya. Ada lagi ?
Bara : Kenapa kamu butuh cara menangani patah hati ? Kamu sedang patah hati ?
Dinda : Heh, ingat ya, kamu yang memulai duluan percakapan ini.
Bara : Ha ha ha, baik. Setelah mengakui dan meresapi lukanya, ya sudah ambil napas panjang, tersenyum, lalu bersiap untuk cinta yang baru. Jatuh cinta lagi.
Dinda : Tidak semudah itu. Butuh waktu untuk menumbuhkan keinginan jatuh cinta lagi setelah dibikin patah hati.
Bara : Butuh waktu, tetapi bukan tidak mungkin.
Dinda : Berapa lama waktu yang kamu perlukan untuk jauh cinta lagi ?
Bara : Aku orang yang tidak mudah jatuh cinta. Tetapi, semuanya tergantung pada caraku meresapi kesedihan dipatah hati yang sebelumnya. Semakin aku meluapkan kesedihanku, mungkin akan semakin mudah aku mempersiapkan untuk cinta yang baru.
Dinda : Kamu mengatakannya seolah - olah itu hal yang mudah dilakukan.
Bara : Cinta itu mudah dan sederhana seharusnya.
Dinda : Ya aku sepakat denganmu. Sederhana saja lebih baik.
Bara : Aku sudah memesan tiket penerbangan ke Bali untuk hari senin nanti.
Dinda : Oh ya ? untuk apa ?
Bara : Mengobati patah hati, seperti yang kamu katakan.
Dinda : Mau mencoba caraku ?
Bara : Aku pesan dua tiket untuk kamu sebagai teman menangani patah hatiku.
Dinda : Heh !!! Aku belum ijin mengambil cuti untuk hari senin. Gila ya kamu !
Bara : Pesawat jam 9.20 pagi. Silakan kamu urus ijin cuti kamu malam ini.
Dinda : Tidak pernah berubah. Dasar pemaksa !