🎬 DIALOG TENTANG TAUHID DENGAN WAHABI VERSI AKAL Banyak ayat Al Qur'an yang mengajak manusia untuk berpikir dalam hal Aqidah/Keimanan? Berapa banyak pertanyaan "Afala Ta'qilun", "Afala tatafakkarun" dalam Al Qur'an ? Mempertanyakan apakah Pikiran/Akalnya digunakan untuk bertafakkur dengan Ciptaan-Nya, termasuk Bagaimana Penciptaan Makhluq Ciptaan-Nya beserta sifat Makhluq Ciptaan-Nya. Kutipan di bawah ini adalah dialog dengan wahabi (nama akan disamarkan utk wahabi) Ustadz habiburrahman dan hasan elmaduri (ahlusunnah wal jamaah, bermadzhab aqidah salaf yaitu asy’ari) Baca selengkapnya sampe si wahabi minta maaf dan undur diri Dialog dimulai : الله موجود بلا مكان ولا جهة ولا كيف ALLAH ADA TANPA TEMPAT, TANPA ARAH, & TANPA DISIFATI OLEH SIFAT MAKHLUK Wahabi : Adakah makhluk yang tanpa tempat dan tanpa arah ? Kalau mau bahas harus kepala dingin lho….😊 Saya cuma ingin tahu bahwa “sifat” tanpa tempat dan tanpa arah juga bisa disematkan ke makhluk. Ust Habiburrahman Hasbullah: Coba dicontohkan pak? Wahabi : Ide ~Ide itu makhluk ~Gak ada tempatnya ~Gak ada arahnya Ust Habiburrahman Hasbullah: Ah masa iya…. Contoh :”Ide” bapak wahabi adalah membuat api….jelas itu tempatnya “ide” membuat api di pak wahabi bukan di saya…sebab saya punya “ide” berbeda…. Wahabi : Idea 10+2=12 adalah universal ~ Tidak memerlukan tempat ~Tidak memerlukan arah ~Saya ada. Saya tidak ada. Gak ngefek. ~10+2 tetap lah 12. Ust Habiburrahman Hasbullah: Bagaimana tidak ada….. Tempat idea 10+2=12 adalah di makhluk yang berakal…. Makhluk yang tak berakal tak punya idea itu….➡Lanjut di Komentar... . 👤 Habib Rizieq Syihab Lc., MA. DPMSS 📄 santri.net 🎬 Youtube . Jangan lupa follow akun instagram kami⤵⤵⤵ @Islam_vidgram @islam_vidgram @islam_vidgram Find us on: Instagram: @islam_vidgram Twitter: @islam_vidgram Facebook: islam_vidgram Tumblr: islamvidgram Youtube: klik link di bio @islam_vidgram #Tauhid #AllahAdaTanpaTempat #salafy #wahabi #mujassimah #Takwil #Tafwidh #AqidahIslam #manhajsalaf #HabibRizieq #HabibRizieqSyihab #KamiBersamaHRS #FPI #Aksi212 #FrontPembelaIslam #IslamVidgram #Islam_Vidgram (di Indonesia)
🎬 Imam Abu al-Hasan al-Asy’ari (W. 324 H) Salah satu dari Ulama Salaf dalam bidang Aqidah Ahlusunnah Wal Jamaah bersaksi tidak mengkafirkan seorang muslim-pun dari kalangan ahlu kiblat Sebaik-baik kurun (abad) adalah kurunku (abadku) kemudian kurun (abad) setelah mereka kemudian kurun (abad) setelah mereka”.(H.R. Tirmidzi) Generesi Salaf adalah mereka yang hidup pada kurun (abad) 3 hijriah pertama Pada masa ulama salaf ini, di sekitar tahun 260 H, mulai menyebar bid’ah Mu’tazilah, Khawarij, Musyabbihah dan lainnya dari kelompok-kelompok yang membuat faham baru. Kemudian dua imam agung; Abu al-Hasan al-Asy’ari (W. 324 H) dan Abu Manshur al-Maturidi (W. 333 H) –semoga Allah meridlai keduanya– datang dengan menjelaskan aqidah Ahlussunnah Wal Jama’ah yang diyakini para sahabat nabi dan orang-orang yang mengikuti mereka, dengan mengemukakan dalil-dalil naqli (nash-nash al-Quran dan Hadits) dan dalil-dalil aqli (argumen rasional) disertai dengan bantahan-bantahan terhadap syubhat-syubhat (sesuatu yang dilontarkan untuk mengaburkan hal yang sebenarnya) Mu’tazilah, Musyabbihah, Khawarij tersebut di atas dan ahli bid’ah lainnya. Sehingga Ahlussunnah dinisbatkan kepada keduanya. Mereka; Ahlussunnah Wal Jamaah akhirnya dikenal dengan nama al-Asy’ariyyun (para pengikut imam Abu al-Hasan Asy’ari) dan al-Maturidiyyun (para pengikut imam Abu Manshur al-Maturidi). Hal ini tidak menafikan bahwa mereka adalah satu golongan yaitu al-Jama’ah. Karena sebenarnya jalan yang ditempuh oleh al-Asy’ari dan al-Maturidi dalam pokok aqidah adalah sama dan satu.➡Lanjut di komentar . 👤 Habib Rizieq Syihab Lc., MA. DPMSS 📄 salafytobat.wordpress.com, jombang.nu.or.id, elhooda.net 🎬 Youtube . Jangan lupa follow akun instagram kami⤵⤵⤵ @Islam_vidgram @islam_vidgram @islam_vidgram Find us on: Instagram: @islam_vidgram Twitter: @islam_vidgram Facebook: islam_vidgram Tumblr: islamvidgram Youtube: klik link di bio @islam_vidgram #Tauhid #AllahAdaTanpaTempat #salafy #manhajsalaf #aqidahsalaf #aqidahsalafussholeh #wahabi #mujassimah #musyabbihah #Takwil #Tafwidh #AqidahIslam #HabibRizieq #HabibRizieqSyihab #KamiBersamaHRS #FPI #Aksi212 #FrontPembelaIslam #IslamVidgram #Islam_Vidgram (di Indonesia)
Istilah tafwidh dalam pembahasan nama dan sifat Allah maksudnya adalah menyerahkan makna nama atau sifat Allah kepada Allah (lihat Al-Mujalla fi Syarh Al-Qawa’id Al-Mutsla, hal. 227). Mufawwidhah(orang yang menganut paham tafwidh) hanya sekedar menetapkan lafazh tanpa makna, karena beranggapan bahwa makna lafazh itu tidak diketahui oleh manusia, dan hanya diketahui oleh Allah ta’ala.
Simak hadits berikut:
حدثنا سعيد بن منصور. حدثنا يعقوب (يعني ابن عبدالرحمن). حدثني أبو حازم عن عبيدالله بن مقسم؛أنه نظر إلى عبدالله بن عمر كيف يحكي رسول الله صلى الله عليه وسلم قال "يأخذ الله عز وجل سماواته وأرضيه بيديه. فيقول: أنا الله. (ويقبض أصابعه ويبسطها) أنا الملك" حتى نظرت إلى المنبر يتحرك من أسفل شيء منه. حتى إني لأقول: أساقط هو برسول الله صلى الله عليه وسلم؟
Telah menceritakan kepada kami Sa’iid bin Manshuur : Telah menceritakan kepada kami Ya’quub (yaitu Ibnu ‘Abdirrahman) : Telah menceritakan kepadaku Abu Haazim, dari ‘Ubaidullah bin Miqsam : Bahwasannya ia melihat kepada ‘Abdullah bin ‘Umar bagaimana ia menirukan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Ia berkata:
“Allah ‘azza wa jalla memegang langit-langit-Nya dan bumi-bumi-Nya dengan tangan-Nya, lalu berfirman: ‘Aku adalah Allah’ -lalu Ibnu ‘Umar menggenggam jari jemarinya dan membentangkannya-. ‘Aku adalah Raja’ -hingga aku melihat ke mimbar bergerak/goyang di bagian bawah karena sesuatu darinya-. Hingga aku pun ingin berkata: “Apakah ia telah menggantikan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam (dalam berkhutbah) ?” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 2788].
Pengisyaratan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam (yang kemudian diikuti oleh Ibnu ‘Umar radhiallaahu ‘anhuma) dengan menggenggam jari jemarinya dan membentangkannya tentunya bukan untuk menyamakan (tasybih) sifat Allah dengan makhluk, akan tetapi jelaslah bahwa yang dimaksud adalah makna zhahir dari “Yad” yaitu “Tangan”, yang jika sifat ini dinisbatkan kepada manusia, maka seperti yang dilakukan beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam dan Ibnu ‘Umar radhiallaahu ‘anhuma tsb.
"Dan Allah mempunyai sifat yang Maha Tinggi; dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (QS an-Nahl:60).
Perhatikan pula riwayat tentang kisah orang yang terakhir kali masuk surga :
حدثنا عبد الله حدثني أبي حدثنا يزيد أخبرنا حماد بن سلمة عن ثابت البناني عن أنس بن مالك عن عبد الله بن مسعود عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: ...... فيقول عز وجل: ما يصريني منك أي عبدي أيرضيك أن أعطيك من الجنة الدنيا ومثلها معها قال: فيقول: أتهزؤ بي وأنت رب العزة قال: فضحك عبد الله حتى بدت نواجذه ثم قال: ألا تسألوني لم ضحكت قالوا له: لم ضحكت قال: لضحك رسول الله صلى الله عليه وسلم ثم قال لنا رسول الله صلى الله عليه وسلم: ألا تسألوني لم ضحكت قالوا: لم ضحكت يا رسول الله قال: لضحك الرب حين قال: أتهزؤ بي وأنت رب العزة.
Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah: Telah menceritakan kepadaku ayahku: Telah menceritakan kepada Hammaad bin Salamah, dari Tsaabit Al-Bunaaniy, dari Anas bin Maalik, dari ‘Abdullah bin Mas’uud, dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: “…..Maka Allah ‘azza wa jalla berfirman : ‘Apa yang memberhentikan-Ku dari permintaanmu? Hai hamba-Ku, apakah engkau suka jika Aku berikan kepadamu dunia dan semisalnya bersamanya?’ Orang itu menjawab: ‘Apakah Engkau memperolok-olokku padahal Engkau adalah Rabbul-‘Izzah?’
Perawi berkata : “Lalu ‘Abdullah (bin Mas’uud) tertawa hingga terlihat gigi gerahamnya. Ia berkata : ‘Tidakkah kalian bertanya kepadaku mengapa aku tertawa?’ Mereka pun berkata kepadanya : ‘Apa yang membuatmu tertawa ?’ Ibnu Mas’uud menjawab: ‘(Aku tertawa) karena tertawanya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian beliau bersabda kepada kami: ‘Tidakkah engkau bertanya kepadaku mengapa aku tertawa?’ Para shahabat pun bertany : ‘Apa yang membuatmu tertawa wahai Rasulullah?’
Beliau menjawab: “(Aku tertawa) karena tertawanya Ar-Rabb (Allah) saat hamba tadi mengatakan: ‘Apakah Engkau memperolok-olokku padahal Engkau adalah Rabbul-‘Izzah?”
[Diriwayatkan oleh Ahmad 1/391; sanadnya shahih sesuai dengan Muslim, para perawinya tsiqaattermasuk perawi Syaikhaan kecuali Hammaad bin Salamah, ia hanya dipakai oleh Muslim saja].
Hadits ini menetapkan sifat tertawa (الضحك) bagi Allah dimana Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam memahaminya sesuai dengan makna zhahirnya (yakni tertawa), yang kemudian pemahaman itu diikuti oleh Ibnu Mas’uud radliyallaahu ‘anhu.
Setelah membaca kedua hadits di atas adakah sekarang orang berakal yang akan menuduh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam dan para shahabat radhiallahu ‘anhum sebagai Mujassimah?
Atau menuduh orang-orang yang mengikuti pemahaman Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam dan para shahabat radhiallahu ‘anhum sebagaimana pada kedua hadits di atas sebagai Mujassimah?
“Maka ambillah pelajaran wahai orang-orang yang mempunyai pandangan.” (Al-Hasyr: 2)
Kesimpulan:
Tafwidh makna bukanlah manhaj nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam dan para shahabat. Yang menunjukkan hal ini adalah bahwa kata “Yad” dipahami maknanya oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam dan Ibnu ‘Umar radhiallaahu ‘anhuma dengan makna zhahirnya yaitu “tangan”, dengan kata lain di-itsbat (ditetapkan) maknanya, bukan di-tafwidh, hal ini dijelaskan oleh perbuatan beliau menggenggam jari jemarinya dan membentangkannya ketika beliau menjelaskan bahwa Allah ‘azza wa jalla memegang langit-langit-Nya dan bumi-bumi-Nya dengan Tangan-Nya subhaanahu wa ta’aala. Yang jika sifat ini dinisbatkan kepada manusia, maka seperti yang dilakukan beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam dan Ibnu ‘Umar radhiallaahu ‘anhuma tsb. Demikian juga sifat tertawa (الضحك) pada hadits ‘Abdullah bin Mas’uud radliyallaahu ‘anhu di atas, telah jelas maknanya (silahkan dibaca lagi haditsnya).
Dan tentu saja hal itu tanpa bermaksud menyerupakan sifat tersebut dengan sifat-sifat makhluk. Karena kesamaan dalam nama tidak berarti kesamaan dalam hakikat sifat tersebut.
Dalam kehidupan kita banyak sekali sifat yang sama namanya, tetapi hakikatnya berbeda sesuai dengan dzat masing-masing sifat tersebut. Yang membedakan hakikatnya adalah kemana sifat tersebut disandarkan, maka sifat tersebut memiliki hakikat sesuai dengat dzat dimana ia disandarkan (digabungkan).
Contohnya tangan manusia tidak sama dengan tangan kursi, meskipun sama-sama disebut tangan. Kita bisa mengatakan tangan manusia itu berupa organ yang bentuknya begini dst atau tangan kursi itu begini dan begitu bentuknya karena kita sudah pernah melihatnya, adapun Allah:
هَلْ تَعْلَمُ لَهُ سَمِيًّا
“Apakah engkau mengetahui ada sesuatu yang sama dengan-Nya ?” (QS. Maryam: 65)
Maka kita tidak boleh melakukan takyif (membayangkan gambaran tertentu dalam pikiran) terhadap Sifat Allah, karena kita tidak mengetahui kaifiyah Dzat Allah demikian pula kita tidak bisa mengetahui kaifiyah sifat-Sifat-Nya. Karena pembicaraan tentang Sifat seperti pembicaraan tentang Dzat.
“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat” [QS. Asy-Syuuraa : 11].
Perhatikanlah ayat: “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia,” Merupakan penafian penyamaan/penyerupaan Sifat Allah dengan makhluk atau penafian sekutu bagi Allah dalam sifat-sifat-Nya yang sempurna, yang merupakan bantahan terhadap Musyabbihah atau kaum yang menyamakan sifat Allah dengan makhluk,
Dan ayat: “dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat” Merupakan penetapan sifat Allah yang telah ditetapkan-Nya untuk diri-Nya, yang merupakan bantahan terhadap Mu’aththilah atau kaum yang meniadakan/menolak sifat-sifat Allah.
Maka madzhab salaf dalam hal nama-nama dan sifat-sifat Allah adalah:
“إثبات بلا تشبيه وتنزيه بلا تعطيل“
Menetapkan (itsbat) tanpa menyerupakan (tasybih) dan menyucikan (tanzih) tanpa menolak (ta’thil).
Allah Maha Tinggi dengan segala kesempurnaan sifat-sifat-Nya.
Apabila ada orang yang mempertanyakan, “Bagaimana kaifiyah sifat ini dan itu?” Maka hendaklah anda memberikan salah satu jawaban diantara beberapa jawaban berikut:
1. Dengan jawaban seperti yang disampaikan oleh Imam Malik dan gurunya Rabi’ah. Suatu saat mereka ditanya tentang kaifiyah istiwa’ (cara Allah bersemayam-pent). Beliau menjawab: “Kaifiyahnya tidak bisa dijangkau oleh akal, sedangkan makna istiwa’ bukanlah sesuatu yang asing, mengimaninya adalah kewajiban adapun mempertanyakan (kaifiyahnya) termasuk bid’ah.”
2. Dengan balik bertanya kepadanya mengenai bagaimana (kaifiyah) Dzat Allah Ta’ala. Apabila dia mempertanyakan misalnya, “Bagaimanakah Wajah Allah?, bagaimana Turun-Nya?, bagaimana Tertawa-Nya?, dst.” Maka tanyakanlah kepadanya, “Bagaimanakah Dzat Allah?” atau “Bagaimanakah wujud-Nya?” Kalau dia mengatakan, “Aku tidak mengetahui kaifiyah Dzat Allah”, maka katakanlah kepadanya, “Begitu pula saya tidak mengetahui kaifiyah Sifat-Sifat-Nya, akan tetapi saya menetapkan Sifat-Sifat tersebut dipunyai Allah sesuai dengan keagungan-Nya yang Maha Tinggi.” Ketahuilah bahwa jawaban ini dibangun di atas kaidah “Pembicaraan tentang Sifat serupa dengan pembicaraan tentang Dzat”.
3. Atau dengan jawaban, “Sesungguhnya Allah telah memberitakan kepada kita Sifat ini dan itu, dan Dia juga memberitahu kita bahwa Sifat-Sifat itu adalah milik-Nya. Sedangkan Dia tidak memberitahu kita tentang kaifiyah Sifat-Sifat tersebut. Kaum salaf/generasi Shahabat -semoga Allah meridhoi mereka- pun tidak pernah mempertanyakan hal ini, maka sudah sepantasnya kita juga diam (tidak mempersoalkan kaifiyahnya-pent) sebagaimana mereka.”
Pembahasan selengkapnya tentang tafwidh bisa dibaca di: