dear darling beloved;
Ketika Taira Raiden pertama bertemu dengan Morita Ayaka, itu adalah hari pertama dirinya masuk ke SMP Rakuzan di tahun kedua mereka. Si pemuda, dengan segala kecanggungan khas anak baru yang begitu wajar, sempat-sempatnya tercenung dibawah pohon sakura yang menaungi jalan menuju sekolah. Raiden mendesah sementara jemari panjang kemudian mengacak-acak rambut kecoklatan yang berantakan, menimbang apakah harus dia melangkah masuk melewati gerbang itu dan memulai hidup baru di sekolah baru (dan meninggalkan segala kenangan buruknya di sekolah lama), hingga kemudian dia merasakan punggungnya yang bebas tas (karena Raiden selalu membawa ranselnya dengan cara disampir, bukan digendong) terantuk oleh sesuatu—seseorang. Anak lelaki Taira itu membalik badan, siap dengan tampang bosan-menjurus-mengintimidasi yang biasa, namun tatkala biner coklatnya bersirobok dengan bola mata sewarna madu yang ada pada paras manis berpipi gembil yang dibingkai rambut gelap milik seorang anak perempuan. Baru saja dia mengerjap, berusaha menyusun kalimat dalam kepala, hanya saja... "Ah, gomen, gomen!" —belum sempat si pemuda jangkung buka mulut, gadis itu berlalu dengan bungkukan buru-buru dan gumam-gumam cemas. Ketika dara belia berlari melewati diri, Raiden dapat mencium harum stroberi yang begitu manis hingga membuat anak lelaki itu mengerenyit. Bukan karena Taira belia itu tidak menyukai wanginya, bukan. Bukan pula karena kekesalan yang memuncak hingga ke ubun-ubun. Yang membuat si jangkung mematung bak orang bodoh adalah fakta (yang baru dia akui nantinya) bahwa dirinya, Taira Raiden ini, baru saja merasa terpesona akan keberadaan seorang hawa berambut kopi, beriris bak madu dengan harum stroberi yang bahkan tak ia kenal. Raiden baru sadar dari lamunan impromptu itu saat bel masuk berdentang, membuat dirinya otomat menepuk dahi dan lari pontang-panting ke ruang guru untuk tahu di kelas mana si anak pindahan yang berani-beraninya terlambat di hari pertama masuk ini akan ditempatkan.
. .
Seharusnya Raiden tidak terkejut ketika pandangan mata itu menemukan sosok si gadis diantara kerumunan orang-orang yang diperkenalkan sebagai teman sekelas si pemuda yang baru. Namun mengingat betapa mungilnya tubuh anak perempuan itu dan bagaimana raut wajah yang... manis itu tidak menunjukkan tanda bahwa dia seumuran dengan Raiden pribadi jelas membuat tebakan anak lelaki ini meleset seratus persen. (Tapi, tidak akan ada orang yang menyangka kalau Raiden ini murid kelas dua SMP kalau melihat tinggi badannya yang diatas rata-rata, duh. Mungkin skornya imbang, sekarang.) Anak perempuan berambut ikal dengan warna kopi itu memperkenalkan diri sebagai Morita Ayaka dan senyum yang memancar dari wajah sang dara begitu cerah sampai-sampai Raiden harus berusaha keras untuk tidak memicingkan mata ketika mereka bertatap muka. (Gadis itu tidak menunjukkan tanda-tanda kalau dia mengenali Raiden. Entah mengapa, ada kekecewaan yang merayap sesaat sebelum hilang begitu saja.) "Aku Taira Raiden," si pemuda akhirnya menemukan suaranya setelah diam begitu lama, tatapannya tak lepas dari sosok mungil gadis yang berdiri dihadapan—masih dengan senyumnya yang membutakan—dan mengangguk pelan. "Salam kenal, Morita-san." Morita membalas salam kaku Raiden dengan satu "Mou, salam kenal juga, Taira-kun~" yang membuat mata si gadis menyipit dan tepi garis bibirnya jadi makin naik dalam usaha untuk membentuk senyuman. Lalu, lama setelah bel masuk berbunyi dan Morita Ayaka kembali ke bangkunya, Raiden menyadari kalau dia menyukai senyum yang tercetak pada muka sang dara. ...yang kemudian sukses membuat kepala anak lelaki itu bertemu dengan permukaan meja dalam satu gerakan keras. Sakitnya tidak seberapa dibandingkan dengan tawa Morita yang berkumandang halus kemudian, mungkin geli dengan tingkah si anak baru, yang terdengar bagai denting genta angin di musim panas di telinga Raiden.
. .
Bulan-bulan berjalan dan Raiden sudah bisa menjadi manusia normal ketika berada didekat Morita Ayaka, dalam artian tidak menjedukkan kepala ke bidang datar terdekat ketika dirinya gugup dan lain sebagainya. Dan hal itu terus berlangsung hingga mereka naik ke kelas sembilan, kapan Raiden sudah bisa mengobrol dengan normal dengan si gadis Morita, sesekali melempar canda dan membantu si gadis mungil mengerjakan tugas atau apa. Si pemuda masih menganggap kalau sensasi yang menjalari tubuhnya ketika melihat senyum seratus megawatt Morita atau mendengar tawanya adalah hal yang... wajar. Tidak aneh. Tidak mengindikasikan apa-apa. Ya, begitulah.
(Denial, denial, denial.) . .
Pemuda itu baru mau mengakui perasaannya sendiri ketika kabar angin mengenai pemuda lain menyukai Morita Ayaka berhembus ke kelas mereka di awal musim gugur pada tahun terakhir mereka di SMP. Raiden sadar kalau Ayaka itu manis, dengan tubuh mungil dan laku energik dan tak lupa tutur kata bak berbalur gula-gula, dan tidak akan aneh pula kalau ternyata pengagum rahasia gadis itu ada banyak. Tapi... Pemuda Taira terdiam, menghentikan langkah yang diambil sebelum mencapai perpustakaan di suatu siang. Dia semacam tidak suka ketika mendapati kemungkinan bahwa ada pemuda lain yang berusaha mendekati Morita Ayaka—berkata kalau mereka menyukainya, membuat pipi gadis itu bersemu merah muda dan mendapatkan seluruh perhatian Ayaka yang manis. Karena tanpa disadari, Taira Raiden ingin memiliki Morita Ayaka dan segala hal mengenai gadis itu. Hanya saja Raiden masih terlalu ragu untuk melabeli perasaan macam apa yang dia miliki terhadap sang gadis; apakah ini sebuah suka yang platonik atau romantis, pemuda itu tak yakin. Makanya, daripada larut terlalu lama dalam dilema tak penting macam ini, Raiden lebih memilih untuk kembali melanjutkan langkah ke perpustakaan sekolah saja. Masih ada tugas Matematika dan Bahasa Inggris yang menunggu untuk dikerjakan, toh.
. .
Sayangnya sesi mengerjakan tugas Taira Raiden kemudian berubah menjadi sesi mengajari-Morita-Ayaka, yang kemudian berubah lagi ketika si gadis mengungkit soal kekasih dan si pemuda tak sengaja membocorkan perasaannya sendiri. Membuat Raiden kemudian 'menembak' Ayaka dan mencium bibir sang dara, melihat bagaimana paras yang biasa meretas senyum kemudian basah oleh rinai air mata dan manis yang rasanya tak akan hilang di mulut itu akan selalu terkenang. Lagipula, mungkin kalian sudah tahu bagaimana ceritanya berjalan.
. ...and so that continues, to the story that we all know. Maybe. .



