Euforia dunia pendidikan Hari ini
(ditulis oleh guru paud)
Sebagai orang lapangan, dalam dunia pendidikan. Meski belum puluhan tahun, tapi rasa-rasanya tantangan kian tak mudah. Apalagi berada di pelosok negeri. Membangun pendidikan dari Nol. Gedung seadanya. Perlengkapan apa adanya. Membangun kepercayaan masyarakat tentang janji masa depan yang lebih baik lewat pendidikan. Segalanya tak mudah. Menangis dan berdarah melaluinya.
Dunia pendidikan yang sering menghadirkan hal-hal baru tak terduga, mulai dari tantangan yang semakin besar. Tentang perubahan pelajaran, metode, capaian, targetan yang harus di kejar dan di selesaikan, etc.
Tapi satu, yang gak boleh berubah, ialah Nilai. Dan itulah yang semakin hilang dari dunia pendidikan Negeri kita.
Bila segala hal mudah berubah maka nilai harus tetap,konstan. Nilai yang terpatri dalam agama, dasar negera pancasila, undang-undang 45 bahkan dalam lirik lagu Indonesia Raya. Nilai, moralitas, jiwa, nafs yang berorintasi pada, (Sila pertama : Ketuhanan yang Maha Esa). (Pada lirik lagu Indonesia Raya : Bangunlah jiwanya). (Pada pembukaan UUD : Mencerdaskan kehidupan bangsa).
Pada nilai-nilai yang luhur itu, semoga kita di mampukan untuk mencontohkan pada anak2 didik, meski tak mudah. Meski akan sangat melelahkan. Setidaknya kita berusaha sembari terus memperbaiki kualitas diri sebagai pendidik.
Hari ini biaya pendidikan terasa mahal sekali, mewah dengan perayaan, ceremoni, acara-acara tak bermakna lainnya. Satu sama lain berlomba memberi kemewahan, menunjukkan kehebohan, viral dan terkenal.
Nuasa pendidikan yang hadir hari ini adalah tampilan-tampilan memukau dan heboh, tampilan fisik yang mewah.
Namun, jika boleh jujur angka kriminalitas anak-anak pelajar dari semua tingkat semakin melonjak, kasus-kasus tak terhitung mulai terjadi dimana-mana, kerusakan generasi yang makin parah dan merata di seluruh jengkal bumi pertiwi ini. Salah satunya berita, anak-anak SD yang punya group L687, etc.
Beginikah hasil pendidikan negeri kita hari ini? hasil kemewahan yang di lombakan?
Rasanya, pendidikan hari ini masih teramat jauh dari kata berhasil. Apalagi sukses. Pendidikan mental anak-anak kita rusak, orientasi hidup dan cita-cita nya bermasalah.
Mungkin cita-cita para pendidik, juga salah dalam orientasinya. Sudah mulai bergeser dari tujuan luhurnya, cita cita membangun karakter manusia bermartabat dan bermoral sebagaimana yang diamanatkan dalam tujuan pendidikan Nasional mulai hilang.
Benarlah kalimat sederhana Bu Guru Desi pada Ibunya, (dalam Novel guru Aini)
"Menjadi guru adalah panggilan jiwa. Kita akan sangat kesulitan memajukan pendidikan jika seseorang ingin menjadi guru sekedar untuk mencari nafkah."
" ..Pendidikan itu memerlukan pengorbanan bu. Pengorbanan itu nilai tetap,konstan, tak boleh berubah".
Iya, tak bisa dipungkiri. Beratnya beban seorang guru. Besarnya amanah yang di emban. Serta sibuknya ia dengan tugas administratif yang kurang perlu, memakan waktu, kelelahan, membagi tenaganya dengan mengajar. Sungguh tak mudah. Semestinya negera punya kebijakan yang memudahkan guru dalam melaksanakan tugasnya dengan tenang, aman, bahagia tidak dibebani banyak hal. Sedang gajinya tak seberapa disamping mereka harus tetap menjaga keikhlasannya. Ini amat berat.
Di satu sisi, mengajar adalah pekerjaan mulia, harus terus merawat keikhlasan yang panjang. Di sisi lain, mengajar sepanjang waktu dengan tugas yang banyak mestinya bisa menjamin kelayakan hidup bagi para guru.
Inilah dilema meraka, mencintai pekerjaan tetapi merasa berkorban banyak hal namun tanpa penghargaan.
Kata mas Robert di suatu ruang waktu yang penuh kenang dalam sebuah dauroh,
Jika kita merasa telah berkorban terhadap sesuatu yang kita cintai, maka seketika itu luruhlah cinta itu saat itu juga.
Tapi bagimanalah, posisi mereka tak mudah. Di kejar laporan, targetan, masalah anak-anak yang tiap hari hadir. Fokusnya jadi kemana-mana.
Di atas semua tantangan, kesulitan, pengorbanan, upaya menahan tangis dalam sunyi pengabdian ada beban hidup yang harus mereka pikul.
Semoga Allah jaga, balas, sayangi, berkahi para pendidik di seluruh pelosok negeri.
Bersabarlah, meski berat merawat panggilan jiwa yang menghasilkan cinta yang mengundang pengorbanan tanpa sadar. Semoga Allah membalasnya dengan keberkahan hidup dunia akhirat.
Merawat ikhlas dalam sunyi-sunyi pengabdian .. it's something beyond love.
~ N













