Khalid bin Al Walid dan tangisan Khalifah Umar bin Khattab.
Salah satu kisah yang bikin gw nangis kejer setelah membacanya adalah kisah putra Al Walid bin Mughirah, Khalid bin Al Walid.
Jalan Hidup Khalid memang menakjubkan. Sebelum islam ia pembunuh kejam yang menggentarkan. Ingatlah betapa mematikan sepak terjangnya di Uhud membantai kaum muslimin tanpa ampun. Seperti sang ayah, Walid bin Mugirah dan sukunya Bani Makhzum adalah yang paling keras memusuhi islam. Sangat keras. ;( siapa kepala sukunya? iya, Amr bin Hisyam, Abu Jahal.
Time flies, awal tahun 8 H bersama Amr bin Al Ash dan Utsman bin Thalhah ia berangkat ke Madinah, wajah Nabi cerah melihat kedatangannya, mereka bertiga masuk islam.
Baru saja masuk islam, ia menyusul ke Mu'tah, Syam dan menjadi debut pertamanya dalam islam. Zaid, Ja'far dan Ibnu Rawahah susul menyusul syahid. Lelaki yang baru masuk islam itu kebingungan di beri amanat memimpin jalannya perang. Ia merasa tak pantas dibanding Muhajirin dan Ansar yang jauh lebih dulu masuk islam tapi bukankah agama ini begitu adil, sahabat lain tak iri karena tahu kemampuan Khalid tak diragukan dan tentu saja perang melawan pasukan Romawi itu menang. Rasulullah mengetahui kabar itu dari Madinah.
Sejak itu ia menghabiskan seluruh umurnya di atas punggung kuda. Seluruh tubuhnya penuh dengan tebasan pedang, tusukan tombak dan tancapan panah, darah dan luka. Ia menjadi panglima perang tak terkalahkan. Khalid bin Al Walid.
Sepeninggal Rasulullah, Khalifah Abu Bakar benar-benar mengandalkan Khalid. Ia memimpin pasukan di Yamamah memusnahkan Musailamah nabi palsu dan orang-orang Murtad.
Kemudian Khalifah Abu Bakar mengirimnya ke Iraq melawan pasukan Persia. Hingga setiap jengkal tanah Iraq takluk di tangannya.
Pada saat yang sama 240 ribu pasukan Romawi di Syiria siap melawan pasukan Muslim. Ada Ubaidah bin Jarrah, Yazid bin Abu Sufyan, Amr bin Al Ash serta Muawiyah bin Abu Sufyan menjadi komandan. Tapi pasukan muslim mulai gentar sebab dari jumlah dan amunisi mereka kalah jauh. Romawi benar-benar telah siap melumat pasukan muslim.
Lantas apa yang dikatakan Khalifah Abu Bakar? "Khalid akan menyelesaikannya".
Dan Khalid yang posisinya masih di Iraq bergegas meninggalkan pasukannya dan berangkat ke Syiria untuk melawan 240 ribu pasukan Romawi karena mendapat perintah dari sang Khalifah.
Lihatlah betapa Abu Bakar sangat mengandalkannya sampai beliau wafat. Meski Umar berkali-kali meminta Khalifah untuk mencopot Khalid. Kata Abu Bakar pada Umar, "Aku tidak akan pernah menyarungkan pedang yang telah dihunus Allah untuk orang-orang kafir".
Khalid Lelaki cerdas, tangkas, disiplin dan jiwanya dipenuhi Tsabat dan itu adalah rahasia kemenangnya. Lelaki ini benar- benar mengerti dan menguasai taktik perang.
Yarmuk, adalah pertempuran terberat yang di hadapinya dan untuk pertama kalinya Khalid mempersenjatai kaum wanita dan menempatkannya dibelakang pasukan muslim disetiap penjuru.
Khalid berpesan pada kaum wanita "Siapa yang melarikan diri, bunuhlah dia!". Daebaak! sungguh, strategi perang dg akal yg bijak. Wanita-wanita turut tampil di Yarmuk menjaga kaum lelaki dibelakang barisan agar tak kabur.
Sebab banyak pasukan yang baru masuk islam bergabung, sehingga jika satu dua orang kabur akan memengaruhi yg lain. Maka menempatkan kaum perempuan dibelakang pasukan muslim adalah strategi yang brilliant.
Maka tidak heran 100 pasukan menang melawan 40 ribu pasukan. Masuk akal? gak! tapi memang keimanan bukan hanya tentang akal.
Pertempuran itu berlangsung berhari-hari, pasukan muslim jauh dari segi kuantitas. Itu membuat kagum salah seorang komandan Romawi, Georgius dan membuatnya masuk islam setelah berbincang dengan Khalid. Kemudian Georgius bergabung dibarisan muslim memerangi Romawi sampai ia menemui Syahid. Masya'allaah.
Suatu hari saat masih di Yarmuk, perang masih berlangsung datanglah surat dari Khalifah yang baru, amirul mukhminun Umar bin Khattab. Mengabarkan bahwa Khalifah Abu Bakar telah wafat dan mencopot Khalid sebagai pemimpin perang dan digantikan Abu Ubaidah bin Jarrah.
Khalid membaca surat itu dengan tenang dan memohon rahmat untuk Abu Bakar dan taufik untuk Umar. Baginya, menjadi panglima ataupun prajurit biasa sama saja.
Bayangin di copot saat berjaya-janya nya, tapi seperti di Mu'tah enam tahun lalu ia seorang prajurit biasa yang baru masuk islam secara tiba-tiba di tunjuk menjadi panglima. Kini saat jadi panglima tiba-tiba diberhentikan dan menjadi prajurit biasa. Jika bukan dengan keimanan, akal kita akan sulit menerima.
Khalid pahlawan dan panglima islam yang gemilang itu, sungguh mempunyai hati yang lapang. Jasanya sangat besar pada islam. Dari Mu'tah, Fathu Mekkah, Hunain, Pengepungan Tha'if, Yamamah lalu ia melompat menjelajahi bumi di Iraq setapak demi setapak hingga ke Syiria setapak demi setapak sampai membumiratakan takhta kerajaan Persia dan Romawi, semuanya dipersembahkannya ke haribaan islam. ;(
Kehidupan Khalid adalah perang sejak lahir, ia selalu risau bahkan di akhir hayatnya mengapa ia harus wafat di atas kasur sedangkan ia menghabiskan seluruh usianya di atas punggung kuda dan dibawah kilatan pedang.
Saat Khalid wafat Umar menangis sejadi-jadinya. Ia menangis bukan hanya karena kehilangan Khalid tetapi kehilangan kesempatan mengangkatnya kembali menjadi pucuk pimpinan tentara islam. Umar bertekad memulihkan kepemimpinan dan menjernihkan sebab-sebab pemberhentiannya, tapi takdir berkendak lain.
Bukankah waktunya ia beristirahat, karena sebelum ini bumi belum pernah melihatnya istirahat. ;(
Umar sedikitpun tak punya maksud jelek terhadap pribadi Khalid, tetapi Umar keberatan karena pedangnya cepat sekali menggores dan tajam, kata Umar "Ada sisi kezdaliman pada pedang Khalid". Sikap kurang hati-hati kadang-kadang membunuh jiwa yg tidak semestinya di bunuh.
Tapi Khalid tak secuilpun meragukan kebersihan jiwa, keadilan, ketakwaan dan kebesaran hati Umar. Sehingga saat di copot ia sangat menerima dan berbesar hati. Ia benar-benar panglima dan prajurit yang berhati lapang menerima segalanya.
Tapi kalau kita mau memahaminya perasaan bersalah Khalid di masa sebelum islam membuatnya bertekad mempersembahkan yang terbaik untuk islam. Betapa sakitnya ia saat mengingat apa yang dilakukannya di Uhud kala itu, memenggal kapala-kepala dan kening kening yang bersujud pada Allah. ;(
Baik Umar dan Khalid, keduanya tak diragukan keimanan dan jasanya terhadap islam, terlebih Umar sahabat utama Rasulullah dan itu mengapa Abu Bakar sangat mempecayai Khalid bahkan sampai beliau wafat tak pernah memecat Khalid meski Umar pernah memintanya.
Begitulah akhir kehidupan seorang panglima besar islam, Khalid bin Al Walid. Seorang yang tak meninggalkan apapun kecuali kuda dan pedangnya. Ia benar-benar pulang kehariabaan Allah dengan merdeka jiwa dan raganya. Masya'Allah ♥️