Sepasang sepatu lusuh seorang guru.
Suatu hari jagat maya viral oleh sebuah postingan yang menceritakan perjuangan seorang guru berusia senja mengikuti test menjadi ASN namun ia gagap dengan teknologi yang digunakan, test berbaris komputer.
Pak guru bersepatu lusuh itu akhirnya menyerah. Ia menangis dalam diam tak bisa mewujudkan mimpinya diakui oleh negera menjadi guru secara resmi. Meski usianya kian senja telah dihabiskan dalam ruang-ruang pengabdian, mengusap air matanya dalam sunyi perjuangan, menanah lelah dan peluh puluhan tahun, tapi ia kalah melawan teknologi. Tak mampu bersaing dengan muda muda masa kini.
Ini bukan soal harus paling update, paling mengerti mengerti teknologi. Ini soal guru dipesolok negeri yang berjuang dengan segenap upaya dalam keterbatasan fasilitas dan gedung mewah yang nyaman.
Apakah adil itu harus sama? Tidak. Adil itu soal kebutuhan dan sesuai keadaan.
Rasanya tidak adil menyandingkan dan menyamakan kompetensi guru dipelosok desa dan guru di sudut kota. Sedang fasilitas mengajar,bahan ajar tidak pernah sama.
Meski teramat banyak, kualitas guru-guru di pelosok negeri bahkan jauh lebih baik, dedikasi, pengalaman, kualitas tak kalah bahkan lebih.
Namun tetaplah kesenjangan dan ketertinggalan banyak hal membuat tolak ukur antara kota dan desa tetap memiliki kesenjangan yang tinggi.
Waktu itu selepas menyelesaikan novel Guru Aini (Andrea Hirata), airmataku tiba-tiba saja deras sekali. Cerita tentang Buk Desi di dalam Novel persis adalah kisah guru-guru di sekitar kita hari ini. Buk guru Desi di dunia nyata memang banyak sekali.
Dan kita sama-sama melihat tak sedikit orang-orang seperti itu yang penuh jasanya dalam sunyi pengabdian dan dedikasi tinggi untuk pendidikan negeri ini, bahkan mereka rela menukar segala mimpi-mimpi dalam dirinya meski seindah apapun mimpi itu berjanji dan mereka melakukannya dengan kesadaran utuh dan kerelaan penuh.
Seperti kata buk Desi pada Ibunya ketika dirayu untuk tidak menjadi guru di pelosok negeri ini yang menjadi Favorite ku :
" ... Pendidikan itu memerlukan pengorbanan bu. Pengorbanan itu nilai tetap,konstan, tak boleh berubah".
Barangkali semangat itu juga yang pegang erat-erat bapak bersepatu lusuh ini. Pengorbanan tetap, konstan dan tak berubah. Karena mana mungkin ia bertahan sejauh ini jika tidak punya nilai yang dipegang teguh.
Dan realitanya, para pendidik tak tersorot ini terseok-seok memenuhi kebutuhannya padahal cita²nya mulia, jasanya besar dan pengorbannya tulus. Negara berhutang besar kepada para pendidik itu. Sudah seharusnya menjadi perhatian utama para pemangku kebijakan. Tapi nyatanya memilukan.
Pilu, apalagi jika pergi ke pelosok-pelosok akan kita saksikan bagaimana jatuh dan tertinggalnya banyak hal. Termasuk bisa melihat lebih lekat wajah Pendidikan Indonesia dalam kemiskinan. Yang miskin tetap dengan kemiskinan, pendidikan tanpa fasilitas yg jauh dari kelayakan.
Tetapi begitulah, jalan juang sunyi pengabdian selalu terpinggirkan. Jauh dari pujian, terhalang dari apresiasi dan penghargaan. Ini menyedihkan sekali.















