Memaafkan Diri Sendiri
Moment lebaran adalah moment yang paling banyak di tunggu setelah ramadhan. Bukan hanya orang tua saja yang menantikannya, bahkan balita pun bahagia menanti kehadirannya.
Apa yang paling di rindukan dari moment lebaran? Dulu waktu saya kecil, lebaran berarti beli dan pakai baju baru+sandal ber hak agak tinggi. Hehe, sekarang kok melihat anak-anak perempuan di belikan sandal heels tinggi di usianya yang masih kecil, saya agak terganggu. Merasa sandal-sandal tsb kurang aman untuk mereka pakai. Ngebayangin dulu kok bisa ya saya pakai wedges anak-anak? Padahal di usia remaja dan wanita dewasa rasanya pakai high heels itu adalah suatu ke riweuh an yang hakiki bagi saya…
Beranjak remaja, lebaran bagi saya berarti dapat saku banyak. Semakin tinggi tingkat sekolah, semakin tinggi pula nilai rupiah dalam angpau. Hehe.
Ketika jadi wanita pekerja, lebaran bagi saya adalah berbagi THR untuk orang tua, berbagi saku untuk keponakan, sepupu dan anak-anak tetangga sekitar rumah. Gak ada lagi yang ngasih saku…
Ketika jadi istripun sama. Masih seperti wanita pekerja, bedanya yang bekerja suami. Saya bagian manajer keuangan saja.
Ketika jadi ibu, harus berpikir lebih kompleks lagi. Mulai dari belanja hantaran lebaran, kue kering lebaran, baju anak ibu dan suami, hingga saku lebaran untuk keponakan, sepupu dan anak tetangga.
Dan saling memaafkan adalah yang paling setia menunggu hingga kita sadar makna lebaran sesungguhnya. Iya. Saat lebaran tiba, pasti silaturahmi lebih intens dari biasanya. Selain di bumbui komen-komen yang kurang nyaman, ia juga menyuguhkan moment saling memaafkan satu sama lain.
Saya berharapnya hanya moment saling memaafkan saja yang ada di lebaran tahun ini. Sedikit menengok luka, sepertinya masalahnya ada pada diri saya sendiri. Sakit itu sebenarnya bukan dari pengaruh apa kata orang… Tapi diri saya sendiri yang mencipta. Mungkin saat saya bertemu mereka, maaf adalah hal yang tulus mereka berikan. Toh, tak ada hebatnya saya jika mereka masih komen negatif tentang ini itu… Maaf sungguh mudah di berikan pada seorang lemah yang semakin lama di pandang semakin mereka anggap banyak kekurangannya. Hehe.
It’s okay. Namun hanya karena mereka memberikan komen negatif yang tak sesuai dengan keinginan saya, kemudian saya berfikir bahwa mereka benci saya. Maafpun hanya sekedar kata…
Mungkin kesalahan itu adalah saya sendiri. Saya lupa cara memaafkan diri sendiri, hingga lupa bahagia maupun duka kita sendiri yang mencipta…
Mohon maaf lahir dan bathin.










