kerlip kecil saling berpendar menunjukkan jejak-jejak itu,
jejak jejak yang tersembunyi dibalik belukar lelah.
jejak demi jejak yang telah lama ditinggalkan oleh Raka Pramesvara,
pijar yang lama ditinggalkan oleh Petra Pijar,
jejak yang telah teraliri oleh air yang menyegarkan, Praba Amerta,
pendar yang telah dilindungi oleh Antakusuma,
jejak yang dulu dipijak dan dijaga oleh Winaya Sunda.
Jejak demi jejak tersebut kini telah semakin tipis, tertiup angin berdesir.
membawa kristal bahagia jauh menghilang.
Pijarnya pun tak seterang dahulu, pendarnya semakin menghilang ditelan kegelapan.
jejak itu semakin terlupakan.
Tetapi jiwa-jiwa dewasa memilih untuk menghadapinya,
memilih untuk menjalani dan berpijak pada jejak yang sama,
menembus belukar lelah, menebas ranting manja.
Jiwa-jiwa dewasa memilih untuk maju, berpegang pada pendar lemah itu.
Kini jiwa-jiwa dewasa itu telah sampai di ujung jejak itu, di ujung alur itu.
Kalianlah jiwa-jiwa dewasa itu,
kalian yang terus melangkah,
kalian yang terus mencari arah,
kalian yang terus menebas lelah,
wahai pewaris jejak Raka Pramesvara,
wahai pewaris lentera Petra Pijar,
wahai pewaris kesegaran Praba Amerta,
wahai pewaris ketangguhan Antakusuma,
wahai pewaris cinta Winaya Sunda!
Kalian yang mewarisi semangat kami,
Kalianlah para pencari kemenangan,
kalianlah sinar yang akan menerangi,
sinar yang menerangi tanpa cacat.
kalian adalah Jaya Kirana!
langit gelap menjadi saksi,
bulan setengah turut mendengar,
di atas bumi ganesha ini kami berpesan,
Terangi, terangi jejak kami,
lanjutkan perjalanan kami,
kalian adalah sinar-sinar yang akan selalu berpendar dengan sempurna!