“Sandiwara Digital”.
Ada sebuah kebiasaan yang sudah menjadi fenomena serta berhasil mendapat stempel ‘wajar/biasa’ di benak banyak orang, sejalan dengan kecanggihan hidup yang ditawarkan oleh kemajuan teknologi serta perkembangan dunia digital atau media sosial dengan beragam jenis dan keistimewaan yang ditawarkan.
Kebiasaan yang saya maksud adalah menumpahkan segala drama kehidupan dalam media sosial, menceritakan tentang kuntum bunga, dan duri tajamnya. Ada seorang suami yang dimasakan oleh istrinya lalu menulis sebuah status whatsapp “Aroma surga yang mengepul dari masakan seorang bidadari”, Ada seorang istri yang digombali oleh sang suami lalu menulis “Hidup bersamamu adalah takdir indah yang telah kudiktekan kepada Tuhan”, Ada seorang gadis yang dilamar lalu menulis “Wanita baik-baik untuk laki-laki yang baik, Alhamdulillah sold out bestie”, ada seorang bujang yang mendapatkan kekasih idaman, lalu ia menulis “Tidak mengapa hidupku berliku, selama gadis jelita sepertimu bersamaku”. Menjadikan rumah tangganya bagaikan sebuah panggung sandiwara yang dapat ditonton oleh siapa pun yang ingin menyaksikan.
Padahal di waktu yang sama, mata-mata hasad bisa saja mengintai dari ujung sudut yang tak diketahui, dan dapat menyambar kebahagiaan itu lalu menggantinya dengan penyesalan yang berkepanjangan. Nabi Muhammad ﷺ bersabda:
الْعَيْنُ حَقٌّ، ولو كانَ شيءٌ سابَقَ القَدَرَ سَبَقَتْهُ العَيْنُ
“Ain itu benar-benar ada! Andaikan ada sesuatu yang bisa mendahului takdir, sungguh 'ain itu yang bisa.” (HR. Muslim No. 2188).
Dalam sebuah hadits dikisahkan bahwa malaikat Jibril alaihisalam datang meruqyah Nabi ﷺ dengan sebuah doa yang kelak Nabi ﷺ bacakan kepada kedua cucu kesayangan beliau yaitu Hasan dan Husain:
باسْمِ اللهِ أَرْقِيكَ، مِن كُلِّ شَيءٍ يُؤْذِيكَ، مِن شَرِّ كُلِّ نَفْسٍ، أَوْ عَيْنِ حَاسِدٍ، اللَّهُ يَشْفِيكَ، باسْمِ اللهِ أَرْقِيكَ.
"Dengan nama Allah, saya meruqyahmu dari segala sesuatu yang menyakitimu, dari kejahatan setiap jiwa atau setiap mata yang dengki, semoga Allah menyembuhkanmu, dengan nama Allah saya meruqyahmu". (HR. Muslim no. 2186).
Maka mendatangkan sebab sesuatu yang kita sendiri diperintahkan untuk berlindung darinya merupakan indikasi kurangnya pemahaman atau perenungan terhadap hal tersebut.
Maka hal ini merupakan sebuah kewajaran yang dapat mengeringkan dermaga kasih sayang dalam rumah tangga seseorang, sebuah kewajaran yang dapat meruntuhkan istana cinta yang telah dengan letih disusun setiap potong batu batanya. Seperti menyulut api di sisi genangan minyak yang sewaktu-waktu dapat berkobar dan menghanguskan. Seperti menempatkan diri di atas terumbu karang dengan ombak gila yang dapat menghempas dan menghanyutkan.
Jangan sampai status di atas suatu hari berubah disebabkan dampak dari statusnya yang lalu, semua itu menjelma menjadi “Setiap insan memilki ujian, dan ujianku adalah bersanding denganmu”, atau “Semua yang berkumis sama saja” tidak lupa dengan emoji menangis satu baris. Ain telah mengetuk pintu rumah tangganya. Pandailah mengambil pelajaran atas semua yang kita saksikan, sebuah pepatah arab mengatakan السَّعِيْدُ مَنِ اعْتَبَرَ بِغَيْرِهِ “Orang beruntung adalah yang pandai mengambil pelajaran dari orang lain”.
Miris di atas kemirisan adalah jika seorang suami mengumbar tentang istrinya atau meridhoi hal tersebut dari istrinya. Seseorang yang memikul tanggung jawab besar atas setiap tingkah laku gadis yang ia pinang, dan berkewajiban untuk menjaga serta mendidik justru mencontohkan hal yang menyalahi syariat dan nalar sehat. Bukankah Nabi ﷺ bersabda:
كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ فَالْأمِيْرُ الَّذِيْ عَلَى النَّاسِ رَاعٍ عَلَيْهِمْ وَهُوَ مَسْؤُولٌ عَنْهُمْ وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بيتِهِ وَهُوَ مَسْؤولٌ عَنْهُمْ وَالْمَرْأةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ بَعْلِهَا وَوَلدِهِ وَهِيَ مَسْؤُوْلَةٌ عَنْهُمْ وَعَبْدُ الرَّجُلِ رَاعٍ عَلَى بَيْتِ سَيِّدِهِ وَهُوَ مَسْؤُولٌ عَنْهُ أَلَا فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
"Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian bertanggung jawab atas kepemimpinannya. Seorang Imam adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas kepemimpinannya, laki-laki adalah pemimpin di dalam keluarganya dan bertanggung jawab atas kepemimpinannya, wanita adalah pemimpin di rumah suaminya dan bertanggung jawab atas kepemimipinannya, seorang pembantu adalah penjaga harta tuannya dan bertanggung jawab atas apa yang dijaganya. Setiap kalian adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas kepemimpinannya". (Muttafaq Alaihi).
Memang dengan kecanggihan teknologi yang ada saat ini membuat jarak pandang kita terhadap kehidupan orang lain dapat seribu kali lebih luas dan jauh, seseorang di ujung timur dapat mengetahui nasib dan kualitas hidup seseorang yang berada di ujung barat. Orang yang bijak bisa menyikapi dan memfilter, sedangkan yang kurang pandai memosisikan diri di hadapan fasilitas yang teknologi tawarkan berlahan akan ikut merasakan kegersangan akan penilaian serta pengakuan orang lain. Sehingga kurang ‘afdhol’ apabila keberhasilannya tidak diketahui oleh orang lain, keharmonisannya tidak diidolakan oleh orang lain, atau kebahagiaanya tidak didambakan oleh orang lain.
Tidakkah privasi itu begitu spesial?! Engkau bermandikan kasih sayang pasangan dan tidak ada seorang pun yang mendengkinya, engkau mencapai suatu prestasi dan engkau tetap tenang elegan, merayakannya bersama orang-orang terkasih, tanpa seorang pun menginginkannya, engkau selesai beribadah dan hanya dirimu dan Allah ﷻ yang menyaksikannya, berharap balasan yang sempurna hanya dari-Nya.
Allah Ta’ala A’lam.
(Arfat Ardi.
Tulisan ini tidak ditujukan kepada siapapun secara personal, dan permisalan dari status di atas tidak diambil dari siapapun. Bagi yang memiliki pandangan berbeda, silahkan jalani hari dengan pilihan masing-masing).








