Yang Tak Terucap: Di Teras Rumah
Matamu terlihat menyesal. Meski terdapat sedikit sisa-sisa keras kepala, kali ini kamu terlihat pasrah. Kamu mengaku kalah, kamu mengaku salah.
Jarak wajah kita tidak sampai sejengkal, dan aku memberanikan diri menanyakan pertanyaan yang menurutku tabu; “memangnya, aku kurang apa?”
Aku mengulang, “aku… kurang apa? Sampai-sampai kamu bisa–”
“–Dekat sama dia?” Tanyamu dengan ujung bibir yang sedikit naik. Aku cuma mengangguk malu. Senyum kamu malah mengembang, membuatku harus memalingkan wajah. “Kamu mau jawaban jujur atau bohong?”
Kali ini, aku yang nyengir. “Bohong,” jawabku mantap.
Kamu menutup mulutmu, menatapku masih dengan tatapan pasrah meski kamu terlihat lebih tidak depresi dengan senyuman kecil di bibir. “Kamu kurang semuanya,” ucapmu.
Aku memejamkan mata, langsung menerka kebohongannya. “Itu sih, bohong betulan,” gumamku kesal.
“Kamu kurang semuanya… Kamu cuma punya satu kelebihan,” kamu memajukan wajahmu, senyummu jadi senyum sendu. “Kamu dekat sekali denganku.”
“Cemen, masa begitu saja nggak kuat?” Kataku pelan.
Kamu menatapku sebentar sebelum mendaratkan bibirmu di dahiku. Lama. Lalu kamu berkata, “aku baru pertama kali begini. Kamu bukannya sudah? Tahan setahun kan?”
Ini kali pertamaku juga. Sayang, ini kali pertamaku juga. Yang kita rasakan itu sama, tapi kamu mengatasinya lebih mudah daripada aku. Rasanya nggak adil. Jadi, kita ini sebetulnya apa? Buang-buang waktu saja?
Pada akhirnya, aku cuma tersenyum.
“Kamu nggak bakal ninggalin aku kan?”
“Kamu baik. Kamu baik banget. Kalau sama yang lain, mungkin aku sudah diputusin.”
Senyumku turun sedikit. Kamu nggak tahu aja, baik sama bego itu bedanya setipis sepertujuh dari satu centimeter helaian rambut. Kali ini, rasanya aku bego banget kalah (lagi) sama mukamu yang memelas itu.
Semalam itu, aku berharap aku bisa jadi lebih egois. Sedikit lagi saja.