harus kah kita menjadi sama?
sebagai manusia hal yang amatlah wajar ketika menyenangi keselarasan
Kecendrungan ini membawa seseorang pada anggapan aku harus sama dengan yang lainnya
Sebab berat jika harus menghabiskan waktu dengan melawan arus sendirian terlebih jika itu menyangkut pada prinsip dan tujuan hidup
Bahkan jika dirimu adalah seorang introvert, dirimu pun butuh teman !
Tidak di pungkiri bahwa memiliki teman untuk berjalan bersama sangatlah menyenangkan sekaligus sangat menantang. Sebab si teman ini bagaikan booster yang bisa menguatkan yang lemah dan melemahkan yang kuat.
biar lebih jelasnya lagi, aku akan bercerita tentang seorang teman
Jadi aku memiliki seorang teman yang amatlah berharga di hidupku, ia begitu indah..
Salah satu Nikmat Tuhan yang paling ku syukuri, hadirnya tidak kusangka dan terbayang sebelumnya..
Berawal dari tak kenal dan menjadi amat dekat, sungguh seperti tak ada jarak.
Aku senang memandangi matanya berlama-lama, aku senang dengan ketulusannya, aku senang dengan baiknya, aku senang dengan lembutnya.
Aku juga senang ketika ia menawarkan diri untuk menjadi kakak karna ia tahu aku sangat-sangat ingin memiliki seorang kakak yang baik hati
Ia juga pernah menawarkan diri menjadi orang tua di saat aku bagai seekor anak itik yang membutuhkan induk
Menjadi guru di saat banyak hal yang membingungkan, menjadi dokter di saat ku merasakan sakit yang tak tertahankan
Segalanya.. ia bersedia menjadi segalanya untukku..
Saking dekatnya kami tanpa sadar banyak hal yang telah berubah dari kami
Aku menjadi seperti dirinya dan dirinya menjadi seperti diriku.
Dahulu aku berpikir untuk menjadi benar-benar ‘sama’ ia pun harus merasakan apa yang kurasakan,
Bagiku Itulah bentuk bersatu sebenarnya
Itu dulu…
Tapi, kadang.. melihat seseorang yang berharga di hidup kita ikut merasakan sakit..
rasanya lebih sakit dari pada rasa sakit itu sendiri
Dari situ pun aku mengerti, tidak semua hal baik untuk di bagi
Dengan egoisnya aku begitu sering memaksanya untuk jangan pernah meninggalkanku.
Lalu bagaimana jika racun dari segala racun dan sumber sakitnya adalah diri ini?
Masihkah aku harus se- ego itu?
Aku tidak tau dengan pertemanan ini akan merubahnya menjadi pribadi yang sangat berbeda… dan seakan terus tidak puas aku pun terus memaksanya meninggalkan dirinya sendiri untuk menjadikan ia sebagai seorang yang sangat ideal mirip dengan imaji ku,
aku selalu ingin tau semua hal tentangnya
semuaanyaa… bahkan hal yang tersembunyi dalam dirinya ingin sekali ku ketahui, ingin ku kuasai dan ku penuhi sebagaimana dirinya di hatiku.
Aku tak tau apa yang menyebabkan sesuatu dalam diri ini begitu besar untuknya, apa karna ia yang datang pertama kali memberi air di kala diri ini kering hampir mati? Entahlah…
Namun yang kini menjadi hal yang paling mengganjal di antara pertemanan kami adalah tentang aku dan imajiku yang menganggap kami adalah satu kesatuan, tanpa ada yang membatasi
Padahal tidak begitu, aku yakin aku pun memiliki tempat dalam dirinya namun tidak bisa memiliki semuanya sebab ia masih menginginkan dirinya sendiri tanpa kendali siapapun.
Tapi jika di tanya dimana tempat dirinya di dalam diriku , aku akan menjawab dia sudah mendapatkan seluruh dari aku jauh lebih dalam dari apa yang ia kira.
saking dalamnya aku sampai tak mengenal diriku lagi sebab bagai telah dimabukkan oleh dirinya sampai-sampai aku terus menangis tiap kali gagal untuk menjadi dirinya.
di sisilain ada rasa takut jika hal ini membawa dirinya pada rasa tak senang dan memaksa ku harus jauh darinya
makanya sering ku katakan pada teman ku ini jangan minta aku menjauh darimu sebab niscaya aku akan benar-benar melakukan itu bahkan lebih jauh dari yang engkau kira
26 maret 2021 (01:47)








