#asudahlah #awaslhoyaaa #yawes #njajalpikiren #tenanan #ikidudukguyon
seen from United States
seen from France
seen from Belgium
seen from China

seen from Singapore

seen from New Zealand
seen from United States

seen from Malaysia

seen from Singapore
seen from Denmark
seen from United States

seen from France
seen from China
seen from Singapore

seen from United States
seen from Croatia
seen from Singapore
seen from United States
seen from United States
seen from China
#asudahlah #awaslhoyaaa #yawes #njajalpikiren #tenanan #ikidudukguyon
#tenanan
#biasaaaja#dojagongan#baiturrahman#santrendelik #ramadhan#tenanan
#dojagongan#santrendelik#baiturrahman#ramadhan#tenanan#ajakanggo#dolanan#tobaters
Sistem SKS untuk SMA?
Baru beberapa saat yang lalu, admin twitter official siswa SMA saya dulu SMA N 3 Semarang menuliskan beberapa hal tentang sistem SKS. Ya, SKS. Di situ dikatakan sistem SKS sebagai syarat SBI. Untuk 3 tahun terakhir, saya bangga dengan status RSBI, tapi setelah setahun saya di FSRD ITB, semuanya jadi bullshit. Kenapa? Karena sebenarnya, sistem SBI cuma menjadikan siswa yang ada di SMA situ tidak menjadi 'manusia'. Saya mau mengutip kuliah dosen Kreativita Humanita saya, 'Manusia mempunyai 3 unsur, atau elemen yang diberikan Tuhan sebagai anugerah kepada kita. Rasio atau logika, Kreatifitas, dan Fisik. Binatang, sebagai makhluk hidup juga, hanya memiliki fisik yang bintang lima, dan fisik bintang satu atau naluri. Mereka tidak punya kreatifitas, dan bertindak berdasar naluri. Komputer, sebagai benda ciptaan manusia, hanya memiliki rasio dan fisik yang kuat, tidak punya kreatifitas. Kalau komputer punya kreatifitas, maka nggak bakal ada manusia di dunia ini.'
See? Manusia dikasih 3 anugerah, yang harus diseimbangkan, atau paling tidak disinergikan. Pendidikan dasar adalah contoh bagus sebagai lembaga untuk membentuk ketiga elemen tersebut. Mungkin kita nggak sadar kalo dari SD kita lebih banyak dijejali dengan teori-teori dan formula rumusan tertentu dan kita hanya disuruh menghafal. Padahal, seharusnya, masa kecil beranjak remaja adalah masanya untuk mencoba, bukan menggunakan cara yang sudah ada. Itu terus berlanjut sampai kita kuliah kita terus dikasih aja yang namanya itu rumusan segala macam yang harus dihafalkan. Saya tidak menyindir mata pelajaran apa, atau jurusan apa, tapi ya, itu yang terjadi.
Sistem SKS ini membebaskan siswa untuk mengambil pelajaran tambahan atas persetujuan guru pembimbing di hari off, atau biasa Hari Sabtu yang digunakan untuk ekskul. Saya masih belum ngerti, kenapa masih harus ditambahkan pelajaran sekolah lagi kalau di hari itu sudah ada kegiatan yang sifatnya refresh? Saya sih berharap anak SMA 3 Semarang udah cukup ngerti masalah ini, dan bukan saya berniat menghasut, tapi sudah cukuplah pelajaran kalian dari jam 6.45 sampai 14.30 dari Senin sampai Jumat itu. Tidak usah ditambahkan di Hari Sabtu lagi. Cukuplah itu prestasi-prestasi akademis yang kalian dapat selama ini. pertahankan, tapi yang non-akademis pun harus ditinggiin. Jangan mentang-mentang SBI tapi cuma olimpiade akademis saja yang BISA dibanggakan. No offense.
Tertanda, alumni yang banyak bicara