Sore itu, sepulang kantor saya mengarahkan motor saya ke daerah Jl. Supratman. Setelah melewati Pusdai, kecepatan motor saya kurangi karena khawatir tempat praktek dr. Pories Setyadi, SpOG terlewat. Kali pertama saya datang kesini, setelah siang sebelumnya saya sempat menelefon. Yang berbicara diseberang sana sangat ramah, menyarankan saya untuk datang saja jam 4 sore dan langsung daftar ke suster.
Pukul setengah lima lebih, saya sudah tiba disana. Hari itu beruntung, karena tidak ada antrian yang panjang. Setelah daftar, saya pesan sama suster jika ada pasien lain datang, persilahkan duluan saja, karena saya menunggu Mas Arief yang menyusul sepulang kerja. Mas Arief sampai di tempat praktek pukul setengah enam, sudah ada dua pasien yang melewatkan saya. Pegangan tangan erat, saling menyakinkan setelah itu kita berdua masuk ke ruangan periksa setelah dipanggil.
Masuk, disambut dr. Pories yang duduk di kursi belakang meja tengah. Perawakannya putih bersih memakai jas dokter, rambutnya yang sudah memutih seakan menjadi saksi panjangnya jam terbang beliau menjadi dokter. Setelah mengobrol sebentar, menceritakan bagaimana kondisi kami berdua, dr. Pories mempersilahkan saya untuk berbaring. “USGnya trans-v ya, supaya kelihatan, kalau dari atas aja suka ngga jelas.” Katanya. Kali pertama saya di USG trans-v, rasanya kurang nyaman, tapi karena dokternya tegas jadi manut aja. Dari USG terlihat rahimnya seperti ada perekatan dan miom. Dokter bilang ngga usah khawatir, kita sama-sama berusaha untuk program hamil, tapi harus sabar melalui prosesnya. Setelah diperiksa saya dikasih resep obat untuk menyeimbangkan hormon, Mas Arief diminta untuk melewati serangkaian tes darah dan tes sperma. Selain obat, saya juga diminta untuk HSG. Histerosalpingography adalah merupakan pemeriksaan yang digunakan untuk mengetahui kondisi rahim dan saluran telur (tuba fallopi). Pemeriksaan untuk melihat rahim dan saluran tuba dengan menggunakan bentuk khusus sinar-x yaitu fluoroskopi dan pewarna kontras. Pewarna kontras yang larut dalam air akan disuntikan sehingga membuat bentuk rahim dan saluran tuba terlihat, apakah ada kelainan ukuran atau bentuk rahim yang dapat menyebabkan infertilitas dan masalah pada kehamilan. Juga dapat menunjukkan apakah ada penyumbatan pada saluran telur.
Rangkaian HSG tidak bisa dilakukan kapan saja, ada perhitungannya dan kalau tidak salah harus dilakukan pada hari ke 8,9,10 atau 11 setelah hari pertama haid. Besoknya saya mulai cari tau, apa itu HSG, bagaimana prosesnya, apa efek sampingnya. Setelah cari tahu, baca ini itu, tanya kesana kemari, yang saya simpulkan setiap prosesnya punya efek yang berbeda di masing-masing. Ada yang sakit, ada yang sampai pendarahan, tapi bahkan ada yang tidak sakit sama sekali. Jadi, percaya dan ikhlaskan saja, karena kita pasti ditangani oleh dokter yang tepat, profesional, dan sudah banyak pengalaman. Ingat, percaya dan ikhlas.
Pagi itu, di hari ke sepuluh setelah hari pertama haid, saya pergi ditemani Wa Heny & Mas Arief ke RS St. Borromoeus dan langsung menuju bagian Radiologi. Hari itu saya dijadwalkan untuk HSG pukul sepuluh pagi. Karena sedang bulan ramadhan, terpaksa saya tidak shaum. Kata Uwa, efeknya bisa jadi mual sehabis HSG jadi baiknya sarapan dulu. Selain itu, persiapkan celana dalam untuk ganti, pembalut dan jangan lupa pakai baju yang nyaman dan agak longgar. Setelah tiba giliran saya, saya masuk sendiri ke ruangan radiologi. Keluarga bahkan suami tidak diperkenankan masuk. Pada saat itu saya di titik pasrah, apapun hasilnya nanti, pasti akan ada solusinya.
Setelah masuk ke ruang radiologi, saya disuruh ganti baju dan menunggu. Dokter radiologi pun datang, menjelaskan semua tentang HSG. Rasa khawatir saya sedikit berkurang. Proses HSG membutuhkan waktu kurang lebih tiga puluh menit. Hasil HSG bisa ditunggu selama satu jam, biayanya pada bulan Mei 2019 sekitar 1,2 juta. Detailnya proses HSG tidak perlu saya ceritakan, yang jelas pesan saya, percaya saja kita akan ditangani oleh orang yang tepat dan harus ikhlas. Tidak perlu ingat cerita pengalaman orang, karena pengalaman kita belum tentu sama. Nikmati dan ikhlaskan saja pengalaman kita sendiri ya. :)