Siapa Yang Sayang Aku?
“Kenapa masih ndak paham, sih?”
Tertulis biasa saja, namun terbaca seperti bentakan. Siapa yang tidak paham? Saya? Di mana letak ketidak-pahaman saya? Apa karena saya terlalu memaksakan kehendak saya pada kalian? Apa saya terlalu menuntut perhatian kalian? Tolong beritahu, pada bagian mana yang tidak bisa saya pahami dari kalian.
Saya tahu, saya terlalu terinfeksi kenyataan di sekitar saya; bahwa banyak manusia bahagia dengan keluarga sebagai indikatornya. Saya terpengaruh. Saya ikutan kepingin. Sebab itulah saya banyak menuntut pada kalian. Saya ingin kalian ada. Saya ingin kalian kembali. Saya ingin mengecap bahagia bersama kalian, barang sehari pun tak apa. Nyatanya saya salah. Tidak ada yang bisa saya lakukan selain mengutuk dan membuat banyak masalah sehingga kalian semakin menjauh. Apa yang mulanya saya kira mampu membuat saya setidaknya merasa dekat dengan kalian ternyata justru menjauhkan kalian. Kalian tetap saja saling meninggalkan. Meninggalkan saya dalam tanda tanya yang semakin membuat saya pening. Membuat saya merasakan sakit.
Saya harus apa?
Tolong, tolonglah! Sekali saja. Sekali ini saja. Jangan menyalahkan saya! Saya sudah kenyang menjadi tumpuan kesalahan. Saya sudah kenyang disebut bodoh. Saya sudah kenyang dimaki-maki. Tolong, sekali saja rangkul saya. Tolonglah, jadilah ada ketika saya benar-benar sudah tidak mampu bangkit. Tolong!
Bukan. Bukan saya tidak tahu bagaimana keadaan kalian masing-masing. Bukan saya tidak tahu bagaimana kondisi kalian sekarang. Saya mengerti. Sangat mengerti. Saya paham. Justru saya ingin kita saling menguatkan. Bukan saling meninggalkan. Saya merindukan semangat yang dulunya sering kalian suntikkan pada saya. Bukan keluhan. Bukan bentakan. Tolong ya. Kalau bukan kalian, siapa yang akan menyayangi saya?












