Ruang Terus Terang
Kita mungkin pernah, menjadi sepemurah-murahnya pemberi, pemberi masukan. Atau sepelit-pelitnya penerima, penerima nasihat.
Dari yang kulihat, kamu hanya butuh satu ruang lagi, ruang berterus terang.
Dalam ruang itu kamu bisa bicara jujur. Mengungkapkan isi hati, mencurahkan buah pikir.
Kadang, terlalu banyak orang yang dihadapi atas satu persoalan, membuat kita hanya ingin bungkam. Tapi kebungkaman itu kalau dibiarkan bisa menjadi bom waktu, yang bisa meledak kapan saja.
Makanya, kita perlu ruang yang baru. Tidak harus petakan sempit di sudut bangunan, atau saung dipinggiran ladang, ruang itu bisa jadi seseorang atau sesuatu, buku misal.. Hihi














