THE JADUGAR, KOLEKTIF PENGOBRAK-ABRIK VIDEO MUSIK
INSIDE THE WEIRD WORLD OF KENDRA AHIMSA
MIMPI INDONESIA YANG TERAJUT LEWAT AMBISI KINARYA GSP
seen from United States
seen from Russia

seen from China

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from Australia
seen from United States

seen from Maldives
seen from Bangladesh
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from South Korea
seen from Malaysia
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from Maldives
THE JADUGAR, KOLEKTIF PENGOBRAK-ABRIK VIDEO MUSIK
INSIDE THE WEIRD WORLD OF KENDRA AHIMSA
MIMPI INDONESIA YANG TERAJUT LEWAT AMBISI KINARYA GSP
(sedikit banyak soal) Arsip dan Pengarsipan (dalam bermusik)
Sebagai warga Jakarta (setidaknya saya menghabiskan banyak waktu di kota ini) yang senang bereksplorasi dan berbaur dengan sekitar, skena musik independen lokal merupakan hal yang tidak bisa dilewatkan. Dari pusat kota hingga daerah-daerah pinggiran, semuanya menawarkan rasa yang beragam. Semua yang ada di dalam nya, mulai dari pelaku, penikmat, dan banyak pihak lainnya saling mendukung dan bersaing, melakukan apapun agar hiruk pikuk itu tetap hidup. Segala bentuk usaha dilakukan, berusaha menghasilkan sesuatu yang baru dan menyegarkan dengan tujuan nya masing-masing. Inti nya, secara sadar atau tidak, Jakarta memiliki ekosistem musik independen yang keren.
Berbicara soal usaha yang dilakukan, ada satu bidang yang akhir-akhir ini menarik perhatian saya. Setelah beberapa saat saya nongkrong sana sini, saya menemukan istilah yang bisa dibilang belum populer pada masyarakat, pengarsipan. Secara umum, semua orang mengerti apa itu arsip dan pengarsipan. Namun, entah kenapa, proses tersebut masih terbilang jarang dalam berbagai bidang. Di samping faktor sentimental yang memang berbeda tiap individu nya, mungkin belum ada budaya yang konsisten soal pengarsipan. Dalam skena musik, semua orang yang ada di dalamnya pasti memiliki (atau setidaknya pernah memiliki) berbagai bentuk memorabilia yang dirilis. Nasib dari memorabilia tersebut jelas berada di tangan pemiliknya, entah akan menjadi sesuatu yang personal atau hanya menjadi barang usang yang dapat menjadi sampah (yang seharusnya dapat diolah). Beruntungnya, banyak dari teman-teman yang berusaha mengabadikan segala bentuk memorabilia tersebut. Apapun output nya, usaha tersebut dapat saya simpulkan sebagai pengarsipan.
Bentuk output pengarsipan musik bisa beragam. Pada tulisan ini, saya akan membahas dua output pengarsipan yang telah dilakukan, yaitu instalasi memorabilia rilisan fisik yang dilakukan oleh band asal Cikini, White Shoes and The Couples Company dan buku arsip oleh The Jadugar. Instalasi tersebut merupakan salah satu objek dalam pameran ICAD 2018, yang diadakan di Grand Kemang Hotel. Berbentuk ruang bersantai dilengkapi dengan meja biliard dan kursi santai, memorabilia WSATCC ditata dengan rapi. Tembok-tembok dipenuhi bingkai berisi artwork yang menggambarkan perjalanan band tersebut. Mulai dari poster konser hingga ilustrasi lagu-lagu yang telah dirilis. Mengingat setengah dari personel WSATCC merupakan lulusan seni rupa, maka tidak heran jika band tersebut kaya akan memorabilia dalam bentuk ilustrasi dan desain. Lanjut ke area tengah ruangan, terdapat sebuah meja yang dilapisi kaca. Di dalamnya terdapat rilisan fisik seperti piringan hitam, kaset, cd, booklet, dan zine. Saya sangat menikmati instalasi ini. Selain karena saya suka dengan band ini, saya juga mendapatkan pengetahuan lebih tentang macam-macam medium yang bisa digunakan dalam berkarya. Semua cerita tentang White Shoes and The Couples Company bisa diungkapkan lewat arsip karya mereka.
Selanjutnya, adalah buku arsip The Jadugar. Mereka adalah Henry Foundation dan Anggun Priambodo, duo pembuat video spesialis video musik yang berjaya pada sekitar tahun 2003-2005. Video musik yang telah mereka buat sangat beragam. Mulai dari debut nya, video musik Train Song dari LAIN hingga yang terdalam dari band yang sangat besar pada era itu, Peterpan. Karya-karya mereka akhirnya berhasil diarsipkan dan dipublikasikan dalam bentuk buku. Isi buku tersebut adalah wawancara-wawancara banyak pihak terkait kinerja The Jadugar. Cerita dan pengalaman The Jadugar dan orang-arang di sekitarnya memberikan banyak sekali ilmu penting akan video, khususnya video musik. Belum lagi beberapa artifak yang ditampilkan di dalam buku tersebut, Gambar-gambar rancangan, gambar hasil syuting yang dipakai maupun tidak, serta foto-foto behind the scene. Dengan adanya publikasi tersebut, saya dapat melihat bagaimana mereka bekerja dan menjadikan mereka sebagai referensi dalam bekerja.
Banyak nya memorabilia yang telah mereka hasilkan, mengungkapkan bahwa mereka telah mengarsipkan karya mereka sendiri dengan baik. Selain sebagai pencapaian atas karya mereka sendiri, pengarsipan juga berguna bagi khalayak umum yang menurut saya sangat butuh pengetahuan-pengetahuan tentang berbagai macam hal, kali ini khusus nya musik. Pengetahuan yang terpelihara dan tersusun rapi dapat dijadikan referensi baru. Apalagi, skena musik independen di Jakarta sangat ramai, sehingga dibutuhkan pengarsipan yang jelas agar hasil karya yang ada menjadi abadi.
Dua contoh output pengarsipan musik di atas merupakan salah dua diantar sekian banyak usaha-usaha yang dilakukan. Masih banyak lagi yang belum bisa saya bahas kali ini (mungkin akan saya bahas di lain tulisan). Nama-nama seperti buku seri wawancara Musik Jakarta oleh Felix Dass dan John Navid, kolektif arsip musik Irama Nusantara, dan lain sebagainya juga turut berkontribusi dalam mengarsipkan karya musik. Tujuannya sama, merapikan segala bentuk hasil karya dan mengabadikannya, agar dapat dinikmati dan dipelajari oleh semua orang. Selain itu juga juga dapat mengedukasikan berbagai referensi yang keren (mungkin terdengar subjektif, tapi memang banyak hal keren yang belum diarsipkan dan dipublikasikan). Agar budaya mengarsipkan dapat terus berjalan, diperlukan kontribusi dari berbagai pihak. Jadi, sebisa mungkin semua nya turut berpartisipasi dalam menjaga dan memelihara segala hasil karya dari band-band dan pelaku lainnya agar terus ada dan abadi. Dan tentu saja agar semuanya juga bisa menikmati dan berbagi referensi yang luas (dan keren). Cheers
This is another video music directed by The Jadugar, (Boys Are Toys - Alibaba)
Ini ternyata lagu lama yang di recycle sama Boys Are Toys, dulunya dinyanyikan sama band Dara Puspita di tahun 1960-an. Lirik lagunya sederhana jujur apa adanya dan bikin agak ngikik pas dengernya. Video yang dibuat sama The Jadugar ini juga menarik, sepertinya tidak perlu ber-budget sampai milyaran rupiah tapi hasilnya memikat hati seperti ini. Justru yang besar disini ada idenya itu loh.. :) *plok plok plok*
Sedang mengintip-ngintip video-video yang di-direct sama The Jadugar, salah satunya Bandempo ini. Cara bernyanyi vokalisnya yang terdengar lucu, boneka-boneka yang jadi pemeran utamanya pun lucu, dan judul lagunya juga menarik: PDKT 6bln *maaf kalo ada yang tersindir dengan judul lagunya hahaa