"Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Proyek Menulis Letters of Happiness: Share your happiness with The Bay Bali & Get discovered!”
Langit sudah menampakkan warna jingga indahnya, namun keindahan suasana saat itu tidak dapat terlukiskan dengan potret oleh fotografer dan jenis kamera secanggih apapun. Beratapkan warna jingga, di atas jembatan DeOpera yang penuh dengan cahaya dari lampu-lampu yang mulai menerangi ruang yang mulai tertutup oleh gelap, seorang lelaki berdiri dihadapanku sambil menyodorkan sepiring menu dessert favorite kami dan berkata, “Shafa Nadira… maukah kamu menikah denganku?” Bisa kalian rasakan kejadian itu? Aku beritahu ya, rasanya semanis es krim vanila yang ada di atas piring yang dia sodorkan kepadaku. Hari itu menjadi episode paling indah dalam hidupku, begitu banyak hal yang tidak terduga dari awal pertemuan kami sampai akhirnya kami berada dalam episode indah itu. Sungguh Tuhan Maha Mengetahui waktu terbaik untuk kami.
Delapan bulan yang lalu aku liburan bersama teman-teman semasa SMA, kami mengadakan reuni setelah sama-sama lulus kuliah dan menyandang status Sarjana. Bali menjadi tujuan kami karena kami suka sekali pantai dan berfoto. Empat hari disana rasanya singkat jika dibandingkan empat tahun kami sibuk dengan perkuliahan kami masing-masing, kami sangat menikmati Bali saat itu, terutama aku. Karena selain reuni aku bahkan bertemu teman baru saat berlibur disana, namanya Rauf. Hari pertama sampai di Bali pastilah pantai tujuan utama aku bersama teman-teman dan disana pula aku pertama kali melihat Rauf yang sedang memotret hiruk pikuk sekitar pantai NusaDua, serius mengarahkan kameranya pada objek-objek yang menarik minatnya. Hanya sekilas aku melihat Rauf, karena akupun sibuk foto sana sini bersama teman-temanku.
Perjalanan Bandung-Bali dan kegiatan berpantai ria kami hari ini membuat kami istirahat cepat, tanpa pikir panjang setelah makan malam di Bebek Bengil kami terkapar lelah di tempat tidur dan terlelap sampai pagi. Satu cita rasa yang masih aku ingat dengan jelas adalah cake bernama Black Russian sebagai menu dessert yang aku pesan, itu enak.
Pukul setengah enam pagi keesokan harinya teman-temanku masih terlelap, aku terbangun dan pergi ke pinggir pantai berharap masih sempat melihat sunrise. Sambil berlari-lari kecil aku menghadap ke arah laut yang masih gelap, baguslah matahari belum muncul dan aku berniat menunggunya. Beberapa saat kemudian, munculah seberkas sinar dari kejauhan “Ah aku melihat matahari terbit di pantai NusaDua,” ujarku dalam hati. Aku menutup mata, merentangkan tangan merasakan angin dan sinar yang sedikit demi sedikit mulai menerangi sekujur tubuhku, sampai kemudian ada yang menepuk punggungku.
“Itu kayak adegan di film Titanic ya,” seorang lelaki yang menepuk punggungku itu berkata padaku.
“Eh…,” hanya itu yang aku katakan saat aku melihat wajahnya sambil menurunkan tanganku karena merasa malu.
“Yang ada masuk angin loh nanti, kan gak romantis juga jatohnya hehehe,” tambahnya lagi kemudian mengarahkan kameranya ke matahari terbit di langit pantai NusaDua. Aku masih diam dan mengamati dia yang sedang memotret.
“Kok sendirian? Emang ke Bali sendiri?” tanyanya lagi.
“Nggak, aku sama temen-temen tapi mereka masih pada tidur, capek kayaknya abis perjalanan kemarin,” jawabku tapi tidak melihat ke arahnya dan kemudian aku balik bertanya, “Kamu sendirian?”
“Nggak juga sih, aku sama temen-temen juga tapi gak aku kenal. Jadi udah dua hari disini ya kemana-mana sendiri aja cari objek yang aku suka. Oh sorry… by the way aku Rauf,” katanya seketika berhenti memotret dan mengulurkan tangannya kepadaku.
“Shafa…,” kataku menyambut uluran tangan Rauf, kemudian melanjutkan kata-kataku,”Kok bisa sama temen-temen tapi gak kenal?”
“Aku dateng kesini gratis, menang kuis traveling di twitter. Jadi ya orang-orang yang dateng sama aku itu yang pada menang kuis juga dan baru kenalan waktu berangkat dua hari yang lalu, itu juga belum kenalan sama semuanya,” Rauf menjelaskan sambil masih asik memotret.
Dialog singkat pagi itu terhenti ketika aku memutuskan kembali ke penginapan untuk sarapan dan Rauf masih tetap jalan-jalan di pantai. Saat kembali ke penginapan teman-temanku baru bangun dari tidurnya, ada yang masih duduk-duduk di tempat tidur sambil menatap layar handphone, ada yang sudah nongkrong depan tv, dan ada yang lagi sikat gigi di kamar mandi.
“Dari mana Fa?” tanya salah satu temanku.
“Lihat sunrise. Kalian tidur kayak orang mati deh,” jawabku.
“Sumpah capek banget Fa nih badan, kan sekalian nyiapin energi juga buat tiga hari kedepan hehehe.”
Setelah sarapan kami jalan-jalan lagi di pantai, foto-foto, sambil mampir untuk makan siang di salah satu resto bernama Bumbu Nusantara. Memang dasarnya kami sangat suka kuliner, jadi strategis banget jalan-jalan di The Bay Bali, komplek resto kawasan pantai NusaDua, puas deh pasti makan-makan disini.
Setelah makan siang aku memutuskan untuk leyeh-leyeh di dekat kolam renang sambil update blog dan menulis ceritaku dua hari disini, sementara teman-temanku yang lain berpencar juga melakukan kegiatan yang mereka sukai.
“Nah disini juga ternyata,” sapa Rauf sambil cengar-cengir.
“Ih ketemu kamu lagi, Uf.”
“Ngapain sendirian? Gak takut diculik?”
“Hahaha siapa juga yang mau nyulik aku, rugi makannya banyak.”
“Pada main entah kemana, mencar-mencar sih.”
“Lah kamu ngapain ke Bali cuman duduk-duduk doang di pinggir kolam? Kalau mau kayak gini sih gak usah ke Bali.”
“Nulis dulu sebentar, nanti baru nyusul yang lain. Kenapa sih kepo banget?”
“Hehehe temenin aku main sepeda aja deh yuk, sambil nyari temen-temennya. Gimana?”
“Kamu gak sama temen-temen yang berangkat bareng kamu Uf?”
“Mereka kegiatannya juga kebanyakan pada masing-masing Fa, ayolaaahh…,” Rauf memohon.
Selesai aku posting tulisanku di blog, aku menemani Rauf jalan-jalan menggunakan sepeda. Sesekali berhenti dan memotret yang menarik minatnya. Aku menemani Rauf tidak gratis, alasan mengapa aku bersedia menemaninya karena dia mau memotretku dan hasilnya aku akui lumayan keren. Menjelang sore aku dan Rauf istirahat dari jalan-jalan kami di DeOpera, kami memesan menu dessert. Cocok banget makan es krim buat yang lagi kegerahan dan butuh ngemil tapi belum terlalu lapar, suasananya juga enak buat nongkrong dan ngobrol. Tidak lama kemudian datanglah segerombol teman-temanku, menyapa kami yang sedang ngobrol dan melihat hasil foto di kamera milik Rauf.
“Yah ini anak dicariin tahunya disini,” kata seorang temanku.
“Kalian dari mana? Sini lah ngemil-ngemil dulu, jalan-jalan terus capek kali,” jawabku.
“Iya, kita ikutan ya, temennya Shafa,” kata temanku yang lain berbicara pada Rauf.
“Oh iya ini Rauf,” kataku memperkenalkan Rauf.
“Halo,” jawab Rauf sambil nyengir menatap teman-temanku satu per satu, kemudian meneruskan kata-katanya, “Eh gak apa-apa nih aku ikutan gabung? Jadi gak enak paling ganteng sendiri hehehe.” Iya lelaki bernama Rauf ini terlalu percaya diri dan urat malunya mungkin sudah putus, cengengesan banget.
Ada untungnya juga Rauf orangnya super PeDe, jadi buat gabung sama aku dan teman-temanku tidak sulit untuknya, meskipun kami semua perempuan. Sejam kami nongkrong bareng, Rauf sudah bisa ngobrol asik dengan teman-temanku yang lain. Dia sangat supel dan terlalu ajaib menurutku. Sayangnya besok siang Rauf sudah harus pulang, karena waktu traveling gratisnya itu hanya sampai hari ini. Itu kali terakhir aku bertemu Rauf di NusaDua, aku lupa bertukar kontak untuk berkomunikasi, dan baru ingat kalau foto-fotoku yang ada di kameranya belum aku copy.
Tersisa dua hari terakhir untukku dan teman-temanku, benar-benar kami manfaatkan untuk berbagai aktivitas. Biar capek sekalian dan saat pulang nanti istirahat total saja selama perjalanan. Totally… aku dan teman-temanku gosong berjamaah saat pulang ke Bandung, tapi kami puas bisa menghabiskan liburan bersama. Thank you, Guys!
Sampai di Bandung dan beraktivitas masing-masing lagi, ada yang masih menjadi job seeker dan ada yang harus rela kembali ke meja kantornya. Aku dan teman-temanku masih sering berkomunikasi dan sesekali nongkrong bareng untuk bertukar foto-foto yang ada di gadget masing-masing. Sepertinya flashdisk 16 GB tidak cukup untuk menampung album foto kami selama empat hari di NusaDua.
Sebulan kemudian setelah pulang dari liburan, aku jalan-jalan sendiri di toko buku. Mencari beberapa buku menarik untuk meng-upgrade ilmu dan memperbaiki terus gaya menulisku. Hampir sejam aku berhadapan dengan beberapa rak buku dan melihat satu per satu buku untuk aku baca sinopsisnya, sampai kemudian ada seseorang berdiri di sebelahku dan berbicara sambil memperlihatkan sebuah buku kepadaku.
“Buku ini bagus loh, udah baca belum?” katanya. Saat aku menengok ke arahnya, aku melihat wajah konyol seorang lelaki yang pernah aku temui di NusaDua, itu Rauf.
“Hai Rauuuuff… kok kamu disini?” sahutku heboh sambil memukul lengan kirinya dengan keras tanpa sadar.
“Aduh gak pake mukul juga kali Fa,” katanya sambil memegangi lengannya yang aku pukul.
“Eh sorry sorry, hahaha aku refleks Uf.”
Ternyata Rauf tinggal di Bandung juga, entah ini kebetulan atau memang sudah takdir. Obrolan itu berlanjut sambil nongkrong bareng, rasanya jika bersama Rauf bawaannya nongkrong terus. Bersama Rauf tidak pernah habis bahan obrolan, sebulan kita tidak bertemu, tanpa cerita, tapi tetap saja ada topik yang bisa dia bicarakan bersamaku.
“Oh iya Uf, foto-fotoku mana?” tanyaku.
“Yah aku hari ini gak bawa kamera, nanti deh kalau ketemu lagi aku bawain ya udah pake flashdisk deh. Oh iya sebelum lupa juga, minta kontak kamu dong Fa,” kata Rauf. Kami bertukar nomer handphone dan pin BB, kemudian masih melanjutkan obrolan ringan kami.
Setelah hari itu aku bertemu Rauf lagi untuk mengambil foto-fotoku yang dijanjikannya, komunikasi kami biasa saja, ngobrol ringan dan tidak penting, bercanda di BBM, atau membahas hal-hal di NusaDua. Sebuah percakapan kami di BBM terjadi pada suatu malam.
Rauf : Aku suka pantai NusaDua-nya dan beruntung banget bisa foto sunrise-nya waktu itu. Kebetulan nemu model juga yang gaya-gayaan kayak di film Titanic, hahaha.
Shafa : Ih ngeledek ya! Awas loh Uf, kalau ketemu aku gelitikin kamu sampai nangis.
Rauf : Aku gak geli-an kok hahaha cobain aja. Aku jadi kangen dessert yang di Bebek Bengil deh Fa, kelilingin resto buat kuliner disana asik juga.
Shafa : Kamu tuh awalnya ngomong apa, jadi nyambungnya kemana. Otak kamu itu agak geser ya Uf? Hahaha.
Rauf : Eh serius Fa, itu cake enak banget deh pasti kamu gak coba.
Shafa : Cake? Yang atasnya warna cokelat itu? Yeeehh… aku makan itu juga kali waktu makan malem pertama di NusaDua, emang enak sih Uf.
— Black Russian, at Bebek Bengil
Begitulah contoh obrolan tidak penting aku dan Rauf. Setiap ngobrol pasti saja ada sesi seperti itu. Aku dan Rauf bertemu lagi di acara reuni SMA ayahku, kami tidak pernah membicarakan mengenai keluarga dan saat bertemu di acara itu barulah kami tahu bahwa ayah kami teman sekolah dulunya. Niatnya menemani ayah yang menghadiri reuni, aku jadi merasa “reuni” juga bertemu dengan Rauf disana. Waktu berjam-jam itu tidak berasa bosan karena ada teman untuk berbagi waktu dengan cara yang menyenangkan.
Reuni SMA ayahku dan ayah Rauf berlanjut saat ayah Rauf mengajak keluargaku untuk berlibur bersama. Tempat yang dipilih adalah NusaDua Bali, belum setahun aku kembali dari sana saat berlibur bersama dengan teman-teman SMA-ku. Tapi keluarga Rauf ingin kesana karena tertarik dengan suasana The Bay Bali yang diceritakan Rauf, berangkatlah keluargaku dan keluarga Rauf sesuai rencana. Ternyata tujuan Rauf dan keluarganya ke Bali bukan hanya untuk liburan, ada hal lain mengapa Rauf dan keluarganya ingin berlibur mengajak keluargaku disana.
Sore itu langit memang belum gelap, warna jingganya indah sekali saat kami sekeluarga menunggu menu makan malam di DeOpera. Entah bagaimana cara Rauf mempersiapkan semua ini, hari ini dia menanyakan hal yang tidak pernah aku bayangkan dan aku duga dari awal pertemuan kami.
“Shafa Nadira… maukah kamu menikah denganku?” tanya Rauf saat kami berada di jembatan DeOpera, di bawah langit yang masih jingga, belum gelap sempurna. Rauf menyodorkan piring dengan menu dessert DeOpera yang sama-sama kami pesan delapan bulan yang lalu di tempat ini.
— Favorite Dessert Menu, at DeOpera
“Uf kamu ngapain sih?” jawabku sambil tersenyum kaku yang sebenarnya panik, merasa akan mendapatkan jebakan April Mop dari lelaki dihadapanku, padahal aku tahu pasti ini bukan bulan April.
“Kamu mau nikah sama aku kan Fa? Jadi istri aku,” lanjut Rauf. Aku tidak melihat lelaki cengengesan yang aku temui delapan bulan lalu sampai sebelum tiba disini.
Jujur aku bingung tapi moment ini rasanya manis sekali, semanis es krim vanila di menu dessert favorite kami itu. Setelah menarik nafas panjang dan mengucap bismillah dalam hati aku menjawab pertanyaan Rauf.
Senyum Rauf mengembang dan tidak jauh dari kami terdengar seseorang berkata, “Say cheese!” itu ayahnya Rauf, mengambil foto moment bersejarah aku dan anaknya, episode indah kami berdua.
“Aku udah siapin fotografer buat abadikan moment kita kok Fa hehehe,” kata Rauf mengarahkan pandangan kepada ayahnya, kemudian aku melihat kembali lelaki ajaib yang aku kenal delapan bulan yang lalu di tempat ini.
Tuhan memang paling tahu cara membahagiakan aku, Tuhan sudah mengatur waktu terindah untuk aku. Terimakasih karena menghadirkan Rauf Muhammad Latif dalam hidupku tepat pada waktunya. Aku mengucap syukur dalam hati saat aku melihat wajah Rauf yang tertawa menanggapi komentar ayahnya, kemudian dia tersenyum menatapku dan mengecup manis keningku.