Impian
Ketika menjadi bagian dari yang sedikit di dunia ini, yaitu hidup pada mimpi yang terwujud. Karena ada cukup banyak manusia lain yang masih mengejar mimpi. Susah payah, lelah dan tidak henti-hentinya menempuh jalan panjang perjuangan. Sedangkan di sisi lain ada satu, dua, belasan, bahkan ratusan yang berhenti. Kata mereka, jalan itu tidak untuk semua orang. Ada banyak waktu yang harus digulung. Ada banyak keringat yang harus diseka. Ada banyak kerikil yang menghalangi jalan. Belum lubang-lubangnya yang menganga. Bahkan mungkin jalan itu seperti tidak berujung, begitu jauh dan samar-samar.
Dan aku kini telah mencapai ujung jalannya. Titik nadir kehidupan dan awal perubahan. Ada berbagai hal baru beserta perasaan yang menyertainya. Hal baru yang beragam itu, menuliskannya pun terasa sukar. Barangkali sedikit yang dapat aku gambarkan, Hidup dalam sebuah pencapaian menuntut perubahan hidup sepenuhnya.
Seperti halnya seorang doktor yang akhirnya meraih gelar professor, merupakan sebuah kebanggaan bagi bangsa, institusi, dan keluarganya. Kini professor menjadi nama depannya, tertulis jelas di hampir seluruh dokumen yang pada namanya tercantum. Orang-orang kini mengenalnya sebagai guru besar. Pusat rujukan ilmu dan validasi ilmiah. Ia menjadi yang tertinggi dalam keilmuan. Tegak berdiri di pusaran ilmu pengetahuan. Mimpi menjadi guru besar purna sudah. Kemudian muncul pertanyaan, sanggupkah ia membawanya sepanjang hidup, serta dapat dipertanggungjawabkan keilmuannya. Jawabannya adalah waktu. Waktu di mana dan bagaimana ia berakhir. Apakah ilmu akan menyinarinya atau malah sebalilknya. Mahabesar Tuhan dengan ilmuNya.
Seketika aku hadapkan muka hatiku pada kenyataan yang sebenarnya bahwa saat ini, Aku sedang menjalani mimpiku. Namun inikah harga yang harus ditebus, wahai sang imam?
Tiada kata santai bagi orang yang berakal dan beradab Maka tinggalkanlah kampung halaman dan merantaulah Bepergianlah, kau akan mendapat ganti orang yang kau tinggalkan Berusahalah, karena nikmatnya hidup ada dalam usaha Sungguh, aku melihat air yang tidak mengalir pasti kotor Air akan bersih jika mengalir, dan akan kotor jika menggenang Kalau tidak keluar dari sarangnya, singa tak akan mendapatkan mangsa Kalau tidak meleset dari busurnya, anak panah tak akan mengenai sasaran
Matahari kalau berada di porosnya selamanya Niscaya semua orang, baik Arab maupun non-Arab pasti bosan Timah akan seperti tanah, kalau berada di tempatnya Kayu cendana pun hanya akan seperti kayu bakar, bila menetap di tanah
Imam Syafi’i AS
Semoga jalan ini adalah benar jalan yang lurus. Tulus belajar mengabdi pada ilmu pengetahuan. Rendah hati pada ketidaktahuan, karena hanya sedikit yang diketahui. Mudahkanlah orang-orang yang mempelajari ilmuMu wahai Pemilik Alamraya.
Teruslah belajar, saudaraku. Tuhan menyertaimu seiring langkah setiap waktu.
Kota Bandung, 23 Agustus 2022 Muhammad Rafi
















