Air Terjun Kali Pancur
Mei, 2023

seen from T1
seen from Germany
seen from Türkiye
seen from Argentina
seen from Thailand
seen from Türkiye
seen from United States
seen from United States
seen from Russia
seen from United States

seen from United States

seen from Russia

seen from United Kingdom
seen from Singapore
seen from Türkiye
seen from United States
seen from South Africa
seen from Kazakhstan
seen from Russia
seen from United States
Air Terjun Kali Pancur
Mei, 2023
Baru sampe sini, belum separuh, belum apa-apa, dan belum juga jadi seperti apa. Tapi serasa sudah lengkap dengan hiruk-pikuknya. Alhamdulillah 🤍
If you guys looking for peaceful place with big windows, large backyard, some cactus, classic furnitures (you can buy it too!), cat (if you are lucky, you can meet him), and yummy foods, I recommend you to go to this place! - Taken at Teak Tree Eatery & Living Salatiga City, Central Java Dec 17, 2017 PS: If you are interested with some of my pics, you can save it & don’t forget to tag me when you post it😜
Tulisan: Sebuah Awal
Kamu tidak perlu berpura-pura dengan apa yang sebenarnya terjadi. Kamu tidak perlu berbohong dengan apa yang kamu rasakan. Kamu, perempuan, yang mandiri dan kuat. Kamu yang pantang menyerah dan terus berusaha. Kamu yang berjalan sendiri meraih tujuan. Kamu yang berusaha melakukannya seorang diri tanpa ingin merepotkan orang lain. Kamu yang diam-diam menyembunyikan air mata. Kamu yang diam-diam menutupi keluh-kesah dengan banyak tertawa. Kamu yang diam-diam menutupi ketidakmampuan. Kamu yang diam-diam menyembunyikan kelemahanmu dengan setiap usaha. Kamu yang ingin menjadi perempuan tangguh, perempuan yang sanggup memanggul bebannya sendirian.
Aku bisa menebak apa yang tersembunyi di sana, di tempat itu, tempat di mana kamu menjadi dirimu sendiri. Dan ketika aku melihatmu, berdiri di tempat itu. Kamu yang sedang kelelahan, pelan-pelan mengusap keringat. Aku tahu sebenarnya kamu lelah berdiri, sendiri. Langkah kakimu itu pun bergetar saat melangkah. Apakah gerangan lelah yang sedang kamu rasakan saat tidak ada orang-orang itu adalah beban yang selama ini kamu bawa-kini perlahan-lahan kamu letakkan. Di tempat sepi dan seorang diri kamu mencoba melepas lelah. Kamu terlihat payah dan kesusahan. Aku heran, mengapa kamu sengaja di tempat itu. Sengaja sembunyi dan tidak ingin terlihat oleh orang lain. Namun, aku bukan orang lain. Sebagai seseorang yang pernah menemanimu dalam perjalanan, aku tahu apa yang sedang kamu pikirkan. Bahkan, rahasia dan ketakutan-ketakutan itu aku bisa membacanya. Sudah aku bilang, kamu tidak pandai berpura-pura. Kamu tidak pintar menutup-nutupi. Namun, kamu masih saja bersikap kuat. Mencoba tangguh meski peluh mengering.
Maka, sekali ini saja. Kamu tidak perlu berkata "iya". Katakanlah sesuatu yang memang itu mewakili hatimu. Katakan jika kamu lelah. Katakan jika kamu tidak sanggup. Katakan jika kamu ingin menyerah. Katakan jika kamu lelah berjuang. Katakan jika kamu tidak sanggup berjuang sendiri. Katakan jika kamu butuh teman. Katakanlah meski itu hanya berupa doa atau melalui tatapan. Aku ingin membantumu, kali ini, dan seterusnya. Aku akan menjadi temanmu yang bisa diandalkan. Seseorang yang akan menyamai setiap langkahmu. Jadi, kamu tidak perlu takut tertinggal dan kamu juga tidak perlu terburu-buru. Dengan begitu, kamu tidak perlu datang lagi ke tempat itu untuk melepas lelah, karena esok, aku akan di sampingmu sebagai teman yang hebat. Ini bukan janji, namun apa yang hendak aku sampaikan adalah, aku menawarkan kesepakatan. Kesepakatan untuk menjadi kaptenmu.
Salatiga, 15 Februari 2018
Muhammad Rafi
Tulisan : Malam, Hujan, dan Kau Perempuan
Kau sering mendengar orang-orang yang jatuh cinta berkata bahwa mereka jatuh cinta karena sesuatu yang mengagumkan. Mereka jatuh cinta dengan sesuatu yang menarik perhatian. Itu bisa berupa bagaimana kau tersenyum, bagaimana kau berbicara, bagaimana kau berpikir, dan bagaimana kau bertingkah laku. Alasan-alasan yang masuk akal. Namun, apakah kau tahu jika cinta itu tidak pernah masuk akal. Kau pernah jatuh cinta dengan pikiranmu. Tidak bukan. Karena cinta berasal dari hati. Dari sesuatu yang halus dan tidak bisa dijelaskan. Kau sering mendengar orang-orang jatuh hati kepada malam. Banyak sekali yang jatuh hati kepada malam. Namun, apakah kamu tahu jika mereka jatuh hati bukan pada malam itu sendiri. Mereka jatuh hati kepada bintang yang tampak di kegelapan malam. Pernah kamu berpikir, bagaimana jika malam hadir tanpa bintang-bintangnya. Apakah orang-orang itu tetap akan jatuh hati meski tidak ada sesuatu yang menarik hati. Apakah orang-orang itu tetap akan jatuh hati kepada malam yang hanya berupa gelap. Aku meragukannya. Kau pernah bertanya kepada mereka yang jatuh hati kepada malam tentang sebab mengapa mereka jatuh hati. Kau akan tahu, sebagian besar dari mereka akan menyebut sekumpulan bintang yang indah di angkasa, bukan sesuatu yang gelap yang melangit. Tetapi, bukankah gelap yang melangit itu yang membuat bintang-bintang dapat terlihat. Kau sering mendengar orang-orang menyukai hujan. Orang-orang yang merasa senang ketika hujan tiba. Namun apakah kamu tahu jika mereka tidak menyukai hujan itu sendiri. Mereka menyukai udara dan suasana yang dibawa oleh hujan. Angin yang berhembus dingin di kulit, suasana tenang sebab oleh hujan yang berjatuhan. Mereka menyukai sesuatu yang dibawa hujan. Pernahkah kau melihat mereka yang menyukai hujan itu tetap berdiri saat hujan turun. Pernahkah kau melihat mereka diam di tempat dan tidak mencari tempat berteduh. Pernahkah kau melihat orang-orang itu tetap menyambut hujan yang jatuh meski tubuh mereka basah dan kedinginan. Kau pernah bertanya kepada mereka yang menyukai hujan tentang apa yang membuat mereka suka hujan. Mereka akan menjawab, karena saat hujan minum teh akan semakin memikat, atau saat hujan minum kopi akan semakin berasa. Pernahkah kau bertanya kepada mereka, mengapa tidak hujan-hujan ketika hujan tiba, mereka malu melakukannya. Orang-orang yang mengaku menyukai hujan, merasa malu melakukannya. Sekarang, kau masih beranggapan jika mereka benar-benar menyukai hujan. Kau pernah bertanya kepada mereka yang jatuh cinta padamu. Kebanyakan dari mereka menjawab, mereka jatuh cinta dengan caramu berbicara, dengan caramu tertawa, dan dengan caramu bertingkah laku. Mereka juga jatuh cinta pada senyummu. Mereka jatuh hati dengan apa yang tampak dengan mata. Mereka jatuh cinta dengan sesuatu yang tidak pernah kau sembunyikan. Kau tidak pernah menyembunyikan semua itu bukan. Senyum, sikap, tawa, dan caramu berbicara tidak pernah kau sembunyikan, tidak pernah kau buat-buat. Kau tidak mungkin membuat semua itu sedemikian rupa hanya demi untuk dicintai bukan. Namun, ada seseorang lain yang juga jatuh hati. Tetapi dengan cara yang tidak sama. Dia tidak jatuh hati pada senyumanmu. Dia tidak jatuh hati pada caramu berbicara. Bahkan, caramu menyapa dan bertingkah laku bukan juga sebab dia jatuh cinta. Seseorang itu tidak bisa menilai dari apa yang ada padamu yang bisa dilihat oleh mata. Baginya, mata itu menipu. Mata itu dipenuhi oleh sandiwara. Dia tidak mempercayai mata untuk menyampaikan perasaannya. Tetapi, dia memiliki hati yang tidak buta. Dia memiliki hati yang tidak gelap mata. Dia jatuh hati dengan cara yang tidak pernah kamu pikirkan. Dia jatuh hati kepada gelap seperti dia mencintai malam. Dia jatuh hati kepada rintik air seperti dia mencintai hujan. Dia jatuh hati kepadamu melalui apa yang kau sembunyikan. Sesuatu yang selama ini kau tutup rapat-rapat. Sesuatu yang tidak diketahui orang-orang. Dia jatuh hati pada masa lalumu. Sesuatu yang membuatmu mampu berdiri dan bertahan sampai saat ini. Tentang luka, penderitaan, kekecewaan, kesalahan, sesuatu yang memalukan yang mampu membuatmu belajar dan berubah. Dia jatuh hati pada sikapmu yang mencintai diri sendiri. Dia jatuh hati pada sikapmu yang selama ini selalu ingin melupakan beban masa lalu, namun kau memilih memeluknya erat-erat. Sebuah ketegaran dan kesabaran yang tidak mampu dilihat oleh orang-orang, yang membuatmu menjadi perempuan hebat. Mereka tidak mengerti masa lalumu, tetapi aku tahu. Dan sejak saat itu, aku telah jatuh hati. Salatiga, 6 November 2017 Muhammad Rafi
Tulisan: Seseorang Yang Lain
Hari ini ketika kamu sedang membaca tulisan ini, percayalah ada seseorang yang sedang menuju tempatmu. Kamu mungkin tidak menyadari siapa lelaki tersebut. Kamu hanya belum tahu lebih jauh. Karena kamu pun masih sibuk dengan dirimu sendiri kan. Kamu juga masih sibuk belajar. Jadi saat ini, kamu tidak perlu tahu tentang siapa nanti yang datang. Di balik kesibukanmu aku tahu ada yang kamu sembunyikan. Ada sesuatu yang tidak ingin kamu perlihatkan. Kamu tidak ingin orang-orang tahu jika kamu sedang menyimpan keresahan. Kamu berusaha sekuat mungkin, mengumpulkan semangat untuk menjalani hari. Berharap agar keresahan itu tidak muncul mengganggu hari-hari baikmu. Kamu berusaha untuk selalu tersenyum kepada siapapun. Berharap agar keresahanmu tidak tampak pada wajah yang sedang kamu kenakan. Kamu tidak ingin orang lain tahu dari wajahmu yang tidak pandai berbohong. Kamu pun terus berjalan menuju hari demi hari yang terus berganti. Tidak ada kata berhenti bagimu. Semakin lama engkau berjalan kamu yakin waktu juga akan semakin cepat berlalu. Dengan begitu, rasa sepi dan resah akan terkikis perlahan-lahan. Sehingga kamu tidak akan lagi kerepotan menutupi setiap perasaan yang tumbuh. Kamu tidak akan lagi kesusahan menyikapi harapan yang berkembang. Kamu ingin semua ini berjalan dengan baik-baik saja dan berharap Tuhan yang berkuasa di sini. Namun, Malam. Apa kamu tahu jika di bagian bumi yang lain ada seseorang yang sedang menuntaskan perjalanannya. Di bawah langit yang sama ada seseorang yang dengan gigihnya berjuang menyikapi waktu yang tidak pernah bisa diajak berteman. Seseorang itu sedang mengisi waktu yang tidak bisa ditahan dengan belajar. Dia sedang berdiskusi dengan waktu. Kelak kapan dia akan sampai di ujung jalan. Kapan dia menuntaskan perjalanannya seorang diri untuk menemuimu. Semoga nanti pada saat itu tiba, dia tidak terlambat. Setelah jauh jarak yang dia lipat, doa tanpa henti yang selalu terucap, dan usaha yang selama ini dia tunjukan. Pada akhirnya, dia sampai setelah sekian lama berjuang dengan sendiri. Mungkin sekarang kamu tidak tahu, karena dia belum juga sampai. Namun kelak ketika dia sampai, dengan segala apa yang dia persiapkan. Apakah yang hendak kamu lakukan, atau jika kamu berada di posisinya. Kalimat apa yang ingin kamu katakan. Kamu tahu Malam. Yang kamu hadapi bukan sesuatu yang kecil. Yang nanti kamu hadapi adalah tekad dan harapan seseorang yang memutuskan untuk mendatangimu, menuju tempat di mana sekarang kamu berada. Jika nanti dia sampai, apa yang akan kamu katakan. Salatiga, 4 November 2017 Muhammad Rafi
DIKTIF — Semangat Muharram: Refleksi dan Harapan untuk Jateng yang Lebih Maju dan Sejahtera
Tahun Baru Islam atau 1 Muharram selalu menjadi momen yang istimewa bagi banyak masyarakat. Bukan sekadar pergantian kalender Hijriah, Muharram juga menjadi waktu untuk berhenti sejenak, melihat perjalanan yang telah dilalui, sekaligus menyusun harapan dan langkah baru untuk masa depan yang lebih baik. Semangat inilah yang terus hidup di tengah masyarakat, termasuk di Jawa Tengah yang dikenal dengan nilai gotong royong dan kerukunannya.
Dialog interaktif kali ini, Dj Widia berbincang bersama anggota Komisi A DPRD Provinsi Jawa Tengah, yaitu H. Tugiman, S.P., Ribut Budi Santoso, S.P., Ayuning Sekar S., B.Bus., M.A., Sumarsono, S.Sos., dan Drs. H. Soenarno, M.M. Mereka membahas makna Muharram, tantangan pembangunan Jawa Tengah, hingga peran generasi muda dalam mewujudkan daerah yang lebih maju dan sejahtera.
DIKTIF dapat diikuti melalui Official Youtube Suara Salatiga atau membaca artikelnya di www.suarasalatiga.com
DIKTIF — Sosialisasi Peraturan Daerah Kota Salatiga No.10 Tahun 2025 tentang Penyelenggaraan Tertib Tuna Sosial
Kota yang nyaman bukan hanya soal jalan rapi atau taman yang indah, tetapi juga bagaimana warganya bisa hidup layak dan bermartabat. Di balik hiruk-pikuk aktivitas perkotaan, persoalan tuna sosial kerap hadir sebagai realita yang tidak bisa dihindari. Jika dibiarkan tanpa penanganan yang tepat, masalah ini bukan hanya mengganggu ketertiban umum, tetapi juga berpotensi melahirkan persoalan sosial baru.
Berangkat dari kondisi tersebut, Diktif kali ini Dj Gita Nugraha ditemani dr. Riani Isyana Pramasanthi selaku Kepala Dinas Sosial Kota Salatiga membahas secara menyeluruh Peraturan Daerah Kota Salatiga Nomor 10 Tahun 2025 tentang Penyelenggaraan Tertib Tuna Sosial yang menjadi pijakan penting dalam menata kota sekaligus memberdayakan kelompok rentan agar kembali berfungsi secara sosial.
Dialog Interaktif dapat diikuti melalui YouTube dan Facebook Radio Suara Salatiga, atau membaca artikelnya di www.suarasalatiga.com