"Yang ingin lepas, biarkanlah bebas. Tak ada gunanya mengikat hati yang telah terisi, ditempati seseorang yang bukan kau."
Kau bukan lagi dunianya. Mau apa?
seen from China

seen from Malaysia

seen from Türkiye
seen from United States
seen from United States
seen from Germany

seen from Türkiye
seen from China

seen from United States

seen from United States

seen from Argentina
seen from Maldives
seen from Türkiye
seen from Russia

seen from Australia

seen from Germany

seen from Slovakia

seen from United States
seen from China

seen from United States
"Yang ingin lepas, biarkanlah bebas. Tak ada gunanya mengikat hati yang telah terisi, ditempati seseorang yang bukan kau."
Kau bukan lagi dunianya. Mau apa?
"Yang tampak luarnya baik, belum tentu baik. Begitu pula yang luarnya tampak biasa saja, bisa saja dialah yang paling luar biasa. Memilih pasangan bukan lagi 'gampang gampang susah', tapi 'susah susah susah'. Jangan terburu-buru memilihnya. Pada akhirnya, pernikahan bukan perlombaan siapa cepat dia yang akan menang dan dapat piala. Tapi siapa yang memilih pilihan paling tepat, dialah yang akan berbahagia."
"Kadang kita mengharapkan yang jauh. Terus mengejarnya, padahal tak pernah bisa diraih dan digenggam. Lantas mengabaikan yang dekat, padahal ia bisa menjadi sedekat nadi yang menemukan detaknya."
"Seringkali kita hanya melihat seseorang dari sisi luarnya saja, lalu menghakimi pilihan-pilihan hidupnya. Padahal jika mau berusaha sedikit saja menyelam lebih dalam, kita akan memahami dan memakluminya. Meski jalur yang ia pilih berbeda dengan kita"
Malaikat Barcelona-ku.
Kim Ji-young, Born 1982
Satu hal terlintas di kepala saya setelah nonton film ini;
"Apa nanti saya bisa jadi suami yang tidak 'membunuh' mimpi-mimpi istri saya?"
Kim Ji-young, Born 1982 merupakan sebuah film adaptasi dari novel dengan judul yang sama. Mungkin kalian yang membaca tulisan ini sudah lebih dulu tahu, film ini sempat menuai kontroversi di Korea karena mengangkat isu feminisme. Menurut yang saya baca, feminisme masih jadi hal yang tabu di Korea.
Pernikahan terlihat sangat indah, pada satu sisi. Tapi tetap saja. Selalu ada sisi gelap pada setiap berkas cahaya.
Film ini membuka mata kita bahwa tak mudah bagi perempuan setelah menikah. Ada beberapa hal yang harus dikorbankan. Termasuk mimpi-mimpinya. Demi apa? Demi satu kata;
PATUH.
Saya tidak menentang para laki-laki yang berpendapat bahwa 'perempuan harus patuh pada suami'. Tapi jika 'patuh' yang dimaksud adalah termasuk mengubur mimpi-mimpi mereka, apakah cukup adil bagi mereka? Saya kira jawabannya berbeda-beda pada setiap laki-laki.
Yang harus diingat, perempuan, atau istri, bukan burung kicauan yang bisa ditaruh dalam sangkar. Mereka manusia. Punya mimpi, yang mungkin, secara sadar atau tidak, telah dikubur. Bersama pikiran-yang-bergerak-mundur bernama 'superioritas' kalian, Para Laki-Laki.
| Ruang, 2 Mei 2020, 20.29 |
Satu Frekuensi
Masih membahas tentang film Habibie Ainun 3 yang tempo hari saya tonton. Sedikit saja. Nanti kalau banyak-banyak malah nggak pada nonton.
Ada satu hal menarik yang saya petik dari film tersebut. Bukan tentang Reza Rahadian yang di make up mirip sekali dengan Eyang Habibie. Itu make up artist-nya bayarannya gede pasti. Bukan. Bukan itu. Tapi tentang hal paling mainstream di muka bumi ini. Yak betul. 'Jodoh'.
Di salah satu part, Eyang Habibie bercerita tentang Bu Ainun yang pernah menerima lamaran laki-laki lain. Tapi kenapa Eyang Habibie tenang-tenang saja? Karena Eyang tahu, Bu Ainun dan laki-laki itu bukan satu frekuensi. Pasti pisah juga akhirnya, kata beliau.
Bisa jadi, jodohmu bukan yang mengajakmu chatting setiap hari. Bukan juga yang me-mention-mu setiap saat di media sosialnya. Atau bukan juga, yang mengingatkanmu untuk sholat tepat waktu (pendekatan syar'i katanya. Entut mberut).
Jodohmu adalah yang satu frekuensi denganmu. Jika kalian bercanda, bukan tertawa palsu yang muncul. Jika kalian sedang berbincang, mata kalian saling memandang dalam. Atau, jika hatimu sedang kalut, kau bisa meredakannya hanya dengan pelukan hangatnya.
Jadi, bagaimana? Kau sudah menemukan seseorang yang satu frekuensi denganmu?
Kalau saya sudah. Cuma belum saya lamar saja. Hahahah. Atau, seseorang yang saya anggap satu frekuensi dengan saya itu, ternyata bukan jodoh saya? Entahlah.
Allah Maha Pengatur Segala Sesuatu.
| Ruang, 9 Januari 2020, 16.46 |
"Aku bisa membuatmu jatuh cinta kepadaku dengan kata-kata. Pun, aku bisa menikam dan membunuhmu, pula dengan kata-kata"
Jadi, pilih yang mana?