Surat Untuk mu, Tuan dan Nona Kecil
Kau bisa melihat langit sejenak? Lihatlah! Cerah bukan? Sama sepertimu, aku pun terlalu mencintai langit pagi yang menyeruakkan sinar hangat disekujur tubuhku. Jika pagi tiba, tak ada alasan lain untuk menunda langkahku menuju mu, menjemput sedikit kebaikan dari hati kecil mu itu, Nona. Kau, si nona kecil yang di pagi hari selalu saja menyisakan butiran-butiran energi untuk perkelanaanku di sepanjang hari. Walaupun aku tak bisa menyampaikan terima kasihku, percayalah dalam setiap doa yang kupanjatkan pada semesta ada sosokmu yang terlukis disana.
Kepada Tuan di ujung jalan sana,
Kau si arogan yang payah! Aah aku membencimu, sebesar kau membenciku. Kau tahu bagaimana rupa mu jika menatapku? Rupa mu menyebalkan. Tak bisakah kau sedikit saja berpura-pura tak jijik? Atau tak melihatku, mungkin? Kau bahkan sangat kasar. Terkadang, kaki mu terlalu ringan untuk menendangku. Tempo hari, kau mengguyurku dengan air sabun bekas mencuci mobil. Memangnya apa salah ku? Salahku hanya satu, aku tak sama dengan peliharaanmu yang bersih dan terawat. Tetapi, kupikir seberapapun berbedanya aku, aku tetap tak layak kan mendapat perlakuan serendah itu? Tuan, kau boleh habiskan sedikit akal dan nurani yang dititipkan Pencipta kita untuk membaca suratku ini.- Jikalau Aku, seekor binatang jalan ini sama seperti mu, tak ingin diperlakukan sedemikian rendah.