“Di sebuah rumah makan, sebut saja kedai nasi padang. Tapi, kami yang orang padang malah senang menyebutnya nasi ramas or nasi bungkuih”
Dia lapar, dia haus, sudah berhari-hari tak makan. Jangankan makan lauk, makan butir-butir nasi pun sudah lama tidak. Dia sudah lama tidak makan. Ya, dia dibuang ke sumur kering.
Dia tergopoh mendekati sebuah kedai nasi, sekitar jam 12.30 siang. Saat orang sedang ramai-ramainya makan siang. Ia mencoba masuk dengan hati-hati, agar tak terlihat sang pemilik kedai nasi. Tap..Tap..Tap..saat ia sangat berhati-hati, meloncat ke salah satu meja makan, yang banyak sekali tergeletak piring sisa. yang banyak tulang dan sisal lauk, pastinya. Ia tak sengaja menjatuhkan sendok dan garpu kelantai, berbunyi, dan mengalihkan perhatian semua orang. Semua mata tertuju padanya, mata-mata bengis menahan emosi, ya mata sang pemilik kedai nasi. Sang Uda (sipemilik warung) marah, bisa-bisanya ia masuk, saat orang sedang ramainya.
Dia lari terpontang panting, kebelakang arah dapur. Ia terperangkap dalam dapur yang pintunya tetutup. Disana Si Uda mendapatinya tengah ketakutaan seperti akan mati hari itu juga. Tak Tanggung-tanggung, karena sudah emosi, Uda pemilik kedai mengambil gayung, dan menyiramnya dengan air panas yang baru saja mendidih di periuk. Astaghfirullahal’azimm..
“Sudah Jatuh Tertimpa Tangga”, begitulah nasibnya. Niat hati ingin mencari sisa nasi, tapi yang didapati siksa pemilik kedai nasi. Ia mengosong langkah gontainya keluar, puluhan pasang mata melihatnya iba. Namun, ia tak cukup pandai dalam memilih timing masuk kedai. Bagaimanalah mau dikata, dia hanya seekor kucing kampung.