"Never Grow Up, My Friend.."
September-Oktober tahun 2013 adalah tentang mereka. Sebuah tim yang entah bagaimana caranya seolah dikirim oleh Tuhan untuk menjadi pembasuh dan pemberi sedikit kebahagiaan ditengah makin carut marutnya negri ini. Sebelum pertandingan perdana di AFF U-19 kontra Brunei, mungkin tak banyak yang mengenal siapa itu Hansamu Yama, Evan Dimas, atau Okto Sitanggang.
Kita masih mengingat, di bulan yang sama-September-tiga tahun yang lalu saat timnas senior yang dipimpin kapten Firman Utina kala itu menunjukkan sebuah permainan yang menjanjikan: striker-striker haus gol, winger cepat menyisir sisi lapangan, produktivitas gol tinggi. Hingga akhirnya tibalah ujian sesungguhnya di partai puncak. Entah hilang fokus, latah, atau sudah terlanjur merasa diatas angin, timnas senior itu begitu tak berdaya menghadapi tim yang mereka luluh-lantak-kan di fase grup. Rasa sakitnya masih sulit dilupakan hingga saat ini.
Tapi tidak kali ini. Memang ini "hanya" AFF U-19, dan memang ini "kurang" punya prestis, tapi akhirnya kita menyadari, ada hal yang lebih bernilai dari sekedar mengangkat trofi. Naif jika bicara rakyat tak peduli dan tak rindu gelar juara. Tapi Garuda Muda ini seolah hendak membuktikan bahwa meraih kemenangan dan juara akan lebih indah bila dibarengi dengan permainan yang determinan, ngotot, berani, cerdas, dan cantik. Ya, cantik, sehingga skema 4-3-3 yang dipilih oleh seorang jenius seperti Indra Sjafri pun tidak terlihat konyol seolah-olah meng-copy mentah-mentah apa yang sekarang sedang ramai disebut sebagai Tiki-Taka, Possession Football, atau Total Football. Karena memang begitulah timnas Garuda Muda ini bermain. Penuh percaya diri, memegang kendali dan tempo, passing satu dua yang berjalan smooth, pergerakan-pergerakan mencari ruang yang cerdas, transisi menyerang -bertahan atau sebaliknya yang berjalan dengan mulus, stamina prima, hingga skill individu tiap pemain yang kadang mengundang decak kagum. Saat dulu kita begitu geregetan ingin melihat timnas yang mampu "bermain" atau bermimpi ingin melihat timnas bergaya seperti "barcelona" saat itu rasanya semua terdengar hanya seperti sebuah pepesan kosong. Tapi lihat sekarang, lihatlah cara mereka bermain.
Sebuah asa baru digantungkan, setelah semalam para Garuda Muda ini dengan gagah berani menumbangkan juara bertahan Korea Selatan di tengah guyuran hujan deras di GBK. Piala Asia 2014 sudah menunggu tahun depan, dan jika saja timnas bisa menjejak hingga semifinal maka satu tempat di Piala Dunia U-20 pada 2015 akan mampu digenggam. Ya, Piala Dunia. Walaupun lagi-lagi "hanya" level U-20, tapi semua hal besar dimulai dari banyak langkah kecil bukan?
Mari kita doakan, semoga tim ini terus bekerja keras, memperbaiki kekurangan, tetap membumi, dan terpenting: semoga kemurnian mereka dalam bermain sepakbola tak dikotori oleh carut-marut kompetisi (yang mendarah daging) atau partai politik, dan kepentingan-kepentingan lainnya yang saat ini sudah mengantre untuk mendompleng. Semoga mereka tetap bermain dengan semangat kebahagiaan yang dibawa oleh olahraga ini, hingga ketika setiap mereka turun gelanggang yang terpikir adalah hanya bagaimana caranya terus bersenang-senang dengan bola dan mencetak gol-gol indah sebanyak mungkin.
Meminjam perkataan Eric Cantona dalam salah satu campaign sebuah brand olahraga terkemuka :
"Never grow up, my friend.."