Kisruh Yaman dan Arab Spring
Kisruh yang terjadi di Yaman hari ini tak lepas dari Fenomena Arab Spring yang bergejolak dalam dekade terakhir ini. Fenomena Arab Spring memberikan pengaruh besar terhadap kawasan dan proses perimbangan kekuatan di Timteng. Dalam proses ini, kita melihat tumbangnya rezim-rezim otoriter di kawasan, munculnya kekuatan demokrasi baru, pertempuran ideologi termasuk juga bahkan membuka kemungkinan adanya perang sipil, konflik bersenjata, mendorong adanya intervensi luar terhadap negara dan juga mendorong adanya counter-revolution.
Arab Spring menjadi pemantik yang akhirnya menyebabkan perkembangan ini sangat berpengaruh di internal negara-negara Timteng. Uniknya memang kejadian di salah satu negara Timteng akan mudah berdampak ke lingkup kawasan. Begitu pula dengan hal ini berpengaruh terhadap apa yang terjadi di Yaman.
Masa Arab Spring di Yaman berdampak kepada jatuhnya rezim Ali Abdullah Saleh yang kemudian akhirnya rezim berganti kepada Presiden Abd-Mansour Hadi. Yaman sendiri merupakan negara termiskin di Timteng. Jumlah cadangan minyak hanya mencakup 0.2% dari cadangan minyak dunia. Namun, Yaman memiliki posisi yang sangat strategis secara geografis dengan keberadaan selat Bab el Mandep dan Yaman adalah backyard dari Saudi Arabia.
Oleh karena itu, dengan adanya gerakan kelompok Houthi (Zaydi Syiah -20% s.d 30%) yang ingin menggulingkan pemerintahan dan merebut San'a, maka atas permintaan Presiden Hadi, Saudi dan pasukan koalisi lakukan operasi militer. Hingga kini operasi militer tersebut mengakibatkan ratusan warga sipil menjadi korban. Operasi ini masih berupa operasi serangan udara. Namun, info terbaru mengatakan sudah terjadi penyerangan di perbatasan Saudi-Yaman.
Bagi Saudi, serangan militer ini jelas bukanlah kali pertama. Sebelumnya juga pernah melakukan serangan terhadap Bahrain. Wilayah Teluk adalah jantung jazirah arab dan persoalan sunni-syiah memang ada tetapi masalah geo-ekonomi dan yang terpenting masalah perimbangan kekuatan di kawasan memegang kendali kestabilan di kawasan. Yaman termasuk negara yang tidak stabil karena banyak permasalahan seperti minyak dan air, kelaparan, rezim diktator, dan korupsi yang sangat besar di era Ali Abdullah saleh. Sehingga mungkin saja bila kisruh Yaman ini bukanlah terkait masalah sektarian tetapi murni masalah perebutan kekuatan dan sumber daya. Jika didekatkan pada kelompok, perebutan San'a bertujuan untuk mendekatkan pada kekuatan syiah di kawasan menjadi empat yang dominan yaitu Tehran, Damaskus, San'a dan Beirut.
Syiah Zaidi atau Houthi memang sudah lama jadi bagian di Yaman. Populasinya ada 20%-30% dari penduduk Yaman. Syiah Zaidi memang dikenal sebagai syiah yang paling dekat dengan Sunni. Ali Abdullah Saleh selaku rezim lama jelas mendukung Houthi sehingga yang perlu dilihat memang perebutan kekuatan juga menjadi salah satu faktor untuk langkah counter-revolution. Suku Kurdi terlalu jauh untuk sampai di kawasan Teluk. Kurdi mendiami tiga kawasan yaitu Turki (arah Timur Diyabakır), Irak dan Suriah. Aktor yang terlihat bermain selain Houthi dan pasukan koalisi Saudi adalah ISIS yang menyatakan bertanggung jawab atas serangan di masjid di San'a pekan lalu dan juga AQAP (Al Qaeda in Arab Peninsula).
Yaman semasa Presiden Hadi mendapatkan bantuan dari Negara-Negara Teluk. Jika Yaman jatuh ke Houthi akan memungkinkan rezim lama bisa jadi berkuasa kembali sehingga jelas akan berpengaruh terhadap polarisasi kekuatan di kawasan. Saudi yang notabene berbatasan darat akan sangat waspada.
Mantan negosiator AS untuk kasus nuklir Iran mangatakan bahwa kebijakan AS di Timteng pasca-Arab spring “…is a reflection of crazy, mixed-up Middle East. He's trying to muddle through a mess on unresolve problems..” AS memang berusaha untuk tetap mainkan peranan di kawasan tetapi uniknya memang menghadapi Timteng yang seperti ini pasca-Arab spring akan memakan intensi AS dalam konflik terbuka yang hanya dilakukan terhadap gerakan seperti ISIS.
Jika melihat keinginan Saudi, konflik di Yaman akan berakhir hingga Houthi menyerah. Kemungkinan akan adanya perang darat itu ada. Operasi Decisive storm atau badai penghancur adalah operasi bersama koalisi negara-negara teluk dan pakistan untuk menggempur Houthi di Yaman atas permintaan Presiden Hadi (Yaman). Turki pun ikut mendukung meski tidak terlibat dalam operasi militer. Karakter Turki saat ini memang sangat hati-hati dalam dinamika Timteng sekarang karena memang Turki ingin menjadi patron di Timteng seperti ucapan Ahmet Davutoğlu. Bahkan untuk kasus Kobbani saja yang berada di perbatasan dengan Turki, bukan Turki yang turun tangan melainkan tentara Paşmerga Kurdi dari Irak. Otomatis militer dalam jumlah besar hanya ada dalam Şah Fırat Öperasyönü yaitu penyelamatan situs bersejarah Turki di Suriah beberapa waktu lalu. Turki mendukung bukan karena alasan sunni-syiah tetapi masalah kemanusiaan yang terjadi di Yaman yang dilakukan Houthi. Kedua, memang tidak bisa dipungkiri bahwa kepentingan ekonomi Turki dan negara teluk juga cukup besar. Graham E Fueller dalam bukunya ‘Turkey and Arab Spring’ menjelaskan dengan baik tentang hal tersebut.
Masalah Yaman ini memang dapat dikatakan tidak hanya masalah sunni (Saudi dan koalisi) vs syiah (Houthi) tetapi juga ada masalah power dan resources yang membuat konflik ini terus berjalan di yaman. Cara kekerasan yang dilakukan oleh Kelompok Houthi memang sewajarnya ditolak, maka tak heran Saudi dan pasukan koalisinya melakukan serangan balik untuk menekan jumlah korban dari pihak sipil. Realitas ini seolah menjadi hal yang ‘wajar’ dalam konteks kawasan Timur Tengah dewasa ini.
Bagi Indonesia, langkah sejauh ini yang segera mengevakuasi WNI dari yaman merupakan langkah awal yang tepat sebelum mengambil langkah politik atas masalah Yaman. Langkah Indonesia perlu dipikirkan untuk membuat langkah diplomatis dalam keikutsertaan menyelesaikan masalah di Yaman dengan intensi adanya peredaan konflik dan meminimalisasi adanya pertambahan jumlah korban di pihak sipil.
Semoga perang saudara di Asia segera reda.
Disusun oleh Rizqa Febriliany dalam Diskusi Klub Liberal Arts bersama Agung Nurwijoyo (Kandidat Master Bidang Kajian Timur Tengah dan Afrika di Gazi University, Turki)