Science Fiction : Dulu dan Kini
By : Sauqina
Science fiction, atau sci-fi, atau sf merupakan salah satu genre yang saat ini sedang berkembang dengan pesatnya. Sf yang kita kenal hari ini muncul dalam berbagai bentuk media seperti novel, komik, film dan animasi. Ada berbagai macam hal yang membuat sf menarik untuk dinikmati dan dikritisi. Saya tertarik untuk membahas sf disebabkan oleh kepedulian saya sebagai penikmat, korban dan pemeran dalam berkembangnya sf, dulu, hari ini dan di masa akan datang.
Ada sejumlah nama dan karya yang sering disebut sebagai titik perkembangaan sf. The Frankenstein oleh Mary Shelley (1818) disebut-sebut sebagai awal dari literatur sf. Lebih jauh mundur, salah satu contoh awal sf Al-Risalah al-Kamiliyyah fil Siera al-Nabawiyyah (The Treatise of Kamil on the Prophet's Biography) yang diterjemahkan oleh dunia barat dengan nama Thelogus Autodidacicus yang ditulis oleh Ibnu Al-Nafis, dperkirakan di abad ke-13. Dalam Theologus Autodidacticus, Al-Nafis menceritakan tentang seorang anak yang lahir muncul begitu saja di sebuah pulau yang tak berpenghuni. Cerita ini bisa dilihat sebagai fiksi yang memperkirakan tentang perkembangan individual, sebuah tema ilmiah yang mirip dengan yang ditulis Shelley dalam The Frankenstein.
Sf sebagai genre sendiri merupakan hal yang masih diperdebatkan. Ia tidak bisa dikategorikan secara deskriptif begitu saja, sebab ada berbagai macam faktor yang bisa menyebabkan sebuah karya dianggap sebagai sf. Munculnya sf sebagai genre sangat berkaitan dengan identitas suatu kultur, sejarah dan persepsi terhadap sains. Misalnya saja novel The Time Machine yang ditulis oleh HG Wells di tahun 1895. Novel ini menuai berbagai reaksi di zamannya, sebab menceritakan konsep sains yang cenderung ‘tidak logis’. Perlu diketahui bahwa di zaman tersebut literatur dan sains di Inggris bukanlah dua hal yang terpisah, sebab setiap diskusi atau penemuan ilmiah sewajarnya dituangkan dalam bentuk tulisan. Sains masih cukup sederhana untuk bisa diakses oleh masyarakat kelas menengah awam, bahkan dikatakan bahwa sangat mudah bagi seorang ilmuan untuk bisa dikategorikan sebagai (atau pindah profesi menjadi) seorang penulis. Wajar jika karya Wells menuai ulasan yang cenderung negatif oleh masyarakat keilmuan saat itu. Sebab karyanya berada dalam satu rumpun yang sama dengan literatur fondasi sains hari ini , (seperti The Origin of Species karya Charles Darwin), yakni diskusi di tapal batas ilmu pengetahuan.
Masih banyak sf lain dituliskan di zaman-zaman tadi. Sejumlah karya klasik yang terkenal misalnya: 20.000 Leagues Under the Sea yang ditulis oleh Jules Verne (1870) menceritakan tentang kapal selam raksasa dari baja bernama Nautilus yang mampu menampung banyak manusia untuk mengarungi dunia. Di kala cerita tersebut ditulis, alat selam yang ada masih sangat jauh dari apa yang Verne bayangkan. Cerita ini telah difilmkan di tahun 1954. Sedangkan tampilan lebih modern dari Nautilus bisa dilihat di dalam film The League of Extraordinary Gentlemen tahun 2003. Selain itu ia juga menulis Journey to the Center of The Earth (difilmkan tahun 2008, dibintangi oleh Brendan Fraser), cerita yang mendukung teori goa bumi. Contoh penulis sf lain adalah Isaac Asimov yang banyak menulis tentang AI. Dalam karya serialnya I, Robot (difilmkan di tahun 2004, dibintangi oleh Will Smith), Asimov menentukan the Three Laws of Robotic, hukum yang dibuat dengan asumsi robot mampu memiliki kesadaran seperti manusia. Dari sejumlah tulisna ini bisa terlihat baahwa bahwa terkadang penulis sf bisa jadi membuat cerita yang akrat dengan il,u yang sekarang kita ketahui (kapal selam), namun juga sangat mungkin mendukung hipotesis yang tidka bisa dibuktikan kebenarannya (teori goa bumi, adanya kesadaran robot).
Cerita detektif adalah kasus yang menarik untuk disebut setelah contoh-contoh diatas. Sekilas, cerita detektif terkesan terbatas pada cerita kriminal dan petualangan dengan genre tersendiri. Namun jika diamati, sejumlah cerita detektif juga bisa digolongkan sebagai sf. Serial Sherlock Holmes ditulis di sekitar 1880-1914 oleh Sir Arthur Conan Doyle yang mengenyam pendidikan sebagai dokter di zaman yang sama dengan H G Wells. Dalam salah satu cerpennya, Sir Arthur Conan Doyle menceritakan bahwa Sherlock, yang selain menjadi seorang detektif juga menggemari kimia, menggunakan cairan temuannya untuk bisa melacak percikan darah yang sudah dihapus oleh pelaku kriminal. Dalam paparannya, jika cairan ini akan bereaksi dengan bekas darah, maka akan muncul koloid berwarna abu-abu kehitaman. Kisah ini ditulis sebelum ditemukannya cairan luminol di tahun 1928. Sherlock juga terkenal menyatakan bahwa yang ia lakukan adalah ‘science of deduction’. Selain itu salah satu kutipaan Sherlock holmes yang paling terkenal adalah ‘when you have eliminated the impossible, whatever remains however improbable must be the truth’. Keduanya berdasarkan pada aturan pembuktian hipotesis dalam sains, unsur ini yang membedakan Sherlock Holmes dengan detektif fiksi lain, misalnya Hercule Poirot. Tokoh ciptaan Agatha Christie ini lebih menekankan pada psikoanalisis.
Science Fiction: a Quest to the Future
Contoh yang menarik adalah Star Trek, serial TV yang diproduksi tahun 1966. Dengan setting cerita petulangan diluar angkasa, Star Trek adalah contoh yang penting untuk menunjukkan imajinasi yang bisa jadi menuntun kita pada teknologi yang kita anggap biasa hari ini. Dr. David Cooper, pencipta telpon genggam pertama mengakui bahwa untuk penemuannya, ia terinspirasi oleh communicator, alat komunikasi wireless dan portable milik awak kapal luar angkasa, USS Enterprise di film Star Trek.
https://www.youtube.com/watch?v=wN-_VA5HFwM
(That was fantasy to the rest of the world, but to me it was an objective – Dr. David Cooper)
Eksplorasi sf semakin meluas. Film The Matrix dan The Thirtieenth Floor mengimajinasikan jawaban atas pertanyaan: apa yang terjadi jika kehidupan kita tidak lebih dari simulasi komputer? Film ini ini berakar pada pertanyaan filosofis (seperti di film inception) yang bertemu dengan konsep fisika teoritis (super computer) yang hingga hari ini masih terus diteliti dan diperdebatkan (2016 Isaac Asimov Memorial Debate: Is the Universe a Simulation? https://www.youtube.com/watch?v=wgSZA3NPpBs )
Terlihat bahwa seiring dengan waktu genre sf berperan sebagai pemicu terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Ia berperan sebegai penentu benchmark, tantangan atas pencapaian sains. Sebagian tantangan ini telah dijawab oleh penemuan dan inovasi di teknologi seiring dengan berjalannya waktu:
· The Babelfish di Hitchhiker’s Guide to the Galaxy (novel, 1981)= Google Translate
· Seashell ear thimble di Fahrenheit 451 (novel, 1953)= headphone dan headset
· Computer tablet di 2001: Space Odyssey (film, 1968) = Samsung Tab (dalam pembelaan di persidangan melawan tuntutan Apple atas pelanggaran hak cipta iPad)
· Interplanetary flight, War of the Worlds (novel, 1953)= Roket
Contoh tadi adalah sejumlah teknologi yang secara langsung diinspirasi oleh sf. Ini masih belum termasuk prediksi-prediksi futuristik lain yang sudah terwujud hari ini (walaupun tidak terbukti adanya kontak langsung dengan ilmuan yang bergelut di bidang tersebut). Dengan ini bisa dikatakan bahwa sf juga telah ikut berpartispasi dalam membentuk masa depan.
Literasi Sains dan Respon SF
Sains dan sf memiliki interaksi dinamis dimana yang satu mempengaruhi yang lain. Misalnya film 2001: Space Odyssey ternyata diproduksi oleh Stanley Kubrick dengan melakukan konsultasi terhadap ilmuan. Hal yang sama juga bisa ditemukan pada film Intersellar (2015). Christopher Nolan berkonsultasi pada Kip Thorne terkait string theory dalam fisika kuantum. Produser Firefly (2002) berkonsultasi pada Michio Kaku tentang perjalanan luar angkasa dan teknologi futuristik. Tidak hanya sf mempengaruhi ilmu pengetahuan dan teknologi, tapi begitu pula sebaliknya. Interaksi dua arah bukanlah hal yang baru dalam sf.
Namun ada hal yang menarik untuk diamati akhir-akhir ini. Beberapa tahun terakhir peranan sains semakin berpengaruh. Film sf mucul dengan usaha untuk ‘get the science right,’. Penulis menyesuaikan dengan sains yang ada, tidak lagi bermain di titik penghujung ilmu pengetahuan. Contohnya seperti Gravity (2013), The Martian (2015) dan Interstellar (2015). Gravity disebut-sebut sebagai film yang berdasarkan tentang situasi nyata diluar angkasa. The Martian ditulis berdasarkan dengan referensi aturan-aturaan sains yang sudah ada. Interstellar bahkan memiliki companion book yang berjudul The Science of Interstellar, ditulis oleh ahli fisika teoritis sekaligus konsultan script film tersebut.
Terhadap film-film ini, penonton pun bereaksi mirip. Kritik saintifik ditujukan pada komponen-komponen sains yang tidak akurat yang mucul sebagai plot device. Salah satu fact-check yang sempat diributkan (dan sepertinya mulai menyemarakkkan fact-check di sf) adalah kritik seorang astrophysiscist terkenal, Dr. Neil deGrasse Tyson, terhadap Gravity. Gravity menceritakan terganggunya saluran komunikasi diakibatkan serpihan badan satelit yang meledak mengenai satelit komunikasi. Kecelakaan ini beraakibat hilangny kontak tokoh utama dengan paangkalan di bumi. Plot ini di ‘sebut’ oleh Mr. Tyson dalam twit nya sebagai berikut :
— Neil deGrasse Tyson (@neiltyson) October 6, 2013
Mysteries of #Gravity: Satellite communications were disrupted at 230 mi up, but communications satellites orbit 100x higher.
Bagi yang mengerti, twit Mr. Tyson dengan jelas mengatakan: It’s impossible. Seharusnya film ini tidak akan berjalan dengan plot seperti yang sudah ada jika konsisten mengikuti hukum-hukum fisika.
Atas usaha untuk menyesuaikan dengan sains, film The Martian juga menuai banyak kritik saintifik. Film ini bercerita tentang astronot yang tertinggal/terdampar di Mars setelah dipisahkan dengan krunya oleh badai ganas. Salah satu kritik atas atas film ini dipublikasi di website Time.com dengan judul artikel yang berjudul What the Martian Get Right (and Wrong) About Science (http://time.com/4055413/martian-movie-review-science-accuracy-matt-damon/) di bawah subheading ‘science’ (bukan entertainment atau movies di mana liputan tentang perfilman biasanya dimuat). Dalam artikel tersebut dituliskan :
(atmosfir Mars memiliki masa jenis yang jauh lebih rendah daripada di bumi. Badai yang terjadi tidak akan seganas di film).
Bahkan, usaha keras mempertahankan konsep sains dalam film Interstellar-pun masih mendapat celah kritik. Padahal film ini sudah dibangga-banggakan sebagai film yang bisa dinikmati ‘orang pintar’ karena menggunakan advanced theoretical physic sebagai fondasi ceritanya. Kritiknya: dibandingkan melakukan perjalanan luar angkasa dan men-terraform planet lain (membuat kondsi planet menjadi seperti bumi), kenapa tidak menggunakan dana dan sumber daya yang ada untuk men-terraform bumi?
Contoh-contoh ini hanyalah sedikit dari sejumlah diskusi yang dilakukan sejumlah orang yang merasa cukup ‘ngerti’ dengan konsep sains yang terlibat dalam film tersebut. Dapat ditemukan beberapa website dan komunitas yang mendedikasikan section tertentu untuk mendiskusikan hal ini, misalnya Wired, Cinemasins, forum-forum diskusi di IMDb, Reddit, Kaskus, dll.
Mengkritisi film melalui sudut sains menjadi hal yang ‘menyenangkan’ dan terkesan ‘membanggakan’. Pemikiran yang diperlukan dalam mengkritisi film-film ini tidak hanya logika berpikir, tapi juga hukum-hukum sains yang hanya diketahui oleh sebagian orang. Sama seperti sebuah tulisan yang diperkuat dengan referensi dan kutipan untuk menekankan kebenarans suatu pernyataan. Hanya saja kali ini sains adalah adalah referensi yang ‘mutlak’ dan tidak bisa diganggu gugat atau dielakkan. Sifat sains ini membuatnya menjadi senjata yang sangat ampuh dalam mengomentari dan mengritik karya sf.
Diskusi tentang komponen-komponen yang tidak akurat ini menjaadi semakin sering muncul dan semakin ramai. Mungkin saja perkembangan ini terjadi karena cukup banyak audiens dengan literasi sains yang sudah cukup mumpuni, atau sekedar iku-ikutan saja, untuk terlibat dalam diskusi konseptual terhadap komponen ilmiah dalam sf. Di satu sisi ini merupakan merupakan pertanda yang baik bagi perkembangan pendidikan masyarakat dan ilmu pengetahuan. Literasi sains adalah salah satu aspek yang masih diusahakan dengaan terpogoh-pogoh oleh dunia pendidikan di seluuh dunia saat ini: mengusahakan setiap individu memahami sains, baik konsep maupun ketrampilan berpikir kritis, sebagai bekal dalam menjalani kehidupan.
Tetapi sebagai penikmat sf dan dampaknya (perkembangan iptek), ada sedikit rasa khawatir jika genre sf terus mempertahankan tipe cerita seperti ini sebagai respons atas penonton yang lebih cerdas. Bayangkan jika misalnya sf yang kaya imajinasi tapi memiliki dasar sains yang agak lemah, dikritik dan ditinggalkan oleh mereka yang ‘ngerti’ karena dianggap tidak mungkin (contoh paling gampang, imajinasi di Star Trek). Adanya komenar sinis, kebanggan untuk mengoreksi teori yang salah, dan menunjukkan hal yang tidak mungkin secara ilmiah malah bisa jadi membatasi imajinasi dan inovasi. Padahal mereka yang ‘ngerti’ inilah yang bisa diharapkan untuk mendekatkan antara kenyataan dan imajinasi.
Semoga sikap semacam ini tidak kemudian menimbulkan efek balik yang sifatnya massal kepada penulis sf (film, novel, komik dll) yang mengakibatkan sf ditulis hanya berdasarkan sains yang ada. Atau menghilangkan ‘semangat’ sf sebagai inspirator iptek seperti yang sudah-sudah, hanya karena permintaan pasar. Sebab dari titik yang terkesan tidak mungkin inilah sejumlah inovasi yang mempermudah kehidupan kita hari ini muncul. Untungnya hari ini masih ada film yang seperti Iron Man 2 (Favreau, 2010) dengan 3D hologram interface yang sekarang sudah mulai dikembangkan perusahaan IT seperti Microsoft, atau novel seperti Never Let Me Go (Kazuo Ishiguro, 2005) tentang komunitas manusia kloning dengan ilustrasi yang mendalam tentang consciousness.
Tulisan ini tidak ditulis untuk meremehkan sains, atau menyetujui karya yang ditulis dengan sembarangan tanpa ada aturan yang mengikatnya. Ini hanyalah pendapat seorang penikmat dan pengamat yang lebih suka jka sf lebih eksploratif ddan liar ketika meliatkan sains di dalam ceritanya. Setiap orang tentu memiliki preferensi yang berbeda-beda, mengingat genre sf sendiri terus berkembang menjadi berbagai macam bentuk (hard sf, dystopian future, dll). Terkait iptek itu sendiri, pengetahuan berperan penting dalam mengarahan individu ke arah yang lebih baik, namun secara bersaman juga bisa membatasi cara berpikir. Sekitar 100 tahun yang lalu seorang ahli fisika yang tidak terlalu dikenal mengubah caranya melihat dunia melalui imajinasinya. Ilmuan lain yang cara berpikirnya masih terbatas dalam pola pikir yang lama meragukannya dan meremehkan teorinya. Namun ketika teorinya berhasil di buktikan, ia membuat fisika menjelaskan alam semesta dengan lebih akurat daripada sebelumnya. Salah satu kalimatnya yang terkenal adalah:
“Imagination is more important than knowledge. For knowledge is limited to all we now know and understand, while imagination embraces the entire world, and all there ever will be to know and understand.”
Mungkin saja dengan adanya sf yang cukup liar, kita bisa membongkar cara berfikir kita dan menemukan sesuatu yang kita tidak pernah sadari sebelumnya.










