Hai pemuda, mari kita kenalan dengan pemuda-pemuda masa kemarin. Karena galau itu bukan hanya milik pemuda jaman now. Tapi galau adalah sesuatu yang normal terjadi pada pemuda, sejak jaman dahulu.
Galau tingkat Tjokro itu..
Kenal Tjokroaminoto? Ya, beliau dikatakan sebagai bapaknya pergerakan di Indonesia. Melahirkan anak-anak ideologis, mulai dari Semaun dengan Komunisme nya, Kartosoewirjo dengan prinsip khilafahnya, sapai Soekarno dengan Nasionalisme nya. Tapi kita ngga akan bahas tentang ideologi-ideologi itu saat ini.
Tingkat galaunya Tjokro muda seperti ini, beliau punya pertanyaan-pertanyaan yang kritis dan pola pikir yang mendorongnya untuk bergerak lebih.. kira-kira pertanyaan Tjokro ttg hidup dan kehidupan seperti ini..
Kenapa orang jawa harus kerja sebagai pegawai belanda? Kenapa belanda sesukanya merintah orang2 jawa? Padahal kita semua tahu, pas jaman sekolah dulu, atau minimal jaman ospek deh, kalau kebebasan pribadi kita direbut sama senior itu ngga enak. iya ngga? Nah, Belanda itu siapa sih, dateng-dateng ke Indonesia, malah merintah-merintah gitu.. Bahkan sekelas orang tua aja, ngga bisa maksain anaknya harus berbuat ini atau wajib berbuat itu.
Kenapa di luar keluargaku (keluarga Tjokro dari kalangan para priyayi), di desa2 petani itu miskin, melarat, ga berdaya, dan harus setor ke belanda? Kenapa sekolah dibeda2in? yang boleh di OSVIA cuma orang2 priyayi dan pangreh praja? Tiga pertanyaan diatas mirip-mirip sistem kasta sih, iya ngga? padahal manusia diciptakan setara, toh berasal dari keluarga manapun, dari kalangan rakyat biasa ‘kah, dari kalangan orang terpandang kah, bahkan raja sekalipun,ngga ada tuh yang lahir udah pakai mahkota. Semua sama, bayi telanjang, yang cuma bisa nangis, right?
Kenapa ngga ada juru tulis orang belanda? Kenapa kuli2 orang jawa bukan belanda? nah ini balik lagi ke pertanyaan sebelumnya, kasta itu ngga adil men, apalagi berdasarkan latar belakang keturunan dan bukan hasil upaya. Setiap orang harusnya bisa milih mau jadi apapun.
Bagaimanapun, tingkat galau Tjokro muda, melahirkan pemikiran baru. Melahirkan perjuangan baru, bahkan melahirkan anak-anak ideologis baru! Tingkat galau mu sampai mana hai pemuda?
Kenal Muhammad? atau panggilan kecilnya Ahmad(?) Kalau kamu pernah baca bukunya pak Michael H. Hart tentang 100 orang yang paling berpengaruh, beliau menempatkan Muhammad sebagai urutan pertamasebagai orang yang paling berpengaruh di dunia. Bagaimanapun sejarah mencatat 14,4 abad pasca penyebaran ajaran Muhammad secara terang-terangan, masih saja banyak pengikutnya. Tapi kita ngga akan bahas tentang ajaran Muhammad tersebut saat ini.
Tingkat galaunya Muhammad muda pada abad ke-6 masehi kala itu..
Rusaknya nasab (garis keturunan), membuat ‘Muhammad muda’ galau. tahu pergaulan bebas? itu lho anak-anak gaul yang bebas. Haha, bukan itu. Setiap dari kita tahu lah ya, gampangnya kalau anak jaman sekarang menyebutnya seks bebas, ganti-ganti pasangan dst. Saat seseorang berganti-ganti pasangan untuk ngeseks dan jadi bayi, itu bayi ngga ketahuan bapaknya yang mana. Iya benar bahwa nasab atau asal-usul itu jelas dalam konstruksi budaya ada pride atau punya kedudukan tersendiri. Cuma ni, kalau kita mau berbicara jangka panjangnya, misal ketika dewasa nanti bahaya banget kan kalau dia bakal nikah atau ngeseks dengan saudara kandungnya sendiri, bisa-bisa incest tuh! Itu baru satu yang muncul, masalah berikutnya akan mengintai, semacam masalah sosial baru, mulai dari anak lahir dengan cacat serius, gangguan mental, kelainan fisik, hatta gangguan otak.
Perjudian menjamur, bahkan dapat dijadikan sebagai ‘alat pengambilan keputusan’. Contohnya, ada perempuan ngelahirin bayi, nah bayi yang baru lahir ini berasal anak dari laki-laki yg mana kan ngga ketahuan karena perempuan bebas ditiduri siapapun, nah dikoocok dah tu entah itu dadu atau alat apapun itu buat nentuin “ini bayi berasal dari ayah yang mana”. Kan kacau banget, tapi di jaman itu karena saking bobroknya, ya hal itu merupakan sesuatu yang normal. Tapi tingkat galau Muhammad sekelas ini, ngga hanya berhenti pada pemikiran, oh yaudah sih wajar, ngga begitu tapi ini adalah awal dari kerusakan berikutnya (balik ke poin ‘rusaknya nasab’). Contoh kedua, kamu punya uang-kamu judi-kamu ngga usaha keras (kerja banting tulang)-kalau mujur-dapet uang banyak. Terus muter aja kegiatan gitu terus, di lingkaran judi-mujur-foya foya. Pas apesnya gak mujur, kamu ngutang, bisa gadein tanah, rumah, anak, istri, apapun itu. Pasti lahir kekerasan, masalah sosial baru.
Tapi tingkat galau Muhammad sekelas ini, ngga hanya berhenti pada pemikiran, “oh yaudah sih wajar, banyak orang yang kaya gitu, banyak orang yang ngelakuin itu” ngga begitu bung! Tapi ini adalah awal dari kerusakan berikutnya, kerusakan nasab, masalah sosial baru dst.
Kenapa perempuan sangat tidak terhormat, bahkan bisa jadi hadiah & warisan? ini tingkat galau kelas Muhammad yang ketiga. Disaat penduduk bumi ingin memusnahkan perempuan, ingat kisah Umar bin Khottob sebelum masuk islam ? Kalau perempuan benar-benar dimusnahkan, mungkin manusia akan punah. Kalau perempuan diperlakukan tidak terhormat, ada berapa banyak lansia yang nenek-neneklantang lantung hidupnya. Kalau perempuan bisa jadi hadiah bahkan diwariskan dari bapak ke anak laki-lakinya, berapa banyak kejadian incest yang akan terus berlanjut dan masalah sosial seperti apa yang akan terjadi saat ini. Galaunya Muhammad ini, di masa depan, benar-benar membuat beliau adil dalam memperlakukan pengikutnya baik yang perempuan maupun laki-laki. Dan mengubah persepsi masyarakat, terutama pengikutnya,bahwa perempuan itu setara dengan laki-laki (dengan porsinya masing-masing,baca buku Fiqh Wanita-nya Yusuf Qorodhawi deh). Oiya btw, semua budaya dan konstruksinya merendahkan perempuan, baru di abad 6 masehi ajaran yang dibawa Muhammad yang benar-benar menaikkan derajat perempuan jadi setara sama laki-laki, saya lupa baca di buku mana, nanti kalau ingat, saya edit lagi postingan ini,in sya Allah.
Kenapa ada sistem riba? yah kita semua tahu bahwa sistem bunga uang yang dipinjam harus dikembalikan lebihh. Bunga uang, tidak pernah menjadi kuncup yang mekar dan wangi siap untuk dipetik. Riba hanyalah sistem akal-akalan yang membuat si miskin (yang membutuhkan uang) makin tercekik, bukan malah terbantu. Dan riba adalah hal yang biasa pada masa itu, (dan sekarang juga sih) tetapi Galaunya Muhammad di masa depan, melahirkan sistem, “kaya-lah sekaya-kayanya, tetapi tidak dengan cara membuat yang lain miskin atau menjatuhkan yang lain. Jadilah orang kaya, dengan hasil usaha jerih payahmu sendiri dengan berdagang dan segala macam peraturannya.” Dan yang terpenting, “kaya-lah sekaya-kayanya, tapi dunia bukan di letakkan di hati, dunia hanya sebatas genggaman tangan, berbagilah, infaq, shodaqoh, zakat”
Pada akhirnya tingkat galau Muhammad menyadarkan kita, betapa remeh temehnya galau yang sedang kita pikirkan atau jalani detik ini..
Bagaimanapun, galau adalah hal yang biasa/normal terjadi pada pemuda. Versinya saja yang menentukan kapasitas si pemuda itu sendiri. Ada galau tingkat teri, ada galau tingkat menye-menye, dst dst. Jadi pemuda, tingkat galaumu, atau galau versimu seperti apa?
Jika nyatanya tingkat galau kita masih tingkat rendahan, Mungkin kita butuh lebih banyak belajar untuk diri sendiri dengan banyak mengulang kisah dua tokoh barusan, atau Ibrahim muda (si bapak para nabi), atau Musa yang kabur dari negerinya karena kedzaliman si pemimpin besertakroni-kroninya, atau tak usahlah jauh-jauh menarik garis waktu dan wilayah. Ambillah contoh bung Tomo bapak yang masih sangat lekat dengan kita, mahasiswa UI yang tak sempat ujian sidang skripsi, dan yang meski usianya tak ‘muda’ lagi, setengah abad sudah, namun masih tetap memperjuangkan kepentingan negara, diatas kepentingan pribadi maupun golongan. Berdiri tegak menyampaikan yang benar adalah benar. Tak gentar walau sebentar.
-best Regards, Yunita Sakinatur
Sleman
Rabu 0:22 WIB
Februari 27, 2018