To Be With You (Part II)
Suara televisi hanya lewat begitu saja di telingaku. Sama sekali tidak kuperhatikan. Sekedar kujadikan pemecah kesunyian. Aku melirik jam dinding yang tergantung beberapa meter diatas televisi. Pukul empat dini hari. Walaupun mataku sudah berwarna merah dengan kantung mata yang nyaris terlihat, aku jelas-jelas telah kehilangan selera tidurku.
“Minho-ya, bagaimana jika aku menjadi yeojachingu Taemin?”
Kalimat Jooeun kemarin sore terus berputar dikelapaku. Jooeun mengatakannya dengan sangat riang, menatapku polos. Aku, yang sedang meminum air mineral, sukses tersedak dengan botol air mineral yang tumpah dan membuat sepatuku basah. Aku menatapnya horror sebagai balasan, tapi Jooeun malah berkedip menyebalkan. Berusaha mengeluarkan aegyo yang tidak mempan padaku.
“Taemin masih anak kecil, Jooeun-ah,” ucapku.
“Kau juga masih kecil, Minho-ya,” sahutnya, terkekeh. Mengabaikan umurku yang sedikit lebih tua darinya. Jooeun dengan cepat berlari kearah utara saat kami sampai di pertigaan –yang memisahkan jalur rumahku dan Jooeun-, sebelum aku menghadiahkan jitakan dikepalanya. Aku menghela nafas.
Jika Jooeun menjadi yeojachingu Taemin, maka aku harus merelakan hatiku yang pecah ditangannya. Juga harus pura-pura tersenyum saat kebiasaan-membicarakan-Taemin Jooeun kambuh lagi, yang kemungkinan akan bertambah sering.
Saat aku sadar aku tidak bisa dan tidak ingin menjadi seperti itu, aku tahu bahwa aku tidak boleh hanya menjadi penonton yang mengeluh dibelakangnya. Aku tidak bisa membiarkan Jooeun bersama Taemin, ataupun namja lain. Setidaknya aku harus melakukan sesuatu untuk membuatnya berbalik melihatku sebagai seorang namja.
Layar televisi kini menampilkan deretan nama crew yang terlibat dalam acara entah-apa-tadi. Aku meraih remote control yang tergeletak di lantai. Menekan tombol power untuk mematikan televisi. Menyambar ponsel hitam disampingku, memutar-mutarnya dengan sebelah tangan. Mataku menangkap goresan kecil pada layar, yang dibuat Jooeun sebagai balasan karena aku menjatuhkan ponselnya. Sedetik kemudian melangkah setengah berlari menuju pintu rumah. Sekarang atau tidak sama sekali. Aku tidak boleh menyesal.
***
“Kau seharusnya datang sedikit lebih siang jika ingin mengajak Jooeun lari pagi,” ucap Key hyung, oppa Jooeun satu-satunya, saat membukakan pintu untukku. Disertai menguap pada akhir kalimat. Masih menggunakan piyama berwarna pink –yang aku tahu dari Jooeun sebagai warna favorit Key hyung-, lengkap dengan mata yang setengah tertutup. Aku melemparkan senyum tiga jariku padanya, menggaruk pipiku yang tidak gatal.
“Kau tunggulah disana,” lanjut Key hyung, menunjuk sofa putih di ruang tamu. Aku menggangguk kecil, mengucapkan terima kasih dengan tulus. Key hyung menghilang dibalik tembok, mungkin menuju kamar Jooeun.
Aku menjadi sedikit gugup dan juga cemas. Walaupun aku sudah berkali-kali meyakinkan diri ketika setengah berlari menuju kesini, tapi tetap saja aku merasa canggung. Bahkan aku merasakan degup jantungku yang lebih cepat dari biasanya. Sekaligus keringat dingin di kedua telapak tanganku.
“Kajja,” ucap sebuah suara yang sangat aku kenal. Aku menoleh, menemukan Jooeun berdiri tak jauh dariku. Menggunakan hoodie, celana training, dan sepatu olahraga. Aku rasa Jooeun benar-benar mengira aku mengajaknya untuk lari pagi. Aku hanya bisa mengekor saat Jooeun menyeretku keluar rumahnya.
“Oppa, aku keluar!” teriak Jooeun tepat didepan pintu. Tidak ada jawaban apapun dari dalam. Aku tebak Key hyung sedang melanjutkan tidurnya. Jooeun mencibir. “Aish, dasar tukang tidur,” ucapnya sebal. Aku menatap Jooeun takjub, mati-matian menahan tawa. Tidak ingatkah Jooeun bahwa kurang dari dua minggu lalu ia jauh lebih tukang tidur dibanding Key hyung? Bahkan dulu Key hyung pernah berkata padaku jika membangunkan Jooeun adalah hal yang paling menguras tenaga.
Jooeun menarikku agar berjalan disampingnya, melintasi halaman rumahnya yang penuh dengan rumput hijau terpotong rapi. Aku melirik Jooeun. Hal yang salah, karena membuat jantungku berdegup semakin kencang.
“Aku akan menghampiri Taemin dulu,” kata Jooeun. Dengan cepat aku menggenggam tangannya sebelum Jooeun sempat membuka gerbang.
“Tidak bisakah kau berhenti membicarakan Taemin?” tanyaku. Jooeun menatapku bingung. Mengangkat alisnya, meminta penjelasan lebih atas pertanyaanku. Aku menarik nafas pelan, mengatur degup jantungku sendiri.
“Bagaimana jika aku mengatakan bahwa aku menyukaimu?” ucapku akhirnya, sedikit takut menunggu reaksi Jooeun.
Jooeun terkekeh setelah kami berdua melewati satu menit penuh dalam diam. “Jangan membodohiku, ini bukan April Fool’s Day, Minho-ya.”
“Aku serius,” sahutku singkat. Aku mencengkram lembut kedua bahu Jooeun. Menatap tepat kedua manik mata hitamnya yang entah sejak kapan telah membuatku gila. Aku sudah sangat sering menatap matanya, tapi belum pernah selekat ini. Indah.
Salahkan setan yang kebetulan lewat. Oh baiklah, salahkan saja aku yang tidak bisa mengendalikan diri. Aku menarik tengkuk Jooeun dalam satu gerakan cepat. Menempelkan bibirku pada bibir cherry miliknya. Mengabaikan Jooeun yang terbelalak kaget, aku mengulum bibirnya lembut setelah mengecupnya berkali-kali. Menutup mataku secara refleks. Mencoba mengatakan bahwa aku benar-benar menyukainya. Ralat, mencintainya.
Ciuman kami berakhir ketika Jooeun mendorongku kuat. Suara tamparan keras berdengung di telingaku bersamaan dengan rasa sakit sekaligus panas pada pipi kiriku. Tatapan Jooeun yang setengah benci setengah tidak percaya membuatku merasa sangat bersalah.
“Maafkan aku, Minho-ya… Lebih baik kau pergi sekarang,” ucapnya lirih. Aku kehilangan kata-kataku. Sebelah tangan Jooeun meremas ujung hoodie yang dipakainya. Aku sempat melihat mata Jooeun berkaca-kaca sebelum akhirnya aku berbalik dan membuka gerbang rumahnya. Menuruti perkataan Jooeun untuk pergi saat ini juga.
***
Aku tahu hubungan kami tidak akan sama seperti sebelum aku menyatakan perasaanku padanya. Terlebih aku memberinya sebuah ciuman paksa. Hari ini Jooeun sama sekali tidak mengucapkan sepatah katapun padaku. Jooeun memang tetap duduk disampingku, tapi ia bahkan tidak mau menatap wajahku. Pertanyaanku hanya dijawab dengan anggukan atau gelengan olehnya. Aku tidak menemukannya di halte bus tadi pagi. Dan Jooeun menghilang dengan cepat setelah bel pulang sekolah berbunyi.
Ini kali keduanya aku pulang sendirian sejak menjadi siswa Hannyoung. Pertama kali ketika Jooeun tidak masuk sekolah. Waktu itu kami masih berada di tingkat satu, aku menghabiskan sepanjang sore dengan menghiburnya yang terus mengeluh karena demam. Aku menghela nafas saat melewati pertigaan, menatap jalan kecil menuju utara dengan perasaan campur aduk. Melanjutkan langkah menuju rumahku sendiri setelah terdiam seperti orang bodoh.
Seperti yang kukatakan sebelumnya, aku tidak boleh menyesal. Setidaknya Jooeun sekarang mengetahui apa yang aku rasakan, itu lebih baik. Aku membuka gerbang rumahku dengan perlahan. Tiba-tiba membayangkan bagaimana cara Jooeun melewati gerbang yang terkunci ketika malam ulang tahunku. Apakah ia diam-diam mempunyai duplikat kunci? Atau ia susah payah memanjat?
“Hai,” sapa sebuah sosok yang duduk di salah satu kursi teras. Tersenyum canggung padaku. Jantungku seperti berhenti berdetak ketika melihat sosok tersebut. Jooeun, Kim Jooeun.
“Maafkan aku tentang tadi pagi,” ucapku.
“Kau tidak perlu meminta maaf, Choi bodoh,” sahut Jooeun. Sedetik kemudian memelukku erat, membenamkan wajahnya dipundakku. Aku, dengan rasa bingung atas perbuatannya, membalas pelukan Jooeun ragu. “Aku baik-baik saja ketika Taemin mengatakan bahwa ia sangat menyukai Emma Watson, tapi aku tidak baik-baik saja saat melihat punggungmu menjauh dengan ekspresi bersalah di wajahmu.”
Pelukan Jooeun semakin erat. Membuatku sesak, tapi aku membiarkannya. Aku tersenyum lebar ketika otakku berhasil mencerna kata demi kata yang diucapkannya. “Jadi?” tanyaku.
“Jadi… Ah, aku harus pulang. Aku berjanji akan menemani Key oppa berbelanja,” ucapnya ringan. Melepaskan pelukannya begitu saja. Meluluh lantahkan bunga-bunga yang hampir bermekaran dihatiku.
Aku dan Jooeun. Tidak banyak yang berubah. Jooeun tetap semaunya sendiri. Dan terkadang tingkahnya tetap membuatku ingin melempar Jooeun dengan sepatu. Jooeun tetap sering membicarakan Taemin, kali ini tentang betapa inginnya ia menculik Taemin kemudian mengadopsinya sebagai adik. Oh ya, Jooeun tidak lagi memanggilku ‘Minho-ya’.
“Kau harus mengantarku pulang, chagiya.”
---FIN---
Author: @Latiara_kim
Published By: @minhoshineeina
The Winner of #MinhoFFcontest at @minhoshineeina
















