Selamat senja kamu, yang senyumnya menawan hati Apa kabar? Masihkah awan-awan rindu menaungimu? Aku harap begitu. Apa sabit di matamu masih melengkung utuh seperti senja waktu itu? Aku juga berharap masih tetap begitu. Disini sedang hujan. Tidak hujan deras. Tidak juga gerimis. Senja selalu saja menjadi senjata tertajam untuk memnghunuskan rindu dalam-dalam ke perasaanku. Dan hujan, perantara terbaik untuk mengingat senyum dan tawa bahakmu di senja kemarin. Sekarang hari sudah senja dan sedang hujan. Dan aku tak perlu memberitahumu bagaimana aku harus merayakan dinginnya rindu ini. Bukan hanya membekukan perasaan. Mataku juga ikut hujan. Saat kau membaca tulisan ini, kita sudah merentang jarak berpuluh-puluh kota. Iya, aku memutuskan untuk pulang. Untuk satu alasan : rindu tidak selalu tentang pertemuan. Aku memastikan kembali ke rumah, menutup lembaran-lembaran tentangmu sementara waktu. Merehatkan ingatanku tentangmu, untuk saat ini. Terimakasih untuk pertemuan-pertemuan yang kau rencanakan. Tak banyak hal yang kita bicarakan. Pertemuan singkat tanpa banyak bicara yang terkadang kita akhiri dengan suara terbahak-bahak. Obrolan-obrolan singkat yang lebih banyak kita isi dengan diam. Iya, begitu banyak hal yang ingin kita sampaikan. Tapi semua hanya mengambang memenuhi dada. Dan sejak saat itu, aku memutuskan bahwa rindu harus ditanam dalam-dalam. Bahwa akan ada waktu yang tepat untuk segera memetiknya. Karena aku percaya, bahwa kita yang jauh adalah himpunan rindu yang harus diperjuangkan. Dan pada masa yang entah kapan, datanglah sebagai orang yang tepat pada waktu yang tepat. Tertanda, adinda yang sedang menunggu . . . #suratuntukfebruari2017 #pecandubuku #eigeradventure #danautoba #gunung #mountains #tobalake #tobalakeview (di Aek Sipangolu Bakara)











