Mereka yang Tak Bisa di Rumah Aja, Mereka yang Tak Punya Rumah
Ketika saya bertanya kepada orang-orang yang saya temui, baik secara langsung atau pun via daring, tidak ada satu pun dari mereka yang tidak geram dengan wabah yang menggegerkan dunia dalam beberapa bulan terakhir ini. Tidak hanya kesehatan fisik, dampak dari Covid-19 ini juga menyentuh sektor perekonomian di berbagai kalangan profesi. Terlebih dampak ini sangat terasa di kalangan masyarakat kelas bawah, mulai dari para pemilik usaha mikro, buruh, hingga tukang becak, tukang rosok, juga pemulung.
Sebagai seorang mahasiswa di salah satu universitas di Jogja, saya juga merasakan langsung dampak dari wabah ini. Saya dan teman-teman mahasiswa tidak bisa berkuliah seperti biasanya karena semua mata perkuliahan dilaksanakan via daring. Di tanah perantauan ini saya mengalami dilema, antara pulang dengan membawa rasa khawatir dan takut mengangkut virus atau tetap berdiam di Jogja dengan kondisi bekal hidup yang kian menipis. Dengan berbagai pertimbangan, saya akhirnya memutuskan untuk tetap tinggal di Jogja dan bergabung dengan gerakan-gerakan sosial melawan Covid-19. Kami biasa menyebut gerakan-gerkan sosial seperti ini dengan sebutan gerakan #rakyatbanturakyat.
Setelah kurang lebih 18 hari tergabung dalam gerakan “Relawan UMKM Cegah Corona” bersama teman-teman saya; Obed Kresna, Ilham, Galih, Fikri, dan lain-lainnya yang bertugas membagi-bagikan hand sanitizer, sabun, dan juga disinfektan, saya juga bergabung dalam gerakan Solidaritas Pangan Jogja atau SPJ. Gerakan SPJ ini berperan semampunya dalam membantu ketahanan pangan kelas paling rentan seperti para tukang becak, penjual putu, dan para pemulung, yang mau tidak mau mereka terpaksa harus mengabaikan imbauan untuk #dirumahaja demi bisa mendapatkan sesuap nasi.
Dari dekat, saya benar-benar mendengar keluhan sekaligus semangat mereka dalam bertahan hidup. Bagaimana bisa para tukang becak yang tidak dapat tarikan selama tiga minggu, tetapi tetap pandai tersenyum dan mangkal demi menunggu orang-orang yang membagikan nasi bungkus kepada mereka? Bagaimana bisa para penjual jajanan kecilan di pinggir jalan tetap bisa tersenyum menjajakan jajanannya, meskipun jalanan dipenuhi dengan kesepian? Bagaimana bisa para pemulung mendapatkan hasil pungutan plastik, kardus, dan botol jika banyak toko yang tutup? Bagaimana bisa mereka bisa tetap #dirumahaja sementara tak jarang dari mereka yang tak punya rumah? Bisa disimpulkan bahwa di tengah masa-masa yang sulit ini mereka adalah kelompok yang sangat rentan terhadap virus ini.
Pada satu malam, saya dan teman saya, Josardi, berjalan-jalan mengelilingi ruas-ruas jalan di sekitaran UGM, UNY, Gejayan, dan UIN. Bukan tanpa maksud, kami keluar dari kamar indekos hanya untuk memetakan lokasi di mana teman-teman pemulung dan para tukang becak itu bermalam dan bertahan hidup. Gunanya untuk membaca dan menitik lokasi-lokasi mereka agar ketika siang harinya saat kami dan teman-teman SPJ berbagi nasi bisa langsung bertemu mereka. Tidak hanya satu dua, kami banyak menemui mereka di pinggir jalan, terlihat kelelahan. Ada juga ibu-ibu yang mendorong gerobak penuh rongsok dan di atas gunung rongsoknya ada seorang anak kecil yang tersenyum lucu dan menggemaskan.
Setelah berkeliling satu jam, kami memutuskan untuk menghampiri tiga lelaki hebat dengan dua sepeda dan satu gerobak sampahnya. Mereka bernama Pak Opal, Mas Joko, dan Mas Rohim. Di trotoar bawah lampu jalan yang kuning itu kami berbagi cerita. Saya mendengar tentang penghasilan mereka yang berada di kisaran 30-40 ribu di hari-hari biasa. Dan pada masa-masa pandemi yang sulit ini, mereka hanya bisa mendapatkan maksimal 20 ribu per hari, itu pun sudah sangat mentok, dalam bahasa Jawanya ngoyo.
Sampah kardus yang dihargai Rp1.500/kg, sampah botol plastik yang dihargai Rp1.200/kg, dan sampah plastik campur yang dihargai Rp800/kg, bagi saya sudah sangat tidak cukup untuk menghidupi pangan mereka. Harga barang rongsokan yang merosot 60% ini benar-benar membuat mereka kian mengalami masa-masa sulit ini. Itu pun kalau para pembeli rongsoknya buka, karena akhir-akhir ini hampir semua tutup.
Di tengah obrolan kami yang penuh dengan cerita menyedihkan dan juga canda tawa yang seringkali terselip, mata saya terpanah dengan tulisan yang ada di dua sisi gerobak mas Joko. Gerobak itu bertuliskan “Berkah Dalem” dan “Mazmur 23 Kekal” yang merupakan salah satu nama surat dalam kitab suci Injil. Ketika saya bertanya tentang siapa yang menulis, mas Joko menjawab dengan agak malu-malu, “Saya sendiri, Mas, yang nulis. Pakai tangan itu kuasnya, pakai sisa-sisa cat”. Sambil menghabiskan makan yang mereka dapatkan dari relawan gerakan lain malam itu, dia juga mempersilakan saya untuk memfoto gerobaknya setelah tahu kalau saya terkagum dengan tulisan itu.
“Gak papa, mas?” tanyaku. Dia jawab, “Wo ya gakpapa, Mas. Silakan difoto. Di sisi yang sana juga ada, tulisannya sama.” Akhirnya saya foto dua sisi tersebut. Malam itu saya benar-benar terpukul dan merasa sering kurang bersyukur. Dengan segenap kebahagiaannya dia mempersilakan saya mengambil gambar tanpa ada rasa malu, karena beberapa dari kita terkadang malu ketika pekerjaan kita tak seberuntung orang-orang kaya.
Saya jadi teringat Pramoedya pernah berkata, “Setiap orang yang bekerja adalah mulia”. Dengan segala kepandaian bersyukurnya, saya benar-benr terkagum dengan cara dia berpedoman dan bersyukur terhadap keyakinannya dengan mencantumkan nama kitab Mazmur beserta bab 23-nya. Sungguh ini sangat berat bagi orang lain yang tak setangguh mereka.
Ketika diajak bicara tentang Covid-19, mereka juga paham tentang konsekuensi mereka dengan tetap bekerja. Mereka juga menjaga kebersihan tubuh mereka semampu mereka. Nampak juga botol hand sanitizer yang kemarin mereka terima dari gerakan saya, Obed, Fikri, Ilham, Dholi dan teman-teman lainnya di relawan UMKM Cegah Corona. Setelah itu, Josardi bertanya tentang riwayat sakit mereka dengan tujuan memudahkan pendataan agar teman-teman SPJ bisa menyuplai vitamin dan kebutuhan kesehatan mendasar bagi mereka. Lagi-lagi membuat kami terkagum, mereka menjawab, “Wah malah nggak pernah sakit, Mas. Lha wong hati kita selalu bahagia, hahaha” susul tawa bahagia mereka.
Malam itu mereka benar-benar mendidik kami. Kami mendapat pelajaran baru bahwa salah satu kunci dari tubuh yang sehat adalah hati yang selalu bahagia, hati yang selalu bersih dan penuh rasa syukur kepada Yang Maha Kuasa. Kami tak tau harus membicarakan apa lagi malam itu.
Situasi malam itu membuat saya semakin miris dan malu karena hidup di tengah lingkungan yang terkadang dari kita masih menganggap bahwa mereka hanya sebatas gelandangan tanpa rumah. Bahkan secara lebih kejam terkadang kita menganggap mereka hanyalah sebatas gelandangan yang sering mengotori pemandangan kota. Ketika kemanusiaan lebih rendah nilainya ketimbang pemandangan kota, hati saya bertanya, “Apakah ini layak untuk mereka? Apakah kita masih layak menyebut diri kita manusia?”
Dan ketika saya berpikir lebih tentang dasar-dasar sebuah negara, apakah pantas kita menggunakan diksi “dipelihara” untuk mereka? Sebagaimana kita ketahui bersama, hukum positif kita berbicara, “Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara.” Ah sudahlah, saya tidak bisa berharap lebih banyak tentang sebuah diksi. Saya hanya bisa berharap semoga mereka benar-benar mendapatkan pertanggungjawaban dari negara. Dalam kesempatan kali ini saya hanya ingin mengajak kita untuk merenungkan bahwa mereka adalah manusia bermartabat, bukan hewan peliharaan. Jawabannya bagaimana, mari kita renungkan bersama-sama.
Akhirnya, setelah kurang lebih satu jam kami berbagi cerita di trotoar dekat Fakultas Teknik UNY, kami pun pamit bergegas pulang. Begitu juga dengan mereka, Mereka mengayuh sepeda dan mendorong gerobaknya untuk pulang. Bukan menuju rumah tentunya, melainkan menuju trotoar samping Selokan Mataram di sekitaran MM UGM, tempat mereka—dengan penuh rasa syukur—melelapkan tubuh lelah mereka.
Teruntuk Pak Opal, Mas Joko, dan Mas Rohim, terima kasih banyak sudah mendidik kami. Salam hangat dan sehat selalu dari dua muridmu, Lutfi dan Josardi.
Selama masa pandemi, aku memiliki privilese untuk tetap bekerja di rumah. Ini membolehkanku untuk menghabiskan banyak waktu menonton liputan mengenai Covid-19. Baik dari kanal kantor berita internasional, konferensi pers negara maju dan negara berkembang, sketch komedi British, hingga pemuka agama. Adikku sering mengeluh mengapa tidak ada berita baik di masa-masa seperti ini. Meskipun sekolahnya semi-militer, namun rasa takut matinya tinggi juga.
Ku ulangi lagi klise ‘’pandemi ini telah memperlihatkan bagaimana wajah sebuah pemerintahan’’. Sudah banyak sekali media hingga teman dekat yang menulis tentang rendahnya kualitas Indonesia dalam menghadapi Covid-19. Aku sebelumnya berniat untuk menyumpah di kalimat ini, namun tidak jadi. Begitu pula pada kalimat ini.
Pidato pemangku kebijakan akhir-akhir ini begitu menyebalkan. Sejak sebulan lalu kita sama sama menyaksikan penyangkalan dan pengerdilan atas ancaman virus Corona. Mereka bermain peran serupa tabib gadungan yang merasa ramuan dan wejangannya lebih mujarab dari pedagang obat pasar malam mana pun. Menonton berita atau memantau media sosial menjadi begitu melelahkan. Separuh nasi yang aku dan kalian makan habis menjadi umpatan.
Aku ingin memastikan bahwa kalian memahami apa yang kumaksud dengan tabib keliling. (Cek di google dengan kata kunci “Atraksi Tukang Obat Keliling”). Kau tahu kan? Biasanya pedagang obat ini mengadakan showcase dan menawarkan ramuan dan menunjukkan jurus saktinya seperti; mengubah ikat pinggang atau tali rafia menjadi ular, kebal sayatan golok, dan aneka atraksi ekstrim lainnya. Aksi mereka biasanya berdurasi panjang, bertele-tele, namun bisa menarik perhatian warga yang lewat. Cukup aneh.
Di balik itu semua, tahukah kalian tentang rahasia umum tentang atraksi tabib keliling yang berkerumun itu?
Banyak cerita bahwa minyak gosok yang mereka jual tidak membuat kita sembuh dari penyakit, tidak kebal golok. Ada berita yang lain mengabarkan bahwa obat gosok tersebut adalah campuran minyak kayu putih. Di kerumunan ramai para penonton juga biasanya terdapat copet-copet yang bekerja dengan mudah, thanks to tabib cum MC cum penggeser perhatian. Banyak dari mereka (copet) yang bersekongkol dengan tukang obat atau tidak yang bergerilya di sana.
Mungkin secara sengaja atau tidak sengaja pemerintah kita belajar banyak dari tabib keliling tersebut. Alih-alih memberikan penawar, mereka mendagang obat yang tidak manjur dengan dongeng ndaksong (ndakik-ndakik kosong). Dan ketika kita menagih janji untuk menyembuhkan, ia mangkir dari tanggung jawab. Si tukang obat juga mengaburkan perhatian masyarakat, lalu kemudian komplotan copetnya beraksi meloloskan undang-undang korup di tengah pandemi. Kita kecolongan banyak hal; darurat sipil, Omnibus Law, tanggung jawab negara, dan kebobrokan lain yang mengingatkan tentang sistem hukum kita yang senantiasa tumpul ke atas.
Oh iya, tentang klip itu.
Pidato Pak Presiden tersebut begitu somber dan nihil percaya diri. Mengingatkanku pada Murray Ostril dan dongengnya tentang Coney Island. Kukira akan sama vibe surem dan ketidakberdayaannya.
Semenjak swaisolasi, aku kembali menghidupkan kegiatan bengang-bengong. Aku rasa kalian juga sedang getol melakukan hal yang sama. atau mungkin lebih iseng lagi dengan menantikan kebijakan apa yang bisa membuat (paling tidak sedikit) husnudzon kepada negara.
bukan maksudku mau berbagi nasib
nasib adalah kesunyian masing masing
ku pilih kau dari yang banyak,tapi
sebentar kita sudah dalam sepi lagi terjaring
aku pernah ingin benar padamu
di malam raya, menjadi kanak-kanak kembali
Aku ingin membagi sajak Pemberian Tahu (1946) semata karena merasa tak ada sajak lain yang pas untuk memulai ini semua. Mencoba berbagi nasib. “Walau,” ucap Chairil Anwar, “nasib adalah kesunyian masing-masing.”
Aku mungkin satu dari berjuta manusia yang telah ditulis oleh setumpuk kisah apek tentang kesunyian. Yang mencoba bertahan atau malah mengelakkan kesunyian, tapi akhirnya menyerah dan dilupakan.
Ini adalah bentuk kesunyian yang nyata. Tentang manusia yang tak pernah keluar dari adat yang membelenggunya, yang sunyi sendiri menghadapi kekuasaan-kekuasaan, dan karena hati nurani yang tak mampu menghadapi kenyataan sejarah. Yang kemudian diekspresikan lewat pola pikir dan tindakan yang berlebihan: eksperimen berkarya yang gila-gilaan, percintaan yang ganas, perang yang tak ada habisnya, altruisme yang menggebu-gebu dll.
Bermiliar orang lebih, merasa bahagia terkena wabah insomnia dibanding wabah corona. Pun demikian bila terjadi wabah amnesia. Beratus juta orang bangga menyandang status positif tuna-sejarah.
Kesunyian adalah ibu dari kebosanan. Agar tak merasa bosan, kusibukkan diri dengan memberi makan seekor induk kucing, kuelus ketiga anaknya, memasak resep yang belum pernah kuhidangkan, dan sering memerhatikan hujan.
Hujan turun selama semingguan ini. Sepengamatanku, ia mulai lebat ba’da dhuhur. Adakalanya hujan cuma gerimis kecil, tapi dimulai lebih pagi, merenggut cahaya merona matahari.
Saat itu orang tampak tak bergairah. Bahkan gerak napas mereka tak lebih seperti orang yang memperhatikan matahari tenggelam pada bulan April lewat jendela terbuka.
Mereka mulai tahu bahwa hujan gerimis adalah tanda datangnya hujan yang lebih lebat. Tiba-tiba, langit seakan-akan diremukkan menjadi seperangkat radio yang rusak.
Tetapi bukan itu permasalahannya. Yang terburuk adalah hujan itu telah memengaruhi segala sesuatu. Semua kenangan liar sewaktu muda; pesta hingar-bingar yang terakhir yang membangkitkan nafsu liar. Dan pada akhirnya yang tertinggal adalah perasaan getir dan penyesalan.
Mungkin, ada juga yang membangkitkan dalam dirinya keinginan yang terlambat pada begitu banyak usaha yang sebenarnya berguna, dan seharusnya ia lakukan, tetapi ternyata tidak dilakukannya. Semua itu sebenarnya datang dari tempat yang jauh, bukan dijatuhkan oleh hujan.
Untuk beberapa lama, aku mengukur sejauh mana rasa bangga yang tinggal tersisa. Langkah-langkah perlu dijejakkan.
Terkadang hujan telah memadamkan nafsu dan membangkitkan semacam ketenangan, karena tak berselera. Dikuasainya sifat bermalas-malasan.
Namun, udara yang lembab juga terlampau membuatku menemukan ilusi-ilusi romantis tatkala birahi mulai memuncak, yang menggeliat dalam diri dan seperti tak mampu diobati. Semenjak pengalaman bercinta makin bertambah.
Setelah hujan reda, apa yang akan terjadi? Apakah kau langsung pergi ke kamar dan menutup diri, tak sanggup menulis bahkan untuk berpikir, karena rasa gelisah yang ditimbulkan oleh gelak tawa, bisikan, senda gurau, dan kemudian diakhiri oleh kesunyian yang menyumbat malam-malammu, lagi?
Namun, sampai saat itu, kau akan memahami betapa kau mencintai teman-temanmu, betapa kau merindukan mereka, dan betapa kau ingin berada di antara mereka. Sampai saat itu terjadi, kita akan bertemu, saling berjabat tangan, saling berpelukan, dan saling berciuman.
kita berpeluk ciuman tak jemu
rasa tak sanggup kau ku lepaskan
jangan satukan hidupmu dengan hidupku
aku memang tidak bisa lama bersama
ini juga ku tulis di kapal dilaut tak bernama!
*
Post-script: Di mana pada suatu malam yang tak lebih baik dari malam-malam yang lain, tetaplah kuat seperti yang sudah kau tunjukkan padaku bertahun-tahun lamanya.
During my run today I followed the usual route through my neighbourhood to the botanical gardens, then south to Rushcutters Bay, along the water. The police were patrolling and dispersing groups or slowly driving through streets being intimidating. We are all supposed to be at least 1.5 meters away from each other. If not, we can be fined. Tonight, the government announced that groups of more than two people are banned.
We have begun to think about vectors. I fear the elevator buttons. How many others have touched it, where have their fingers been, did they wash? What about the doorknob of my building? Every tenant has touched it. Where have they all been, how many surfaces have they touched? Every neighbour has an unknown geography. We are made up of the surfaces and buttons and handles we connect with. When C went shopping today she could only think of how every item in the store had been touched by someone else who had spent their day touching other things touched by others. Normally it’s what we do, it’s what being human is, moving through places touching things.
C has asthma. If she gets sick it is likely her lungs will fill with fluid and she would drown. So we are being cautious, we cook a lot, read, work from kitchen tables instead of offices.
A runny nose, sneezing, my neck feels weird, is it the virus?
We’ve talked about death. Where do you want your ashes spread? Wherever my friends and family want me. After I’m dead it won’t matter to me, my ashes aren’t for me, they are for the living.
I feel embarrassed by how little I understand the economy. Isn’t it our duty?
I wonder what it means that everyone can stop working in a society. How does the government pay their wages? Where does the money come from? Is it actual money?
I picture it like this: The government has a massive underground vault of money. They have been storing cash for years just in case there is a crisis. Then coronavirus happens, they open the vaults and give the money to workers and employers. When the crisis is over they will close the vault back up, we’ll all go back to work, and the vault will be re-filled with money.
This is not how it works. There is no vault, governments don’t have savings, not billions, anyway. They have promises, contracts. The way that modern governments work is by promising to redistribute taxes and profits. They don’t have cash or very little of it, they can allocate and re-allocate capital, and make promises about future spending.
When people stop working and the government pays their wages, landlords, and forgives debts for a time, what contracts are being made on our behalf that we will have to pay off in the future? Are we not indebting ourselves to a future that we don’t get to have a say in? Are we being locked into a course of action we didn’t choose or get a say in?
Some people have seen this crisis as proof that economics is magic, it’s all made up, money is fake. How can a government produce billions of dollars or pounds just like that, out of thin air? There is no doubt that we are living through what months ago seemed impossible. The radical transformation of society is magic. But it is not that money is fake. We don’t yet know what the promises are, what our governments have committed us to repay in the future with our work.
There is a sense that when the crisis ends everything will return to normal. We will all go back to work at the same jobs, continue to mine coal and oil from the ground, burn it in factories to make more stuff that people will buy in shops with the money they made from all the stuff they dug out of the ground. It will be business as usual except there will be lots of debts to pay off. Isn’t that a kind of magical thinking, that we’ll just return to normal.
What this reinforces for me is just how easy a revolutionary transformation of society is. It also reminds me of the effort that people will go to avoid just such a change. Societies will want to return to the same old model of production, growth, and consumption, that has driven post-war politics and economics. The same old capitalism will prevail and people (who profit from it) will say that it is inevitable, there is no other option.
In Indonesia, things will be different. Nothing will change. Everything will continue more or less as usual. Infected people will be sacrificed. The elderly poor will not be protected. Everyone knows who is responsible for this mayhem, the rotten civil service, limp health care system. We know it is because the oligarchs in Jakarta have stolen the wealth that should have been invested in people, infrastructure, and caring for their health. It is their fault that devastating numbers of people will die. The question is, will it result in widespread resentment leading to unrest? I sense that there won’t be enough consensus over who is accountable for the government’s failure. Without that consensus, there will be widespread misery but no effective action. Religious institutions are so successful at manipulating the perception that the real causes of the failure of the state remain obscured. Because of this, there will be no effective action to transform them. In its place, misery will prevail, and so will the imams that promise access to paradise. Nothing will change.
If it has done anything, the coronavirus has exposed how we organize society with rare clarity. It has also revealed that the way it is organized may or may not be permanent.
Sydney. Mar 30, 2020.
A. B.