Kuat jika Dihadapi Bersama
oleh Arci Arfrian untuk pernikahan Ageng dan Fitri.
TERHITUNG, sudah tujuh tahun sejak pertemuanku dengan Fitri dan kemudian bertemu Ageng pada tahun 2019. Cukup intens bertemu pasangan ini pada tahun 2021 saat saya, Faris dan Reyhan mengelola Podcast Ora Gol dan nonton bareng sepakbola di Radio Buku (RB).
Terkadang, kami bertiga dengan ringan membicarakan hubungan Ageng dan Fitri. Yang terkesan jauh dari kata romantis, tanpa public display of affection (PDA), dan terheran-heran sebegitu kuatnya keduanya saling menatap laptop seharian di pojok belakang Radio Buku Sewon--tanpa mengusap rambut atau pipi satu sama lain, misalnya.
Jika bosan mendesain cover buku, Fitri hanya sibuk dengan kucing-kucingnya, makhluk aneh yang bikin saya sebal karena gemar gigit jempol kaki orang secara serampangan–mungkin itu cara PDA mereka (?).
Sementara Ageng, saat itu larut dalam tugas-tugas nirlaba menerjemahkan teks Bahasa Inggris untuk blognya–kapan lagi kau lakukan ini, Geng?.
Ada tiga kucing yang pada akhirnya jadi "anak" Fitri dan Ageng. Saya lupa nama mereka, tidak penting. Yang paling saya ingat adalah kedatangan pasangan ini ke RB, malam-malam, hujan, berboncengan Supra, klebus, hanya untuk memberi makan tiga kucing berandal itu. Dalam hati saya: malang betul jadi budak anabul.
MALAM ITU, saya menyadari jika komunikasi yang menghubungkanku dengan Ageng adalah perihal film. Sayangnya, saya baru mengikuti Klub Nontonn (dengan dua n) saat RB sudah berada di Nitikan.
Film Budi Pekerti kami diskusikan hingga larut malam. Perihal Animalus, beracunnya cancel culture, dan soal cara keluar dari lingkungan beracun adalah dengan meninggalkannya.
Meski pada akhirnya keluarga Bu Prani harus pindah ke Salatiga--dan ini bukan soal kekalahan, bukan pula penyesalan. Mereka kuat karena tetap bersama.
Kata-kata "kuat jika dihadapi bersama" ini kemudian saya ingat kembali saat Ageng berkomentar di postingan Instagram pernikahan Erika dengan Rimbawana.
Dan, ketika Ageng dan Fitri menikah pada November 2023 ini, Erika di Story IG-nya mengembalikan kata-kata tersebut "kuat jika dihadapi bersama/berdua". Seperti sebuah tantangan sekaligus berkah doa.
Soal menikah, kata Faiz Ahsoul: “Menikahlah bagi yang belum, setelah itu kau akan tahu rasanya menemui masalah (lagi)”. Sementara kata Muhidin M Dahlan, hanya: “Begitu”.
Mungkin, rasa berbagi kasur tiap malam, bertahun-tahun, dalam status pernikahan ya begitu-begitu saja. Kalian bisa menuliskannya, memaknai masalah, berhalaman-halaman, tanpa ada batas waktu.
Saya tak muluk-muluk untuk mengharapkan sebuah pernikahan akan terus langgeng pada seseorang, seperti satu ketetapan alam ikatan pelangi dan hujan.
Namun, sulit menemukan penyangkalan pada keindahan hujan dan pelangi jika bersama. Kalian kuat jika bersama. Pun jika tidak, baca lagi catatan kecil ini.[]















