Toilet (Kering)
Di zaman kekinian, saya salah satu dari sedikit pemuja toilet basah. Ya, toilet basah. Karena saya lebih suka pipis dengan jongkok, ketimbang duduk dan membasuh menggunakan gayung, daripada jetshower yang nyemprot-nyemprot. Tapi bukan berarti kalau saya tidak tahu menggunakan toilet kering. Saya justru sangat menghargai toilet kering. Tepatnya menghargai mbak-mbak atau mas-mas yang bertugas untuk memastikan toilet itu selalu dan tetap kering.
Toilet kering. Di dalam kubikel WC terpasang toilet yang tingginya hampir mencapai lutut orang dewasa dan umumnya berwarna putih. Untuk keperluan ceboknya disediakan jetshower selang putih atau krem. Tersedia tempat tissue, yang kadang ada isinya dan lebih sering tidak ada isinya, terutama di toilet umum yang berada di area publik ramai pengunjung, seperti mall. Dan tempat sampah. Yang pasti, lantainya kering. Tidak ada air tergenang atau menggenang, kecuali dalam lobang toilet. Kering, karena dilap sampai kering oleh mbak- mbak atau mas-mas cleaning service. Begitu yang diatur dalam standar kerja mereka. Harus kering. Satu lagi, pintu WC tidak rapat sampai di lantai, tinggi pintu sekitar 5 cm - 10 cm dari permukaan lantai. Posisi tinggi pintu yang ngatung itu sebenarnya secara halus menyampaikan ke pengguna toilet untuk tidak kencing di lantai atau kencing jongkok karena nanti terlihat anunya. Yang berarti itu adalah toilet kering. Ya, toilet kering.
Saya kadang merasa terganggu ketika masuk toilet umum yang tampilannya sudah jelas toilet kering. Tapi lantainya basah. Hey, kalian berjongkok di kubikel WC yang pintunya ngatung ?? Tidak khawatir anunya keliatan?? Meskipun WC-nya khusus WC wanita. Atau meskipun pintu WC rapat sampai ke lantai, tidakkah merasa risih untuk membasahi lantai yang seharusnya kering dengan urine yang meskipun disiram setelahnya, tapi mbak-mbak atau mas-mas cleaning service harus mengeringkan bekas urine dan siraman urine itu yang belum tentu disiram dengan benar dan mengalir dengan tepat menuju saluran pembuangan.
Terlebih lagi bila di dudukan toilet terdapat bekas tapak sepatu/sandal. Berarti pengguna toilet kering ini, naik dan berjongkok di atas toilet duduk. Ewww..... Dan setelahnya ada pengguna toilet lain yang duduk di bekas tapak sepatu/sandal itu. Eewww (lagi)...kita tidak tahu pemilik sepatu/sandal itu sebelum naik berjongkok di atas toilet duduk sebelumnya habis menginjak apa atau berapa lama sepatu/sandal itu tidak pernah dibersihkan alasnya. Eewww (lagi, lagi)....
Menurut Asosiasi Toilet Indonesia (nah!! toilet saja ada organisasinya), toilet kering itu lebih bersih dan sehat. Karena Indonesia sebagai negara tropis kelembapannya tinggi sehingga jamur dan bakteri lebih cepat menyebar. Mungkin itu dari sisi pendekatan ilmiahnya setelah melalui rangkaian penelitian tentang toilet bertahun-tahun.
Tapi toilet kering pun tidak bisa dipastikan sehat bila kebersihannya tidak diperhatikan. Apalagi bila pengguna toilet kering bukan pengguna toilet yang cerdas dan bijak seperti berjongkok (menggunakan alas kaki) di toilet duduk, ber-urine di lantai, tidak menggunakan flush sehingga toilet bau, dan tissu dibuang di luar tempat sampah....maka yakinlah kuman, bakteri, virus sudah tersebar dan menguasai kubikel wc dan siap menempel pada apapun dan siapapun setiap saat.
Toilet basah pun tidak berarti tidak sehat. Sepanjang kebersihannya dijaga, rutin dibersihkan dan digosok menggunakan desinfektan, pasti sehat. Setelah ber-urin atau buang air besar disiram dengan benar, pasti sehat dan tidak berbau.
Pilihannya menggunakan toilet kering atau toilet basah, terserah masing-masing. Namun budaya bertoilet orang Melayu dan Muslim adalah toilet basah karena membasuhnya lebih bersih. Tapi tidak berarti kita juga harus mengabaikan etika bertoilet kering.









