Do you know what I love? Life. And romantic love is a distraction that makes staying alive more difficult.
Kresley Cole, Kiss of a Demon King (via simply-quotes)
noise dept.
Game of Thrones Daily

Andulka
I'd rather be in outer space 🛸
Peter Solarz
taylor price

JVL

@theartofmadeline
$LAYYYTER

JBB: An Artblog!
One Nice Bug Per Day

Janaina Medeiros
h

No title available

Discoholic 🪩
cherry valley forever

blake kathryn
No title available
Misplaced Lens Cap

pixel skylines

seen from United Kingdom
seen from United States
seen from United States

seen from Uzbekistan
seen from France

seen from Malaysia
seen from India
seen from United States

seen from Iraq

seen from Mexico
seen from Mexico

seen from Brazil
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from Lithuania
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
@orangemanis
Do you know what I love? Life. And romantic love is a distraction that makes staying alive more difficult.
Kresley Cole, Kiss of a Demon King (via simply-quotes)
Take our challenge on these life lessons and help inspire change.
In my discussions with non-procrastinators, I've often heard the advice that procrastination reflects a lack of care about the task in question, and the antidote for procrastination is to only do things that you're passionate about. I disagree.
Twenty-one years ago, psychologist Neil Fiore released his book The Now Habit. Here's a look at his revolutionary book on overcoming procrastination at work and enjoying our free time guilt-free. The Now Habit: A Strategic Program for Overcoming Procrastination and… The Now Habit: A Strategic Program for Overcoming Procrastination and… The Now Habit: A Strategic Program for Overcoming… 58 purchased by readers • Gawker Media may get a commission $9.90 Buy Now Amazon
I’m a bad procrastinator and need help
And all my still not so happy single ladies
I’m single and (not so) very happy......
Kembalian Rupiah & Permen
Cerita 1
“Kak, totalnya Rp14.500”, mbak-mbak kasir menyebutkan total belanjaan snack ber-MSG yang  dikemas rapi kantongan putih. Dari layar mini yang menjulang seperti antena parabola segiempat dari mesin hitung kasir tertulis Rp14.410. Pembulatan ke atas? 90 rupiah? Padahal kan bisa dibulatkan menjadi Rp14.450? Pembulatannya hampir Rp100. Apa memang begini standar pembulatan untuk transaksi dengan nominal yang tidak ada pecahannya? Bila ada 10 orang konsumen dengan pembulatan Rp90, maka mbak-mbak kasir bisa mengumpulkan Rp900. Lantas kelebihan transaksi akan diapakan? Dan mengapa pula para retailer menetapkan harga jual retail barang-barangnya dengan harga yang tidak ada pecahan rupiahnya? Saya membanyar dengan tiga lembar pecahan Rp5.000 dan mbak-mbak kasir memberikan saya selembar struk dan 3 biji permen mint lunak.
“Maaf mbak, saya tidak beli permen ini”, saya sodorkan kembali permen ke mbak-mbak kasirnya. “Kembaliannya Rp500 Kak, tidak ada uang kecil” mbak-mbak kasir tersenyum ragu. “Kalo uang seribuan punya tidak? Saya kasih Rp500, mbak kasih saya seribu, cukup kan?” koin bulat berwarna perak kusodorkan ke mbak-mbak kasir minimarket. Mbak-mbak kasirnya kelihatan kikuk menyerahkan uang kertas berwarna hijau pecahan seribu.
Cerita 2
“Mbak, kembaliannya seribu diganti vitac*m*n ya…tidak ada uang seribu”, mbak-mbak kasir apotik menyerahkan potongan struk dan satu strip vitamin C berwarna kuning terang.
“Maaf Mbak, stok vitamin C saya masih banyak. Bisa diulang totalnya berapa?Saya punya recehan”, dompet bulat berbahan plastik berwarna pink yang berisi koin saya keluarkan. “Saya punya recehan seratus perak sampai seribu perak. Berapa totalnya semua?” saya mulai menghitung recehan untuk membayar harga obat ke mbak-mbak kasir apotik.
Dan banyak cerita lainnya yang “memaksa” saya, sebagai konsumen, untuk diberikan kembalian selain rupiah, tapi permen atau barang lain seperti vitac*m*n atau barang lainnya yang “dianggap” memiliki nilai yang sama oleh si penjual. Substitusi kembalian uang menjadi barang lebih sering dilakukan oleh jaringan-jaringan minimarket atau swalayan besar berskala lokal ataupun nasional. Warung-warung kecil bahkan hampir tidak pernah saya dapati melakukan substitusi kembalian rupiah dengan barang. Karena mereka sudah membulatkan terlebih dahulu dan bahkan kadang mencapai 2 kali lipat dari harga retail. tapi tidak pernah dengan nilai yang ganjil dan berakibat membayar kembalian dengan permen.
Selamanya heran dengan kebiasaan dan (mungkin) budaya kembalian di negeri ini. Dan mungkin hanya di negeri ini yang punya 2 mata uang, rupiah dan permen (atau dengan barang lainnya yang dianggap bernilai sama).
Cara kembalian ala substitusi ini dari perspektif penjual mungkin sebagai strategi cross selling. Terutama untuk barang-barang yang kurang laku atau barang-barang keluaran terbaru atau (mungkin) yang akan kadaluarsa. Tapi praktik organik cross selling tidak memaksa dan konsumen memiliki alternatif keputusan “ya” atau “tidak”. Sedangkan “cross selling” dengan substitusi kembalian ini bersifat (sangat) memaksa karena konsumen harus menerima produk cross selling yang diberikan, terlepas apakah suka atau tidak. Tapi bagi konsumen yang kritis, seperti saya, kondisi tersebut pasti akan berlangsung rumit karena konsumen pasti akan mempertanyakan cara pengembalian yang aneh ini dan meminta hak kembaliannya sesuai dengan seharusnya diterima.
Konsumen sebenarnya sudah dilindungi undang-undang dari layanan kembalian ala substitusi rupiah menjadi barang ini. Namun dalam transaksi sehari-hari, praktik kembalian substitusi masih banyak dan sering terjadi. Mungkinkah penjual atau retailernya tidak tahu tentang aturan tersebut ? Atau mungkin tahu, tapi bersikap masa bodoh? Atau mungkin konsumennya pun menerima saja kembalian pembelanjaannya dengan cara substitusi karena mungkin suka dengan (rasa atau merek) permennya? Atau konsumen tidak punya pilihan lain dari kembalian substitusi  ini?
Saya sekarang gemar mengumpulkan pecahan-pecahan kecil seperti Rp50, Rp100, Rp200, Rp500 dan Rp1.000 untuk membayar belanjaan yang berekor ganjil dengan pecahan kecil. Dan untuk transaksi senilai minimal penggunaan kartu debit atau kartu kredit, saya memilih menggunakan kartu.
“Mbak, kalau uang saya kurang lima ratus rupiah, saya boleh ganti dengan permen 3 biji ?”
“Maaf Kak, tidak bisa”
“Kenapa tidak bisa? Permen 3 biji kan harganya lima ratus?”
“Tidak bisa Kak, takutnya saya bisa selisih kurang lima ratus”
“Tapi kalau kembalian saya lima ratus, kenapa kembaliannya permen 3 biji? Gak takut tuh  selisih lebih dari haknya orang? Kalau saya gak ikhlas, selisih lebihnya itu bisa jadi haram lho , buat mbak dan buat toko tempat kerja mbak ini”
Mbak-mbak kasir diam tertunduk dengan wajah memerah.
It’s a very rare thing to find someone who genuinely wants you to succeed if they aren’t invested in that success.
Why Everyone Wants You To Fuck Up BY JON WESTENBERG
People like pointing to the failures of others as a reason for them to never try anything and remain safely planted in their comfort zone.
Why Everyone Wants You To Fuck Up BY JON WESTENBERG
Sehat (yang tidak berempati)
“Sakit itu kalau sudah terkapar di rumah sakit” Si Bapak berseru nyaring saat diberitahu kalau Si Bapak Bos-ku tepar tak berkantor gegara serangan flu. Â
What ??? ekstrim sekali definisi sakit si Bapak. Tidak mungkin juga hanya karena flu sampai harus opname rumah sakit. Lebay. Dan tidak ada satu orang pun yang berkeinginan sakit, meskipun itu hanya sakit panu yang tidak mengganggu kebugaran fisik, hanya tampilan fisik. Atau mungkin Si Bapak tidak pernah sakit, sehat terus. Mungkin.
Memiliki fisik yang sehat dan fit merupakan berkah. Dan berkahnya harus disyukuri sebagai nikmat dari Tuhan. Tapi tidak ada salahnya kita berempati dengan orang-orang yang yang diberi cobaan penyakit, apakah itu sakit ringan ataupun berat. Karena katanya sakit yang dialami merupakan salah satu cara Tuhan untuk menghapus sebagian dari dosa, sepanjang yang sakit ikhlas dan sabar menjalaninya. Sakit juga merupakan cara tubuh berkomunikasi dengan pemilik tubuh bahwa sistem tubuh pun butuh istirahat karena selama ini (mungkin) sudah bekerja dengan cukup berat Dan sekali lagi definisi berat relatif. Karena kemampuan dan ketahanan tubuh setiap orang berbeda.Â
Definisi sakit menurut Si Bapak merupakan ungkapan yang (sangat) tidak berempati. Semoga Si Bapak sehat terus. Dan semoga Si Bapak Bos cepat sehat kembali dan tidak harus dirawat di rumah sakit karena flu.
Mari Mewarnai
Mewarnai. Setiap kali mendengar kata mewarnai, ilustrasi yang muncul di otak saya adalah anak-anak usia pre-school sampai kelas 3-4 SD menggenggam crayon atau pensil warna yang mengisi warna pada pola gambar polos di buku mewarnai seukuran buku tulis atau buku gambar. Gambar yang menjadi objek mewarnai biasanya  tokoh kartun, tanaman, hewan, mobil, dan animasi kartun lainnya. Mewarnai untuk bocah-bocah itu katanya untuk membantu menstimulasi kreativitas dan mengoptimalkan fungsi otak kanan yang berkaitan dengan seni dan seterusnya (saya kurang tahu banyak tentang manfaat mewarnai bagi anak-anak, I’m too lazy to google as well as reading hahaha....).
Mewarnai yang identik dengan anak-anak, pensil warna dan buku mewarnai sudah tidak bisa digeneralisir lagi sebagai aktivitas bocah-bocah cilik, tren terkini mewarnai yaitu juga untuk orang dewasa. Colouring for Adults atau Colouring for Grown Ups atau Mewarnai untuk Dewasa sedang booming, khususnya untuk perempuan - perempuan perkotaan. Kenapa perempuan ?? Karena sebagian besar buku mewarnai untuk dewasa bergambar ilustrasi doodle bunga atau taman bunga. Bahkan buku mewarnai yang paling hits Korean Secret Garden. Apakah tren mewarnai untuk dewasa itu munculnya dari Korea?? I don’t know. Sekali lagi, I’m too lazy to google hahaha.... Tapi tidak berarti juga mewarnai tidak bisa untuk laki-laki. Colouring is for all sexes, yang penting ada alatnya (pensil warna), medianya (buku mewarnai), dan yang paling penting lagi ada waktu dan kemauan hahaha....tanpa itu semua, colouring is impossible dan menghayal.
And...I’m a colouring junkie.
Seorang artis Korea diliput lagi colouring doodle bunga yang rumit. She looks enjoy her colouring time. Semua alat mewarnai digunakannya crayon, pensil warna, cat air bahkan cat minyak. And she did it very well. Pemilihan warna untuk gambar bunganya sangat indah. Karena indahnya, saya pun penasaran dengan sensasi mewarnai. Sangat penasaran.Â
Pencarian pun dimulai. Mencari sebuah buku yang sangat berharga, buku mewarnai. Semua toko buku disusuri, mulai dari Gramedia sampai toko buku lokal di sekitar Bulukunyi dan Monginsidi. Tapi nihil. Tak ada buku mewarnai untuk dewasa, hanya untuk anak-anak. Ini semakin menguatkan asumsi saya kalau coloring for adults betul-betul pertama kali muncul di Korea dan hanya ada di Korea. Dan untuk memuaskan sensasi penasaran, tak ada buku mewarnai buat dewasa, buku mewarnai buat anak-anak pun jadi. But I get bored. Gambar-gambarnya terlalu mudah dan monoton.
Penasaran masih berlanjut. Toko online pun jadi sasaran  pencarian. Tadaaaa.....ada seller-nya di toko online T. Saatnya ekskusi. Tapi oh tapi... investasi satu buku mewarnai untuk dewasa rupanya tidak murah, belum termasuk ongkos kirim, karena si seller ada di luar Makassar. Lemas seketika. Betapa susahnya orang dewasa untuk bisa mewarnai.Â
Setelah sekian lama, display Gramedia akhirnya memajang buku Colouring for Adults. Akhirnya Gramedia mengimpor juga buku mewarnai dari Korea. Colouring for Adults pajangan Gramedia, temanya variatif dan hampir seluruhnya tentang bunga. Semakin nyata segmen pasarnya, perempuan. Ada juga yang bertema hewan, mungkin ini untuk laki-laki.
Buku mewarnai yang pertama sebaiknya dirayakan. Dirayakan dengan diberi pasangan pensil warna terbaik. Ngomong-ngomong tentang terbaik, hukum terbaik menyatakan “ada harga, ada mutu”. Indeed, investasi sekotak pensil warna terbaik mencapai lima digit. Demi colourgasm, I don’t mind spending more. Penasaran yang lama akhirnya berakhir, it’s worth waiting, demi mewarnai.
Tapi satu hal yang terasa aneh dengan buku mewarnai untuk dewasa ini. Di sampul depannya tertera “pereda stress”. Seketika yang muncul di kepala saya apa kata kasirnya ketika melihat saya membeli buku ini. Mungkin kasirnya akan berkata “kasihan mbak ini, masih muda tapi sudah stress” hikkss.... Meskipun memang salah satu manfaat dari mewarnai adalah untuk meredakan stress, tapi mungkin sebaiknya tidak harus dituliskan di sampul. Mungkin cukup di kata pengantarnya saja. Atau mungkin kata - kata “pereda stress” sebagai bagian dari strategi packaging penerbit. Kalau memang seperti itu, berarti jumlah penderita stress memang semakin banyak. Semakin banyak yang berkunjung ke toko buku. Lahh??!!! orang stress ngapain ke toko buku ?? Smart question...
Dan yang saya khawatirkan betul - betul terjadi. Once, a friend of mine asked me “are you stress?”, he stared at me while holding the book.  Hahahaha....sh*t banget gak sih...
Bagaimana rasanya mewarnai ?? Nikmat. Tenang. Membantu untuk fokus dan konsentrasi. Melatih kesabaran. Menjauh dari gadget, powerbank dan colokan listrik, hemat kuota internet, no more wifi hunter, dan no more social media karena autis mewarnai lebih akut ketimbang autis karena gadget. Tidak ada lagi mati gaya karena killing time lebih asik dengan mewarnai.
Mood sangat penting dalam mewarnai. Mood mempengaruhi hasil. Mulai dan akhiri setiap gambar yang diwarnai dalam kondisi mood yang bagus. Mood yang bagus mempengaruhi pemilihan warna yang akan digunakan. Saat mood bagus, saya cenderung memilih warna-warna cerah. Sebaliknya juga begitu. Tapi selamanya tidak berlaku mutlak seperti itu. Anomali terjadi. Pernah suatu saat, mood saya kacau, saya mulai mewarnai untuk menenangkan dan mengalihkan emosi. Dan hasilnya beyond my expectation, sama bagus dengan gambar yang diwarnai dengan emosi yang stabil. Tidak ada warna-warna gelap, semuanya warna cerah. Anomali happened.
Mewarnai bisa sebagai “pereda stress”, ada betulnya juga. Mungkin lebih tepatnya “colouring for distraction”. Mengalihkan dari hal - hal buruk yang bisa mempengaruhi suasana hati. Mengalihkan emosi negatif dengan mewarnai ketimbang mengeluarkan kata-kata emosional yang tidak bermanfaat atau berpikiran negatif.Â
Eyes are probably the only part of the human body that can tell a completely different story than what the mouth delivers.
ex-istential-crisis (via wnq-writers)
Toilet (Kering)
Di zaman kekinian, saya salah satu dari sedikit pemuja toilet basah. Ya, toilet basah. Karena saya lebih suka pipis dengan jongkok, ketimbang duduk dan membasuh menggunakan gayung, daripada jetshower yang nyemprot-nyemprot. Tapi bukan berarti kalau saya tidak tahu menggunakan toilet kering. Saya justru sangat menghargai toilet kering. Tepatnya menghargai mbak-mbak atau mas-mas yang bertugas untuk memastikan toilet itu selalu dan tetap kering.
Toilet kering. Di dalam kubikel WC terpasang toilet yang tingginya hampir mencapai lutut orang dewasa dan umumnya berwarna putih. Untuk keperluan ceboknya disediakan jetshower selang putih atau krem. Tersedia tempat tissue, yang kadang ada isinya dan lebih sering tidak ada isinya, terutama di toilet umum yang berada di area publik ramai pengunjung, seperti mall. Dan tempat sampah. Yang pasti, lantainya kering. Tidak ada air tergenang atau menggenang, kecuali dalam lobang toilet. Kering, karena dilap sampai kering oleh mbak- mbak atau mas-mas cleaning service. Begitu yang diatur dalam standar kerja mereka. Harus kering. Satu lagi, pintu WC tidak rapat sampai di lantai, tinggi pintu sekitar 5 cm - 10 cm dari permukaan lantai. Posisi tinggi pintu yang ngatung itu sebenarnya secara halus menyampaikan ke pengguna toilet untuk tidak kencing di lantai atau kencing jongkok karena nanti terlihat anunya. Yang berarti itu adalah toilet kering. Ya, toilet kering.
Saya kadang merasa terganggu ketika masuk toilet umum yang tampilannya sudah jelas toilet kering. Tapi lantainya basah. Hey, kalian berjongkok di kubikel WC yang pintunya ngatung ?? Tidak khawatir anunya keliatan?? Meskipun WC-nya khusus WC wanita. Atau meskipun pintu WC rapat sampai ke lantai, tidakkah merasa risih untuk membasahi lantai yang seharusnya kering dengan urine yang meskipun disiram setelahnya, tapi mbak-mbak atau mas-mas cleaning service harus mengeringkan bekas urine dan siraman urine itu yang belum tentu disiram dengan benar dan mengalir dengan tepat menuju saluran pembuangan. Â
Terlebih lagi bila di dudukan toilet terdapat bekas tapak sepatu/sandal. Berarti pengguna toilet kering ini, naik dan berjongkok di atas toilet duduk. Ewww..... Dan setelahnya ada pengguna toilet lain yang duduk di bekas tapak sepatu/sandal itu. Eewww (lagi)...kita tidak tahu pemilik sepatu/sandal itu sebelum naik berjongkok di atas toilet duduk sebelumnya habis menginjak apa atau berapa lama sepatu/sandal itu tidak pernah dibersihkan alasnya. Eewww (lagi, lagi)....
Menurut Asosiasi Toilet Indonesia (nah!! toilet saja ada organisasinya), toilet kering itu lebih bersih dan sehat. Karena Indonesia sebagai negara tropis kelembapannya tinggi sehingga jamur dan bakteri lebih cepat menyebar. Mungkin itu dari sisi pendekatan ilmiahnya setelah melalui rangkaian penelitian tentang toilet bertahun-tahun.Â
Tapi toilet kering pun tidak bisa dipastikan sehat bila kebersihannya tidak diperhatikan. Apalagi bila pengguna toilet kering bukan pengguna toilet yang cerdas dan bijak seperti berjongkok (menggunakan alas kaki) di toilet duduk, ber-urine di lantai, tidak menggunakan flush sehingga toilet bau, dan tissu dibuang di luar tempat sampah....maka yakinlah kuman, bakteri, virus sudah tersebar dan menguasai kubikel wc dan siap menempel pada apapun dan siapapun setiap saat.Â
Toilet basah pun tidak berarti tidak sehat. Sepanjang kebersihannya dijaga, Â rutin dibersihkan dan digosok menggunakan desinfektan, pasti sehat. Setelah ber-urin atau buang air besar disiram dengan benar, pasti sehat dan tidak berbau. Â
Pilihannya menggunakan toilet kering atau toilet basah, terserah masing-masing. Namun budaya bertoilet orang Melayu dan Muslim adalah toilet basah karena membasuhnya lebih bersih. Tapi tidak berarti kita juga harus mengabaikan etika bertoilet kering.Â
Seorang penulis buku Little Victories dan kolumnis di Wall Street Journal, Jason Gay, memaparkan dua kunci utama dalam membangun hubungan yang dewasa dan tidak banyak drama.
Cinta sejati merupakan hubungan yang memberikan rasa nyamaan, kompatibel, dan terus berusaha untuk saling mengerti.
Seperti kembali ke masa kecil, mewarnai adult coloring books jadi tren yang rasanya wajib Anda coba saat ini. Tak seperti tren lain…
Coloring is the best thing to do saat mati gaya, better than gadget. No worry about low battery.Â
by Tobias van Schneider first appeared on my private email list.
The secret is the humble beginnings
Cerita tentang Seorang Teman
“Hey, lihat ini. Dia ini anaknya pejabat ini [sebut nama seorang pejabat],  dulu kuliahnya di sana [sebut nama negara di luar negeri]. Rumahnya di situ [sebut nama area super elit], tau tidak dia baru dibelikan apartemen di Australia dan Singapura”, seorang teman menunjukkan foto-fotonya bersama seseorang di ponsel cerdasnya. Ada kesan “pamer” dari intonasinya.
Saya tersenyum dan berupaya untuk tertarik dengan foto - foto yang ditunjukkannya. Dalam hati, “pardon me, saya tidak kenal siapa dia. So, who cares?”.  “Oh ya?? Keren ya dia. Namanya siapa? Kenal dimana?” penuh kepalsuan berintonasi kagum dan bangga dengan kemampuan bergaul dan teman pergaulan sang teman.Â
Sang teman menceritakan awal perkenalannya dengan si “teman yang keren dan anak pejabat nan tajir” itu. Yang ternyata dikenalnya dari teman sang teman yang berteman dengan si “teman yang keren dan anak pejabat nan tajir”. “Dia itu anak gaul loh. Kemarin kita nongkrong di sana [sebut nama warung kopi bermerek impor], semua barista di sana kenal dia. Minggu lalunya, kita hang out di situ [sebut nama warung makan paling hits dan mahal], ternyata owner-nya itu temannya waktu kuliah di luar” intonasinya semakin tinggi yang berarti kadar pamernya semakin meningkat pula, mungkin sudah mencapai 24 karat, seandainya si “teman yang keren dan anak pejabat nan tajir” adalah perhiasan emas.Â
Sang teman berkisah pula kalau si “teman yang keren dan anak pejabat nan tajir” memperkenalkannya juga dengan teman - temannya. “Gila!! kamu harus ketemu dengan teman - temannya. Keren-keren. Kita ngobrolnya pun jarang pakai bahasa Indonesia”, sang teman antusias menceritakan profil teman - teman barunya yang gaul dan keren. “Wow!! Salut bro!! berarti kamu sudah menjadi bagian dari mereka”, memberikan dukungan kata-kata kepada sang teman. Dukungan moral?? Nanti dulu. Kita lihat dulu sejauh dan selama apa pertemanan atas dasar “ke-keren-an, ke-tajir-an, dan ke-gaul-an” itu bertahan.Â
Tadinya saya berpikir yang bisa dipamer itu adalah barang - barang. Benda mati. Ternyata benda hidup -sorry, makhluk hidup- yang bernapas pun bisa dipamerkan.Â
Status sosial tidak melulu mengenai seberapa mahal dan ter-hits-nya barang-barang yang dipakai, tempat hang out-nya dimana, seberapa happening tempat nongkrongnya, Â makan/minumnya harga berapa bila dikonversi ke IDR, dan seberapa susah nama tempat nongkrong serta makanan/minumnya disebutkan lidah lokal kita. Teman yang tajir dan keren juga memiliki kontribusi terbesar untuk mendongkrak status sosial. Bahkan lebih cepat dibandingkan mengumpulkan barang - barang mahal terhits.Â
Sang teman hidupnya biasa saja, karena sepuluh tahun berteman dengannya sudah cukup untuk mengenalnya dengan baik. Berasal dari keluarga dan lingkungan tempat tinggal yang sangat sederhana. Masa kecilnya pun diceritakannya dalam kesederhanaan. Â
Sang teman yang sederhana ini, sekarang berubah. Ajakan bertemu dan bertukar cerita dengannya hampir tidak pernah lagi. “Sorry, si “teman yang keren dan anak pejabat nan tajir” ini minta dijemput di bandara atau minta ditemani belanja atau minta mobilnya yang ini dan itu dibawa ke tempat cuci mobil atau mau antar/jemput laundry-annya”, konsisten dengan intonasi bangga dia menceritakan apa - apa saja yang dilakukannya dengan si “teman yang keren dan anak pejabat nan tajir”. Bahkan dalam pergaulan sehari - hari pun, sang teman sudah mulai jarang menyapa teman - teman yang dikenalnya lama sebelum mengenal “teman yang keren dan anak pejabat nan tajir”. Hal yang membahayakan pertemanan selain uang adalah teman baru.
Tetapi dengan penuh iba, saya merasa bahwa status sosial sang teman bukannya semakin terangkat berteman dengan si “teman yang keren dan anak pejabat nan tajir” dan teman - temannya tetapi sang teman justru seperti menjadi kacung dan pesuruh si “teman yang keren dan anak pejabat nan tajir” ini.
You are who your friend is. Quotes singkat nemu di Pinterest. Mungkin itu yang memotivasi sang teman untuk memindahkan preferensi dan orientasi pertemanannya. Dari lingkaran orang yang biasa - biasa saja, ke lingkaran yang lebih elit. Dari hanya dipandang biasa saja, menjadi seseorang yang bisa dikatakan luar biasa. Dicap keren, gaul dan tajir sepertinya menjadi capaian prestasi tertinggi yang ditargetkan sang teman. He dreams it, he fight for it. And he can make his dreams comes true. Â
Bagi saya, rumus sederhana berteman adalah ketulusan, berteman dengan siapa saja. Tidak ada tendensi apa - apa. Tidak ada kepentingan apa-apa. Berteman karena kita nyaman bersama. Berteman karena kesenangan kita sama. Berteman karena kegilaan kita sama. Berteman karena keisengan kita sama.Â
Less circle, less bullshit and drama