Cerita Toilet Training Aa
Nak, mari kita tetapkan kelulusan Aa untuk toilet training di 2 tahun 8 bulan ini. Alhamdulillaah, sejak 2 minggu lalu Aa sudah mulai dan terbiasa buang air di kamar mandi. Suatu capaian yang kami tak sangka akan secepat ini memetik hasilnya.
Terimakasih ya Rabb, segala puji bagiMu yang memudahkan segalanya, yang melapangkan hati kami dalam prosesnya, dan menuntun putra kami dalam masa belajarnya.
Kami memutuskan mengenalkan Aa pada konsep buang air di kamar mandi sebetulnya sudah cukup lama, sekitar sebulan sebelum ramadhan tahun ini. Kami menyiapkan celana taturnya, dan mulai mengenakannya pada Aa meski tetap suka diselingi dengan penggunaan pampers.
Mengapa masih pakai pampers? Alasan utamanya karena agak terbatas celana tatur Aa dan belum keburu kering untuk digunakan kembali (agak sering hujan disini).
Diawal proses toilet training, Aa sering sekali 'bocor'-istilah yang akan saya gunakan untuk menggambarkan keadaan Aa pipis/pup di celana taturnya. Ini nampaknya momen yang menjadi ujian untuk kami. Betul-betul ujian. Sebab seringkali pipisnya jadi kemana-mana: sprei, kasur, bantal, boneka, tempat bermain Aa. Ya Allah.. Tidak dipungkiri, saat itu terasa sekali lelahnya untuk mencuci dan membersihkan :"
Sampai pada suatu titik yang menjadi evaluasi saya, ketika lambat laun Aa jadi semakin enggan diajak ke kamar mandi. Sebelumnya, sudah banyak pengalaman oranglain yang sempat saya baca atau dengar adalah bahwa toilet training membutuhkan kesiapan. Tidak hanya anak, tapi orangtuanya.
Orangtua harus siap berfokus pada waktu untuk mengajak anak ke kamar mandi, siap membersihkan cucian yang tidak sedikit, siap mengepel lantai lagi dan lagi, siap bahkan untuk mencuci apapun yang terkena 'bocor'nya.
Saya rasa, di masa lelah itu, saya jadi tidak begitu hangat untuk mengajak Aa ke kamar mandi. Tidak semenyenangkan sebelumnya. Rasa lelah membersihkan dan mencuci, rupanya menguras habis energi saya untuk menjadi ceria kembali.
Alhasil bisa ditebak, Aa jadi enggan untuk melanjutkan (mungkin dia lihat umanya tidak lagi antusias). Maafkan uma, nak.. Dari evaluasi itu, saya belajar bahwa saya perlu betul-betul siap untuk ini. Anak belajar, orangtuapun belajar untuk mengendalikan perasaannya. Sebab yang anak inginkan adalah suasana yang menyenangkan. Maka menjadi lapang, sabar dan menerima adalah yang utama dalam proses ini.
Singkat cerita, proses toilet training itu harus sejenak tertunda karena mudik lebaran. Kami khawatir akan tidak memungkinkan untuk membawa begitu banyak celana tatur dan salin Aa ke rumah orangtua kami. Belum lagi jika bocor ditempat tak terduga. Baiklah, kita tunda dulu yaa, nak..
Semasa itu Aa menggunakan pampers lagi. Bahkan setelah pulang mudik, rasanya saya merasa ada di zona nyaman-yang tidak perlu waktu khusus untuk mengajak ke kamar mandi, mencuci, mengepel, dllnya.
Sampai sekitar awal bulan juni, baru kemudian saya mendapati diri saya dengan semangat baru untuk memulai lagi proses toilet training Aa. Setelah ngobrol dengan suami (sebagai pertimbangan banyak hal), kami memutuskan untuk melanjutkan proses tersebut.
Ya, saya merasa betul-betul siap dengan semua yang mungkin saya hadapi seperti sebelumnya. Dalam hati saya, Ingat! lapang, sabar, dan menerima. Itu yang akan melahirkan ketenangan, tetap tersenyum dan hangat, sehingga anak tidak merasa ada yang berubah dalam prosesnya. Tetap apresiasi capaian anak dan berikan reward!
Aa suka sekali binatang. Karena itu, kami menyiapkan banyak stiker binatang beraneka ragam untuk reward Aa dan menyemangatinya buang air di kamar mandi. Sehari, dua hari, hingga Aa terbiasa In syaa Allah. Semangaatt, nak!
Perkiraan saya betul, juni masih merupakan pekan-pekan yang cukup berat bagi kami, mungkin terutama saya (karena suami bekerja, dan saya yang lebih banyak di rumah). Momen membersihkan itu berulang, termasuk juga mengepel dan cucian demi cucian. MasyaaAllah, semua berkat rahmat Allah. Alhamdulillaahnya saya lebih mampu menahan diri untuk tetap tenang dan tersenyum. Ditambah kata-kata Aa ketika ia bocor, "Uma, maaf ya uma, Aa pipis di celana."
Saya tak pernah lupa dengan matanya yang berbinar. Lisannya yang tulus. Tangan mungilnya yang menjulur meminta maaf. Dari mana kiranya Aa tahu hal itu, nak. Betapa fitrah itu tak pernah berubah, tak tersentuh dosa.
Ya Allah. Pada momen itu, barangkali Allahpun tengah mendidik saya.
Alhamdulillah, saya merasa lebih lapang, betul betul berlepas. Tak apa ya Rabb, jika masih memerlukan beberapa minggu bahkan beberapa bulan kedepan. Mohon bantu kami..
"Gapapa, sayang. Aa lagi belajar. Aa hebat. Nanti pipis di kamar mandi, ya." Ujar saya tersenyum sambil mengusap wajah Aa, atau sekedar mengacungkan dua jempol padanya.
Kalimat itu sering saya gunakan untuk merespon Aa. Kata-kata itu, ajaibnya menetralisir rasa lelah saya. Ya, semua berkat rahmat Allah.
Juni berlalu, juli menyapa dengan capaian yang amat sangat luar biasa. Tanggal 6 juli, Aa bangun tidak mengompol. Pampersnya kering! MasyaaAllah, ditanggal itu pula Aa mulai buang air besar di kamar mandi. Saya tidak menyangka apapun. Saya pikir ini hanya kebetulan atau bagian dari fase belajar aa. Tapi atas izin Allah, capaian ini terus berlanjut keesokan harinya, dan terus :")
MasyaaAllah masyaaAllaah, nak.
Maka dua pekan sejak itulah yang membuat kami sampai di titik ini. Dalam dua minggu itu, 2-3 kali Aa sempat 'bocor', mungkin karena ia tidak sempat menahannya. Tapi banyaknya berhasil, malam haripun pampersnya hampir selalu kering dan lanjut buang air ketika bangun tidur.
Semoga ini tetap berlanjut yaa nak, bismillaah..
Alhamdulillahirabbil'alamiin. Segala puji hanya bagiMu, ya Rabb. Betapa rahmat dan bantuanMu menjadikan semua terasa mudah lagi manis dipetik. Saya amat sangat bersyukur, sebab di momen mendidik ini tidak hanya untuk Aa, melainkan juga pengingat bagi kami, orangtuanya.
Maka untuk para orangtua yang mungkin membaca cerita kami, Bersabarlah, mama. Anak belajar, orangtuapun belajar untuk mengendalikan apapun yang mungkin muncul dalam prosesnya. Temani anak, bertumbuh bersama anak.
Barakallah Aa, atas izin Allah satu misi (lagi) terselesaikan.
Uma, yang begitu bangga dengan Aa.