Tak sengaja, uangnya jatuh berhamburan. Dua ribuan. Dipungutnya perlahan-lahan dengan tangan gemetarnya. Matanya sipit tertutup keriput. Aduhai... Bikin yang melihat teriris pilu.
Wanita tua itu, berusaha sendiri, bangkit dari kursi prioritas, berjalan menunggu pintu kereta yang hendak terbuka sempurna. Jalannya bungkuk, sambil membawa barang rongsok dipunggungnya. Sudah lah terlihat tak kuat menahan beban tubuh, ia pun harus dipaksa kuat menahan beban hidup.
Untung, masih banyak orang baik, yang mau membantu meringankan punggungnya, menahan rongsokannya agar tak begitu berat ketika dibopong oleh punggungnya.
Dan juga... ada yang sudi mengajaknya berbicara, meski hanya basa-basi belaka.
"ibu darimana?" Ucap wanita muda dengan senyum teduhnya.
Ibu itu menjawab terbata, bukan karena gugup, tapi karena usiaya sudah tak bisa di manipulasi lagi. "Abis kerja, neng"
"ibu tiap hari kaya gini?"
"iya neng, da suami udah meninggal, anak saya butuh makan, butuh buat bayar kontrakan, butuh buat sekolah" ucap wanita tua itu dengan nada sok tegarnya, menunjukan dia harus kuat, apa pun kondisinya. Hidupnya bukan hanya untuknya, tapi untuk anak-anaknya juga.
Wanita muda itu tersenyum lagi, seolah tak bisa berkata apa pun lagi untuk menjawab pernyataan wanita tua, wajah wanita muda itu lebih teduh dari yang sebelumnya, menunjukan empati terhadap wanita tua. Dan wanita muda memberikan selembar uang sepuluhribuan kepada wanita tua.
MasyaAllah. Baik sekali dia.
Melihat sosok wanita tua yang kuat, dan wanita muda yang dermawan, membuatku menerawang, betapa hebatnya skenario Tuhan menciptakan dunia ini penuh warna.
Tak semuanya serasi, beberapa ada yang bertugas saling melengkapi.
Ada si kuat, menyemangati si lemah.
Ada si kaya dan dermawan, membantu si miskin.
Ada yang datang, untuk mengganti yang pergi.
Ada yang tertawa, untuk menghibur yang sedanh sedih.
Tuhan mengingatkanku tentang makna rezeki, yang sudah dijamin, dan takkan tertukar. Yang akan datang dari arah yang tak diduga-duga. Yang bisa berubah karena doa.
Dan itu semua tentang takdir.
Skenario-Nya, rasa yang dititipkan-Nya, segala hal pemberian-Nya yang mungkin bukan "kita banget" bahkan bikin kita sampai tak menyukainya.
Itu semua tentang takdir.
Apakah kita bisa menerimanya?
Dan istiqomah dalam koridor-Nya?
Dan tetap berperan untuk saling melengkapi.