smaerd: Berjalan di atas kegelapan
Hah, ku menghela nafas panjang, di tengah berlari dalam masa kehidupan, ku tak tau mau kemana, terasa jenuh, begitu mencekam, aku merasa berada di dalam kegelapan, masa depan, bagiku suatu hal yang basi untuk di perbincangkan, ku tau itu sudah di takdirkan, tapi aku tak tau sampai mana batas waktuku, tentang BLABLABLAnya kehidupan, sungguh aku sedang bosan.
Begini, monoton yang tak berujung kepastian, aku ingin sejenak, walau hanya sejenak meninggalkan, dengan pergi menjauh, bukan untuk mati, bukan?. tapi, untuk mencari Ilmu, citaku menjadi Hafidz, menjadi para penjaga wahyu, tapi ku lihat Ahlak dan tingkahku masih seperti ini, ku coba perbaiki, dengan hijrah, walau godaan terus datang mengarah, berhembus bagai angin yang menyejukan tanpa ku sadari membuat ku terbang dan aku terlalaikan!
Kini ku teristirahatkan dalam tenang, aku berdo'a supaya ada hal baik di masa depan, untuku menggapai cita, tak sekedar basa-basi belaka, semuanya harus berjalan, rencanaku, aku harap bukan hanya omong kosong khayalan, aku berdiri dan aku tau aku sedang di kejar oleh mimpi. Karena, ku percaya mengejar mimpi itu terlalu melelahkan, lebih baik kita diam dan biarkanlah mimpi-mimpi itu yang mengejar kita, diam bukan berarti mematung tapi diamku adalah ikhtiar, berdo'a semuanya terserah Alloh saja, kurasa mimpiku mulai datang memeluku dengan begitu eratnya.
Kini aku pergi dengan gagah berani, bersama belati tanpa darah yaitu impian, sasaranku adalah Ilmu yang bisa kutikam, ku makan, ku amalkan, aku ingin ilmu itu aku dapatkan.
Aku bertemu dengan persimpangan, Kanan dan Kiri, itu menjadi Haku untuk memilih, aku ingin terus masuk ke jalan yang kanan, mencari kebenaran, tak di butakan oleh Sekularisme, Liberalisme, Sosialisme dan sistem-sistem menggit lainnya, aku ingin Alloh di depanku menunjukan jalan yang terbaik untuku, aku tau kerikil-kerikil itu begitu tajam bahkan duri-duri sistem begitu menikam, ya menikam, kaki yang berdarah-darah, serta jiwa yang semena-mena, untuk terjerumus kedalamnya, begitu piciknya diriku bila aku mengatakan aku adalah tulisanku. Tidak!!, aku bukanlah tulisanku tapi tulisanku adalah harapan dan cita-citaku, inilah catatan seseorang yang berada di sudut malam, dekat dengan subuh dan sesudah itu pagi, seseorang yang sudah menyadari bahwa dirinya sedang di lahap oleh waktu, tapi seseorang ini masih saja di butakan oleh fatamorgana kehidupan, gemerlap, terasa indah bila di lihat, Oh diriku memang berlumur dosa, bagai coklat cair yang melumuri badan dengan kasat mata, aku hanya seorang manusia yang ingin memperbaiki diri, setelah 19 tahun usia munkin di mata manusia telah terlambat, tapi tak ada yang terlambat bagi Alloh, untuk terus melangkah, aku berjalan dengan membawa secarik kertas yang penuh dengan dosa dan aku terus berjalan untuk mencari penghapus taubat dan terus memperbaikinya, walau ku tau hujan tak pernah memimta izin untuk turun, membasahi, terus membasahi secarik kertas ini, agar semakin hancur, aku hanya berusaha melindunginya terus, sampai penghampus taubat selesai membersihkannya.