Gegap Cakap
Senin akan biasa saja bila tak ada cerita. Dan bila senin tak bercerita, maka satu minggu hidup kan pucat tak berwarna.
Sebagai teman yang suportif datang persidangan hanyalah untuk memberi dukungan, dan memberi gula-gula yang disertai doa, sebagai investasi juga katanya. Namun tidak pada pertemuan ini.
Kali keempat sebagai pemirsa di bangku belakang, melihat teman di depan bercuap tidaklah begitu menyenangkan. Lalu tanya jawab datang dan kita kan tau seberapa dalam pemahaman si kawan dan lawannya.
Si kawan silih berganti, si lawan terus saja menghakimi, tapi temanku satu ini benar-benar dikebiri. Caci dan sunyi awali jalannya, kurang siap pertama. Paparannya terbata dan gurat wajahnya gugup tak terkira. sungguh tak tega melihatnya. Lalu yang ditunggu telah tiba saatnya.
Pertanyaan bertubi-tubi datangnya, mencela dan meminta pertanggung jawabannya. bisa menjawab tentu saja, dengan tenaga yang tidak sekuat-kuatnya dan kesabaran yang begitu luasnya. dan apapun itu waktu memang berlalu dan pada akhirnya semua hal akan baik adanya.
tapi bukan itu ceritanya.
Temanku ini terang miliki pembela. Dalam berkehidupan, musuh selalu ada, begitupun dengan pembela temanku ini. dan membuatnya semakin seru adalah musuh sang pembela adalah lawan temanku ini dalam persidangan. jelas semesta punya cara kerja yang tak terduga.
Melihat ketidaksiapan temanku ini jelas memudahkan lawan dalam arena, dan benar saja, temanku binasa karenanya. kekalahan telak bagi sang pembela. menjadi saksi dalam pergulatan ini aku menganga, tak bisa berkata dan kendalikan air muka. takjubku dibuatnya. Sekali melihat celah, lumpuhkan sudah. Sekali lengah, usai sudah. Mengerikan.














