Kamu yang salah
Entah bagaimana tulisan ini akan dimulai dan diakhiri, tapi yang jelas, aku rindu padamu.
Dua-tiga tahun ke belakang, I was so amazed at How Quran so related to my life. Sampai-sampai senang sekali mengambil sejumput ayat, berpikir, kemudian menuliskan sesuatu yang sekiranya cocok untuk kejadian tersebut. padahal ternyata hal tersebut kurang baik ya. Terlintas suatu quotes dari film Aku Padamu yang baru saja ditonton pagi tadi, kata nicholas saputra, if you wanna do a good thing, lets do it the right way. Sungguh lain kali aku akan extra hati-hati dalam menggunakan ayat suci sampai tau tafsir, konteks, hadist yang mendukung, dst dst agar tidak menyesatkan diri sendiri, terlebih orang-orang. kan berat tanggung jawabnya.
Menjadi hal yang excited juga untuk mempunyai lingkungan yang baru, teman yang baru, dan perasaan yang baru. hah perasaan, haha kalau dibilang reborn enggak juga, tapi mungkin mirip-mirip?
Teman-teman kerja yang beragam watak dan cara berpikirnya, komunitas yang shalihah, dan yang tidak disangka adalah merasakan kembali perasaan itu. Seperti. Tentang betapa menyenangkannya membaca utuh buku-buku dan novel yang sudah lama jadi koleksi, betapa senangnya berkeringat setelah tubuh terlalu lama bertumpu pada pantat, dan betapa bahagianya menyukai seseorang setelah bertahun-tahun patah hati. Sungguh rasa syukur itu memang harus dipupuk sampai ajal menjemput.
Dulu sebelum memulai segala yang baru ini, nenek yang sedang sakit (semoga beliau diberikan kesembuhan dan kesehatannya kembali oleh Allah, aamiin) pernah berpesan supaya aku menyiapkan sabar yang sebanyak-banyaknya. Baru aku sadari hebatnya kata-kata tersebut. Sabar bukan cuma sekedar tentang menghadapi ujian, tapi juga dalam menjaga konsistensi pribadi, dalam ibadah dan meningkatkan kualitas diri. Sehingga ketika menghadapi suatu masalah, bisa cepat-cepat introspeksi dan cari solusi, bukannya defensif dan bilang, kamu yang salah.








