Don’t judge a book by its cover, don’t judge people by their posts.
Suatu hari, seorang teman bertanya–ah, mungkin lebih tepatnya protes–kepada saya, begini katanya,
“Cin, kenapa sih blog lo itu kebanyakan seriusnya? Gawat banget loh kalo orang yang nggak kenal sama lo, tau-tau baca tulisan-tulisan lo itu. Orang bisa ngeri kali sama lo, malesin banget. Semacam cewek yang hidupnya rumit, kebanyakan mikir, kata-katanya ribet. Cukup beda sama di kehidupan nyata. Padahal aslinya kan …” (disensor demi masa depan penulis)
Seorang teman lain pernah juga berkata begini,
“Yaah, padahal aku mengharapkan blogmu itu isinya lebih banyak cerpen, puisi, atau galau-galauan loh”
Menanggapi kedua teman tersebut saya cuma bisa tertawa. Tapi, habis tertawa itu kemudian saya jadi berpikir. Iya, memang sebagian besar isi blog ini adalah racauan-racauan yang tampak serius dan formal. Bukan hanya soal tema yang diangkat, melainkan juga karena pemilihan bahasanya. Seringkali saya memilih untuk menggunakan bahasa-bahasa formal, misalnya saja terkait pemilihan kata “saya” alih-alih “aku” atau “gue”.
Hmm, why so serious? Sebenarnya bukannya mau terlihat sok serius, tapi memang begini adanya. Kalau bicara soal tulis-menulis, entah kenapa saya lebih suka terikat pada pakem kebakuan, patuh pada Ejaan Yang Disempurnakan dan Kamus Besar Bahasa Indonesia. (Astagahh, ngeri ya?! :p)
Yaa…gimana lagi doong kakaaak, gue ini kayaknya emang agak obsesif kompulsif kalo soal nulis.
Sebenarnya persoalan ini sama saja seperti seorang pelukis aliran naturalis yang tidak ingin memasukkan unsur surealisme ke dalam karyanya. Atau sederhananya saja, jarang kan seorang perempuan penganut paham gothic yang menaburkan perona kelopak mata merah muda di tengah make up serba gelap?
Agak aneh memang, tapi (lagi-lagi) mau bagaimana lagi? Saya agak kurang sregsejujurnya kalau harus berganti-ganti peran dari “saya”, “aku”, atau “gue”. Dan akhirnya saya putuskan konsisten meracau sebagai “saya” (dengan risiko dianggap sebagai manusia yang sangat amat serius dan kaku).
Mungkin kalau mau dirunut, semua kebakuan ini bisa jadi disebabkan karena terlalu lama bergaul dengan “jurnalistik”. Sejak sekolah menengah pertama saya sudah diracuni dengan bidang itu dan terus teradiksi hingga sekarang. Jadi jangan salahkan saya kalau saya kini menjadi begitu bergantung pada EYD. Saya begitu gatal jika melihat sebuah kata diubah semena-mena, misalnya “aktivitas” menjadi “aktifitas” atau “andal” menjadi “handal”. Saya juga tentu tidak sempurna perihal ejaan-ejaan itu. Tapi tidak ada salahnya menaati rambu-rambu penulisan, sama halnya seperti patuh pada peraturan lalu lintas.
Sayang kan kalo udah dibikin capek-capek tapi nggak dipake dan dilestarikan?
Kembali lagi pada lead di atas, hmm..bagaimana ya mengatakannya saya juga jadi bingung. Sulit dimungkiri memang, jika kebanyakan dari tulisan di media ini adalah hal-hal yang serius dan menjemukan. Tapi, bukankah manusia punya beragam sisi. Sesekali–malah seringkali–saya tidak bisa menahan godaan untuk menulis dengan gaya bahasa yang lain, yang lebih tidak serius–kalau kata orang. Sebelum saya menjadi sok serius seperti ini–dan sampai sekarang pun–saya mencoba gaya tulisan yang nge-pop. Keduanya sama-sama menyenangkan, kedua-duanya membuat saya nyaman.
Saya jadi ingat satu nama. Saya begitu mengagumi Rosihan Anwar, tokoh pers Indonesia yang juga dikenal sebagai penulis yang produktif. Di satu sisi beliau bisa menjadi jurnalis yang begitu kritis, namun di sisi lain ia mampu bertransformasi menjadi seorang pencipta imaji dalam novel-novel karangannya.
Pada akhirnya, kritik kedua teman itu bisa jadi masukan yang baik juga. Mungkin saya hanya perlu lebih banyak memaparkan tema yang santai dengan bahasa nonformal di media ini.
Anggap saja semacam berlatih meracik sebuah cita rasa baru.
Yaah..seenggaknya ngebuktiin ke diri sendiri (sukur-sukur ke orang lain) kalo gue ini masih “normal” kok. Masih suka ngelawak (seolah anggota srimulat), sering meracau nggak jelas, bikin gegalauan dan gegombalan yang absurd, dan tentunya selalu suka mainin kata buat menghibur umat manusia :p
Karena, sumpah, gue ini anaknya nyantee kok nyanteee!!! *nyante tapi kok banyak tanda serunya -..-”
Karena di dunia ini nggak ada yang namanya win-win solution! Nggak akan pernah ada!
Kalo emang yang namanya win-win solution itu bener ada, nggak akan ada perang atau penjajahan di muka bumi ini.
Kalo emang yang namanya win-win solution itu bener ada, nggak akan ada korupsi atau kriminalitas di belahan dunia manapun.
Kalo emang yang namanya win-win solution itu bener ada, manusia bisa hidup damai sejahtera sejak zaman purbakala.
Tapi win-win solution itu sayangnya cuma berlaku di film, novel, atau apapun yang dikarang sama manusia. Dan sayangnya lagi, manusia nggak bisa mengarang kenyataan. Jadi, jangan lantas kecewa kalo dalam hidup ini lo nggak menemukan kisah seperti di film-film. Si baik menang dan si jahat kalah lalu dunia kembali damai.
Nggak ada!
Berhubung win-win solution itu cuma pepesan kosong, maka janganlah ngarep bahwa lo bisa selalu mendapatkan keadilan, bisa selalu hidup senang tanpa masalah.
Tapi, menurut gue, semua masalah itu bisa diselesaikan.
Ini semua cuma soal kedewasaan dan waktu.
Kedewasaan untuk berpikir logis, dan bukan bertingkah seperti anak kecil.
Dan kalo kedewasaan itu tetep nggak dateng-dateng, berharaplah sama waktu.
Karena cuma waktu yang bisa menyembuhkan setiap luka.